“Napak tilas,” kata Puri, “adalah saat semua orang tak meninggalkan sejarah. Koleksi-koleksi ini meneguhkan bahwa seni itu jujur dan dicintai dengan hati di tiap era.”
Di ruang pamer, pengunjung akan menemukan karya-karya maestro yang pernah dikoleksi Om Henk, tetapi juga jejak seniman muda yang sempat ia dampingi. Sebuah lintasan generasi yang menunjukkan bahwa seni Indonesia, sejak dulu hingga kini, tidak pernah kehilangan tenaga.
Warisan Sebuah Sikap
Warisan terbesar Hendra Hadiprana barangkali bukan bangunan, bukan pula koleksi lukisan. Warisan itu adalah sikap—bahwa seni dan arsitektur tidak bisa dipisahkan dari kehidupan, bahwa memilih pulang bisa lebih bermakna daripada tinggal, dan bahwa persahabatan bisa menjadi pondasi ekosistem seni yang sehat.
Ia pernah berkata: “Arsitektur adalah cara hidup, sebuah sikap untuk menghargai seni dan budaya. Arsitektur dan seni-budaya adalah bagian integral dan tak terpisahkan.”
Kalimat ini terasa seperti pesan lintas waktu. Bahwa di tengah dunia yang kian praktis, ada yang tetap harus dijaga: seni sebagai napas, bukan sekadar dekorasi.
Maka “Napak Tilas Seni” bukan sekadar nostalgia. Ia adalah pengingat: bahwa keberanian pulang, kecintaan pada budaya sendiri, dan persahabatan yang tulus dengan seniman bisa melahirkan sesuatu yang lebih panjang umurnya daripada sekadar sebuah galeri.***