Rumah Baca Pitaloka Gelar Diskusi Publik ´Menuju Depok Writers Festival`

photo author
Setiyo Bardono, Tinemu
- Minggu, 14 Juli 2024 | 09:56 WIB
Foto bersama seusai Diskusi Publik bertajuk Menuju Depok Writers Festival di Rumah Baca Pitaloka, Depok, pada Sabtu, 13 Juli 2024. (Dokumentasi Rumah Baca Pitaloka)
Foto bersama seusai Diskusi Publik bertajuk Menuju Depok Writers Festival di Rumah Baca Pitaloka, Depok, pada Sabtu, 13 Juli 2024. (Dokumentasi Rumah Baca Pitaloka)

TINEMU.COM - Festival sastra dan budaya marak digelar di berbagai wilayah di Indonesia. Sebut saja Ubud Writers and Readers Festival (UWRF}, Borobudur Writers and Cultural Festival (BWCF), Makassar International Writers Festival (MIWF), Balige Writers Festival (BWF) dan banyak lagi.

Bagaimana dengan Kota Depok yang memiliki banyak seniman dan budayawan? Pertanyaan itu mendorong Rumah Baca Pitaloka menggelar Diskusi Publik bertajuk “Menuju Depok Writers Festival” di Kukusan, Beji, Kota Depok pada Sabtu, 13 Juli 2024.

Direktur Utama Pitaloka Foundation yang juga sastrawan Damhuri Muhammad menjelaskan bahwa peran dan sepak terjang festival-festival ini telah memperlihatkan bahwa even berkala yang mengusung literasi dan seni dengan teragenda rupanya dapat bertahan mendukung ekosistem kebudayaan lokal di tiap wilayah.

Baca Juga: SECONDATE Luncurkan Clear Browcara Secara Eksklusif di Shopee

Sebutlah BWCF yang banyak mengusung tema dari sejarah cagar budaya, manuskrip lama, folklore hingga arkeologi. Tentu aja isu ini diangkat di tengah pelaksanaan agenda tentang sastra yang menjadi hajat utama para penulis literasi masa kini.

Diskusi di Rumah Baca Pitaloka yang didirikan dan didukung oleh artis dan Anggota DPR RI Rieke Diah Pitaloka ini menjadi awal diskusi yang akan berkelanjutan dan terus dilaksanakan ke depannya.

"Untuk kali ini, tema tentang festival. Diskusi selanjutnya memang akan diarahkan pada isu kebudayaan juga kesenian lintas genre. Berbagai tematik akan diangkat pada setiap diskusi yang digelar," papar Damhuri.

Baca Juga: 'Kaka Boss' Angkat Komedi Keluarga Indonesia Timur

Damhuri berharap keberadaan beberapa festival yang intens dan terjaga pelaksanaannya dapat mendukung obyek pemajuan kebudayaan baik di skala provinsi dan nasional.

Menurutnya, kesuksesan festival yang telah diselenggarakan oleh para penggeraknya itu dapat menjadi bahan pembelajaran, ajang tukar pengalaman melalui diskusi yang interaktif.

"Diskusi semacam ini diharapkan dapat menjadi awal untuk terlaksananya festival di wilayah lain di seluruh Indonesia terutama di Depok," ujar Damhuri.

Baca Juga: Resmi Selesai, Program Pertukaran Mahasiswa Merdeka Angkatan 4 Cetak Rekor Peserta Terbanyak

Keberadaan festival hendaknya dapat mendukung dunia seni dan literasi, sekaligus mendukung ekosistem kebudayaan di masyarakat.

Diskusi publik ini menghadirkan narasumber Imam Muhtarom selaku Kurator Borobudur Writers and Cultural Festival (BWCF) dengan moderator penyair Sihar Ramses Simatupang.

Halaman:
Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel
di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.

Editor: Setiyo Bardono

Tags

Artikel Terkait

Rekomendasi

Terkini

Memahami Filosofi Warna dalam Budaya Bali

Jumat, 17 April 2026 | 07:58 WIB

Puisi Hafiz Shirazi Lebih Berbahaya dari Filsafat?

Sabtu, 11 April 2026 | 18:29 WIB

'Warung Pocong', Ketika Komika Main Film Horor

Senin, 6 April 2026 | 14:18 WIB

'Pelangi di Mars', Kecantikan Visual yang Kosong

Senin, 16 Maret 2026 | 13:11 WIB

Cerpen: Kain Putih untuk Malam Terakhir

Jumat, 27 Februari 2026 | 22:58 WIB

'Titip Bunda di Surga-Mu' Tak Sekedar Mengharu Biru

Sabtu, 14 Februari 2026 | 12:49 WIB
X