Antin Sambodo, misalnya, mengambil inspirasi dari kemuncak atap berbentuk burung, lalu menerjemahkannya menjadi TERRA Kota—sebuah lanskap mini yang menghadirkan kota tanah liat. Di sana, gema arsitektur tradisional bertemu dengan citra urban modern. Ia seakan mengingatkan kita bahwa kota, meski dipenuhi beton, tetap berdiri di atas tanah yang sama.
Dona Prawita Arissuta menghadirkan Jiwanmukta, karya yang memanfaatkan tanah liat Bayat dengan pigmen dan glasir halus. Ia merumuskan ulang gagasan pluralisme dan kesejahteraan Majapahit sebagaimana tercatat dalam Negarakertagama. Permukaannya yang lembut menghadirkan aura harmonis—sebuah visi tentang masyarakat ideal yang masih relevan hari ini.
Dyah Retno Fitriani justru menyoroti bentuk plempem, saluran air tanah liat kuno, lewat karyanya When the Water Forget. Dengan teknik padat, ia mengingatkan pada pengetahuan teknologi lokal yang sering terlupakan, lalu mengaitkannya dengan isu ekologis kontemporer. Pesannya jelas: tradisi bisa menjadi sumber solusi untuk krisis modern.
Endang Lestari memanfaatkan serbuk terakota Bayat dalam Osmotic Harmony Bowl, menggabungkan karya dua dimensi dan tiga dimensi untuk menciptakan kesatuan visual yang menghubungkan material, spiritual, dan sejarah. Sementara Evy Yonathan menghadirkan Spiritual Blossom, bunga padma keramik yang lembut namun sarat makna pencerahan dan kesucian.
Jenny Lee, dengan karyanya Lotus, mengolah simbol lotus Majapahit menjadi tafsir kosmik, menghubungkannya dengan Surya Majapahit dan arah mata angin. Lisa Sumardi menggunakan bentuk celengan babi—ikon kemakmuran Majapahit—untuk memberi komentar kritis tentang dunia finansial digital.
Nia Gautama, melalui Timeless, membangun horizon waktu dengan susunan ornamen dan mandala, menegaskan bahwa seni adalah jalan menuju keabadian meski hidup bersifat fana.
Sekar Puti Sidhiawati menampilkan Remain(s) Calm, refleksi tentang peran perempuan yang dipersepsikan kuat sekaligus dibatasi. Noor Sudiyati menghadirkan Pataka Nareswara dan Tombak Majapahit, menyematkan nilai kepemimpinan dan keteguhan.
Sementara Tisa Granicia, lewat Urban Temple, mengeksplorasi konstruksi modular ala candi Majapahit, memberi metafora tentang keterputusan kita dengan sejarah, sekaligus membuka kemungkinan menyambungkannya kembali.
Melalui karya-karya ini, kita melihat bagaimana simbol Majapahit dihidupkan kembali: bukan sebagai replika, melainkan sebagai percakapan dengan isu urbanisasi, identitas, ekologi, hingga spiritualitas.
Warisan sebagai Manuskrip Terbuka
Dari pameran ini, kita diajak melihat warisan budaya sebagai manuskrip terbuka. Sejarah bukanlah teks suci yang tidak boleh diubah, melainkan narasi yang bisa ditulis ulang oleh generasi baru. Benda-benda Majapahit memberi kita akar, tetapi tafsir para seniman membuat akar itu berbuah kembali dalam bentuk lain.
Inilah kekuatan seni: ia membuat masa lalu tidak pernah selesai. Sejarah bisa direpresentasikan ulang, dirombak, atau dialihbahasakan ke dalam bahasa visual yang baru. Dan setiap tafsir, betapapun berbeda, justru memperkaya makna warisan itu sendiri.
Kurasi sebagai Jembatan
Semua percakapan kreatif ini tentu tidak hadir begitu saja. Ia dirancang dengan teliti oleh tim kurator yang melihat pentingnya mempertemukan dua garis waktu tersebut. Di bawah arahan Sudjud Dartanto sebagai Kurator Utama, pameran ini dibangun bukan sekadar sebagai perbandingan visual, tetapi sebagai ruang dialog.
Pendekatan Sudjud menekankan pentingnya gerak—bagaimana ide, simbol, dan material melintasi batas zaman, lalu menemukan bentuk baru dalam konteks kontemporer.