Baca Juga: Cegah Judol, Kemkomdigi dan Gojek Luncurkan Kampanye #JudiPastiRugi
Selain itu, surat-surat dan peristiwa seputar Hoa Kiau di Indonesia menyoroti bagaimana keturunan Tionghoa di Indonesia kerap mengalami diskriminasi politik. Pram sendiri pernah dipenjara akibat tulisannya yang dianggap membahayakan negara.
“Meskipun karyanya dulu dilarang, saat ini buku-bukunya semakin populer di kalangan generasi muda, menunjukkan ketertarikan yang tinggi terhadap sejarah dan kemanusiaan. Nobel mungkin tidak diraihnya, tetapi warisan pemikirannya tetap hidup dalam literatur dan pemahaman sejarah bangsa,” ungkapnya.
Penulis dan sejarawan, Max Lane mengatakan bahwa pemikiran pemuda Indonesia pada akhir 1950-an hingga 1980-an sangat dipengaruhi oleh konsep kebangsaan dan kelas. Dalam novel Pram berjudul Bumi Manusia dan Anak Semua Bangsa, Pram menggambarkan proses penciptaan bangsa Indonesia yang memerlukan batas teritorial, ekonomi bersama, bahasa nasional, serta kebudayaan baru.
Baca Juga: Toko(h) Buku
Kelas sosial juga berperan, dengan perbedaan antara priyayi yang bergantung pada jabatan dengan rakyat yang mencari penghidupan sendiri.
Pram juga mengkritisi kapitalisme kolonial dan menggambarkan bagaimana kaum kapitalis pribumi seperti Nyai Ontosoroh dan Tirto Adhi Soerjo mengalami penindasan atau pengasingan.
Dalam novel Jejak Langkah dan Rumah Kaca, ia menunjukkan bahwa kapitalis dalam negeri kesulitan berkembang, sementara pergerakan kiri menghadapi represi, yang akhirnya membentuk lanskap politik Indonesia pada abad ke-20.***
Artikel Terkait
Peringati Ulang Tahun ke-4, Jagat Sastra Milenia Luncurkan 2 Buku
Pentas Karya Komunitas Sastra dan Literasi 2024: Unjuk Karya Penerima Bantuan Pemerintah
Kabar Gembira! Kusala Sastra Khatulistiwa Digelar Lagi Tahun Ini
Pram di Jalan Bahasa Indonesia
Cerita, Pram dan Tagore