TINEMU.COM - Ada satu pertanyaan sederhana namun penting: mengapa seseorang memilih pulang, ketika banyak orang lain memilih tinggal?
Tahun 1957, Indonesia masih bergolak. Nasionalisasi perusahaan Belanda, isu Irian Barat, dan ketidakpastian ekonomi membuat banyak lulusan Indonesia di Eropa ragu kembali ke tanah air. Namun, seorang anak Bogor bernama Hendra Hadiprana—yang baru saja menyelesaikan studi arsitektur dan desain interior di Belanda—memutuskan sebaliknya. Ia pulang.
Pulang, bagi Hendra, bukan sekadar urusan geografis. Itu adalah pernyataan sikap. Ia pulang dengan membawa keyakinan bahwa seni dan budaya Indonesia lebih pantas diperjuangkan daripada sekadar kenyamanan hidup di negeri orang.
Dan dari keputusan “nekat” itulah, jejak panjang seorang arsitek sekaligus kolektor seni terbangun.
Seni sebagai Napas, Bukan Dekorasi
Hendra, atau yang akrab disapa Om Henk, sejak awal menolak melihat seni sebagai tempelan. Baginya, arsitektur bukan hanya urusan ruang yang efisien, melainkan ruang yang bernapas—dan napas itu adalah seni.
Pengalaman awalnya melihat karya Penyaliban Yesus milik Gregorius Sidharta di Hotel Des Indes menjadi semacam pencerahan. Ia tidak hanya terpikat oleh visualnya, tapi juga oleh perasaan bahwa sebuah karya seni dapat mengubah makna ruang. Dari sana lahir koleksi pertamanya, lalu tumbuh menjadi cinta seumur hidup pada seni rupa modern Indonesia.
Kecintaannya itu melahirkan Galeri Hadiprana, yang dibangun pada 1962 dan kemudian dikenal luas sebagai galeri seni pertama di Indonesia. Galeri ini bukan sekadar tempat berpameran, melainkan ruang yang menegaskan bahwa seni bisa hidup di tengah masyarakat, bukan hanya di ruang elitis.
Persahabatan sebagai Koleksi
Banyak kolektor membeli karya demi investasi. Hendra berbeda. Ia mengoleksi karya sekaligus mengoleksi persahabatan. Para seniman yang pernah ia dukung—dari maestro seperti Srihadi, Sadali, Jeihan, hingga perupa muda Bali—seringkali bukan hanya mitra, melainkan sahabat dekat.
Di titik inilah terlihat betapa uniknya posisi Hendra. Ia tidak hanya mempertemukan karya dengan ruang, tapi juga mempertemukan manusia dengan manusia. Relasi itu, yang dibangun dengan tulus, membuat banyak seniman merasa bahwa Hadiprana bukan sekadar kolektor, melainkan “rumah” yang bisa dipercaya.
Napak Tilas, Bukan Nostalgia
Kini, bertahun-tahun setelah kepergiannya, keluarga Hendra Hadiprana menggelar Pameran Retrospeksi “Napak Tilas Seni” (23 Agustus – 15 September 2025). Sekilas, ini tampak seperti pameran mengenang masa lalu. Tapi sebenarnya ia lebih mirip ajakan untuk tidak melupakan sesuatu yang esensial: bahwa seni adalah ingatan hidup.
Putrinya, Puri Hadiprana, menyebut bahwa pameran ini adalah perayaan kelahiran ayah sekaligus peringatan 80 tahun Indonesia merdeka. Dua momen ini bertemu dalam satu bingkai: merayakan keberanian untuk kembali ke akar, meski zaman terus berubah.