Napak Tilas Om Henk: Seni, Arsitektur, dan Keberanian Pulang

photo author
Zabidi Sayidi, Tinemu
- Kamis, 21 Agustus 2025 | 17:22 WIB
Pameran Retrospeksi karya koleksi ‘NAPAK TILAS SENI’ Hadiprana Gallery, Ground Floor, Jl. Kemang Raya No.30 Jakarta Selatan, DKI Jakarta
Pameran Retrospeksi karya koleksi ‘NAPAK TILAS SENI’ Hadiprana Gallery, Ground Floor, Jl. Kemang Raya No.30 Jakarta Selatan, DKI Jakarta

“Napak tilas,” kata Puri, “adalah saat semua orang tak meninggalkan sejarah. Koleksi-koleksi ini meneguhkan bahwa seni itu jujur dan dicintai dengan hati di tiap era.”

Di ruang pamer, pengunjung akan menemukan karya-karya maestro yang pernah dikoleksi Om Henk, tetapi juga jejak seniman muda yang sempat ia dampingi. Sebuah lintasan generasi yang menunjukkan bahwa seni Indonesia, sejak dulu hingga kini, tidak pernah kehilangan tenaga.

Foto dok Hadiprana
Foto dok Hadiprana

Warisan Sebuah Sikap

Warisan terbesar Hendra Hadiprana barangkali bukan bangunan, bukan pula koleksi lukisan. Warisan itu adalah sikap—bahwa seni dan arsitektur tidak bisa dipisahkan dari kehidupan, bahwa memilih pulang bisa lebih bermakna daripada tinggal, dan bahwa persahabatan bisa menjadi pondasi ekosistem seni yang sehat.

Ia pernah berkata: “Arsitektur adalah cara hidup, sebuah sikap untuk menghargai seni dan budaya. Arsitektur dan seni-budaya adalah bagian integral dan tak terpisahkan.”

Kalimat ini terasa seperti pesan lintas waktu. Bahwa di tengah dunia yang kian praktis, ada yang tetap harus dijaga: seni sebagai napas, bukan sekadar dekorasi.

Maka “Napak Tilas Seni” bukan sekadar nostalgia. Ia adalah pengingat: bahwa keberanian pulang, kecintaan pada budaya sendiri, dan persahabatan yang tulus dengan seniman bisa melahirkan sesuatu yang lebih panjang umurnya daripada sekadar sebuah galeri.***

Halaman:
Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel
di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizinĀ redaksi.

Editor: Zabidi Sayidi

Tags

Rekomendasi

Terkini

Memahami Filosofi Warna dalam Budaya Bali

Jumat, 17 April 2026 | 07:58 WIB

Puisi Hafiz Shirazi Lebih Berbahaya dari Filsafat?

Sabtu, 11 April 2026 | 18:29 WIB

'Warung Pocong', Ketika Komika Main Film Horor

Senin, 6 April 2026 | 14:18 WIB

'Pelangi di Mars', Kecantikan Visual yang Kosong

Senin, 16 Maret 2026 | 13:11 WIB

Cerpen: Kain Putih untuk Malam Terakhir

Jumat, 27 Februari 2026 | 22:58 WIB

'Titip Bunda di Surga-Mu' Tak Sekedar Mengharu Biru

Sabtu, 14 Februari 2026 | 12:49 WIB
X