temu-serasi

Toko(h) Buku

Selasa, 11 Maret 2025 | 09:26 WIB
Suasana di Sebuah Toko Buku (Grok)

Wajarlah ia mendeklarasikan toko buku itu hidup!

Toko buku dalam novel berjudul The Thirteenth Tale berada di negeri asing. Kita menemukan ketakjuban sambil memikirkan peradaban buku telah terbentik di sana selama sekian abad.

Kita ingin mengetahui nasib toko buku beralamat di Indonesia. Kunjungan tetap dalam cerita. Kita masuk dalam Toko Buku Abadi (2024) gubahan Yudhi Herwibowo.

Baca Juga: Sejarah Panjang Diciptakan Minyakita yang Kini Telah Melenceng dari Tujuannya

Dua tokoh berusia tua mencipta kehidupan berbeda dengan sekian perkara tertinggal di masa lalu. Yudhi Herwiboro mencampur masa lalu dan masa depan merujuk buku.

Kita membaca keputusan di hari tua: “Saat rumah itu selesai direnovasi, Ganda Soedjara membangun sebuah bangunan baru di halaman depan rumah. Bangunan itu kemudian dijadikan toko buku….”

Keinginan sudah dimiliki sejak lama. Tahun-tahun berlalu, toko buku bisa diwujudkan mendapat nama Toko Buku Abadi.

Lelaki dan perempuan itu bercakap mengenai toko buku dan waktu. Mereka tak sedang berbisnis untung meraih untung besar. Konon, membuat dan memiliki toko buku “untuk mengisi hari-hari kita”.

Baca Juga: Sebelum Ditemukan Mentan, Ternyata Mendag Sudah Pernah Tutup 1 Pabrik Minyakita

Perempuan itu kalem mengatakan situasi bakal dialami: “Toko buku selalu sepi. Kita bisa menghabiskan waktu dengan membaca.” Para pembaca mungkin iri ingin menikmati masa tua bersama buku.

Di situ, ada ketetapan: waktu dan buku. Duit bukan perkara terpenting.

Mereka dalam girang meski perlahan sadar: raga telah menua. Kemampuan membaca buku tak sekuat masa lalu. Pengarang memberi penjelasan: “Di usia-usia seperti itu, huruf-huruf di atas kertas tak henti bergerak dan mengabur tiba-tiba, lalu lenyap entah ke mana.”

Kecukupan bahagia itu mewujudkan Toko Buku Abadi. Pengarang mengalamatkan toko berada di Indonesia.

Baca Juga: Hari Musik Nasional ke-12: Kemenekraf Dorong Ekosistem Musik yang Lebih Maju

Pada abad XXI, kita membaca manusia dan toko buku. Di situ, ada pamrih-pamrih kenikmatan bersama buku melampaui hitungan laba. Toko sepi justru memberi kedamaian dan kebenaran dalam ibadah membaca buku.

Halaman:

Tags

Terkini

Memahami Filosofi Warna dalam Budaya Bali

Jumat, 17 April 2026 | 07:58 WIB

Puisi Hafiz Shirazi Lebih Berbahaya dari Filsafat?

Sabtu, 11 April 2026 | 18:29 WIB

'Warung Pocong', Ketika Komika Main Film Horor

Senin, 6 April 2026 | 14:18 WIB

'Pelangi di Mars', Kecantikan Visual yang Kosong

Senin, 16 Maret 2026 | 13:11 WIB

Cerpen: Kain Putih untuk Malam Terakhir

Jumat, 27 Februari 2026 | 22:58 WIB

'Titip Bunda di Surga-Mu' Tak Sekedar Mengharu Biru

Sabtu, 14 Februari 2026 | 12:49 WIB