TINEMU.COM - Buku-buku di rumah. Buku-buku di tempat dinamakan perpustakaan. Buku-buku berada dalam museum. Buku pun menghuni kamar atau mobil. Di pengertian publik, tempat mencari buku mendapat sebutan toko buku.
Konon, toko itu tempat datang-pergi buku-buku. Toko dihuni buku-buku dalam kepentingan penjualan dan pembelian. Sekian buku kadang menghuni lama sampai toko itu bangkrut.
Ada buku-buku sekadar mampir dalam hitungan waktu pendek sebelum meninggalkan toko. Di pengalaman orang-orang, toko buku biasa dianggap tempat untuk buku-buku baru meski ada pengisahan panjang mengenai toko menjual buku-buku bekas, kuno, atau lama.
Baca Juga: Good Morning Everyone Lantunkan Doa Dalam Nada
Kita mengunjungi toko berselera antik atau lama. Kunjungan di novel berjudul The Thirteenth Tale (2008) gubahan Diane Setterfield. Pengarang bercerita Toko Buku Antik Lea.
Tokoh dalam pengalaman berulang dan mendalam. Adegan saat masuk toko: “Segera saja, bau kulit dan kertas tua merebak. Aku meraba punggung buku-buku itu seperti pianis meraba tuts-tuts piano.” Ia terlalu mengenali buku-buku dalam toko.
Toko sering sepi dengan sedikit pengunjung. Nasib toko ditentukan jenis-jenis buku dijual dan pamrih dari pemilik. Toko buku ada bukan dalam kepentingan mencipta ramai atau meraih keuntungan uang saja.
Baca Juga: Reconcile Jelajahi Perjalanan Emosional Dari Realita Yang Semu
Toko mendapat tuduhan “hampir tidak menghasilkan uang” meski pemilik melakukan jual-beli buku antik tetap memerlukan alamat di toko.
Jumlah buku dalam penjualan terbatas tapi sering dalam angka-angka besar. Kita mengandaikan toko buku itu memang memiliki kiblat antik berakibat minoritas.
Pengertian diberikan agar mudah diimajinasikan pembaca: “Toko ini adalah tempat penyimpanan buku, tempat yang aman untuk buku-buku yang pada masa silam ditulis dengan penuh cinta tapi sekarang sepertinya tak diinginkan siapa pun.”
Buku itu waktu. Pemilik sengaja mencari dan mengumpulkan buku-buku berumur tua atau masuk kategori antik. Buku dari masa silam, buku perlahan tinggal sedikit di dunia. Buku bakal diperebutkan para kolektor berani menghamburkan uang.
Baca Juga: Ada Korupsi di PLN,Kok Bisa?
Tokoh Lea dalam novel gubahan Diane Setterfield lugas mengatakan: “Toko ini adalah hidupku.” Setiap hari, ia berada dalam toko. Ia menunaikan ibadah membaca dan menulis.
Ia pun mengalami peruntungan dan kebingungan selama berakraban dengan buku-buku antik. Peristiwa lazim tentu meladeni para pengunjung atau pembeli. Di toko buku, tokoh bertambah sakti dan mengerti segala hal.
Artikel Terkait
Peneliti BRIN Kaji Cerita Lisan di Alor dan Toleransi Beragama di Era Majapahit
Berdering dan Kesepian
Alam dan Iman
Membedah Puisi "Aku Ingin" dengan Kacamata Filsafat