temu-serasi

Seabad Pramoedya Ananta Toer, Dari Sastra Hingga Perlawanan

Kamis, 13 Maret 2025 | 08:08 WIB
Diskusi sastra “Seratus Tahun Pramoedya Ananta Toer: Dari Sastra ke Sejarah, dari Kemanusiaan ke Perlawanan”. (Humas BRIN)

TINEMU.COM - Pramoedya Ananta Toer yang akrab disapa Pram, dikenal sebagai seorang sastrawan, kritikus kebudayaan, serta aktivis politik dan sosial yang karyanya sangat berpengaruh dan masih dibaca luas hingga saat ini.

Pram tidak hanya dikenang sebagai sastrawan besar, tetapi juga sebagai pemikir yang menyuarakan keadilan dan inklusivitas dalam masyarakat.

Sosok dan karya-karya Pram dikupas dalam diskusi sastra “Seratus Tahun Pramoedya Ananta Toer: Dari Sastra ke Sejarah, dari Kemanusiaan ke Perlawanan”, pada Kamis, 6 Maret 2025. Diskusi ini digelar oleh Pusat Riset Manuskrip, Literatur, dan Tradisi Lisan (PR MLTL) BRIN bekerja sama dengan Himpunan Sarjana Kesusastraan Indonesia Komisariat Nusa Tenggara Barat (HISKI NTB).

Baca Juga: Kemkomdigi Luncurkan MudikPedia Lebaran 2025, Panduan Lengkap Bagi Pemudik

Kepala PR MLTL BRIN, Sastri Sunarti mengaku mengenal karya-karya Pram pada tahun 80-an awal ketika menjadi mahasiswa. Saat itu, untuk anak daerah karya-karya Pram masih menjadi suatu karya sastra yang elit.

“Kami mendapatkan buku Bumi Manusia itu dari kakak kelas yang baru selesai S2 di UGM. Kami ramai-ramai membaca buku itu pada saat itu dan buku itu masih dilarang dibaca. Syukurnya, Hasta Mitra memudahkan kita mendapatkan dan membaca semua karya-karya Pram sampai dicetak ulang kembali,” kisahnya.

Sastri mengakui pencapaian Pram, sebagai sastrawan Indonesia yang telah meninggalkan karya-karya luar biasa. “Pram tidak hanya dikenang sebagai seorang tokoh sastra yang hebat, tetapi juga pada pemikiran dan karyanya,” tegasnya.

Baca Juga: Unik! Pecel Madiun Jadi Nama Spesies Baru Cecak Jarilengkung

Ketua HISKI NTB, Syukrina Rahmawati mengatakan setiap novel Pram selalu menjadi wawasan bagaimana Indonesia menghadapi konflik dan serangan balik secara verbal maupun nonverbal, yang tentu saja dengan imajinasinya yang luar biasa.

“Kisah-kisah tersebut diselimuti berbagai irama kisah yang lain, seperti romantisme dan kekuatan karakter tokoh-tokoh dalam cerita,” tuturnya.

Baginya, karya-karya Pram merepresentasikan kisah manusia dari seluruh penjuru negeri, tak hanya dapat direlevansikan dengan apa yang terjadi di Indonesia saja.

Baca Juga: Ini Dia AMPS Records Label Rekaman Khusus Musik Metal!

Narasi Pram

Sejarawan dan aktivis, Hilmar Farid menyampaikan bahwa dalam karya-karyanya, terutama Tetralogi Buru, Pram menawarkan perspektif sejarah yang berbeda dari narasi dominan. Ia menampilkan tokoh-tokoh yang terpinggirkan dan menyoroti bagaimana sistem kolonial bekerja sebagai totalitas yang menindas.

Halaman:

Tags

Terkini

Memahami Filosofi Warna dalam Budaya Bali

Jumat, 17 April 2026 | 07:58 WIB

Puisi Hafiz Shirazi Lebih Berbahaya dari Filsafat?

Sabtu, 11 April 2026 | 18:29 WIB

'Warung Pocong', Ketika Komika Main Film Horor

Senin, 6 April 2026 | 14:18 WIB

'Pelangi di Mars', Kecantikan Visual yang Kosong

Senin, 16 Maret 2026 | 13:11 WIB

Cerpen: Kain Putih untuk Malam Terakhir

Jumat, 27 Februari 2026 | 22:58 WIB

'Titip Bunda di Surga-Mu' Tak Sekedar Mengharu Biru

Sabtu, 14 Februari 2026 | 12:49 WIB