Pameran Terra Motion: Menyambung Jejak Majapahit di Museum Seni Rupa dan Keramik

photo author
Zabidi Sayidi, Tinemu
- Rabu, 27 Agustus 2025 | 12:22 WIB
Karya-karaya yang terpajang dalam Pameran Terra Motion di Museum Seni Rupa dan Keramik
Karya-karaya yang terpajang dalam Pameran Terra Motion di Museum Seni Rupa dan Keramik

TINEMU.COM - Di Museum Seni Rupa Keramik yang berada di Kota Tua Jakarta, berdiri sebagai saksi perjalanan panjang seni Indonesia. Dari gedung pengadilan kolonial hingga ruang apresiasi budaya, tempat ini kini menghadirkan lebih dari sekadar karya visual: ia menjadi ruang pertemuan sejarah, kreativitas, dan identitas bangsa.

Dari sinilah jejak panjang seni keramik di Nusantara menemukan rumahnya: sebuah kisah yang bergerak lintas zaman, dari fungsi sehari-hari hingga menjadi medium ekspresi artistik.

Jejak Panjang Seni Keramik di Nusantara - Sejarah seni keramik di Indonesia bukanlah kisah singkat yang hanya hadir dalam satu babak. Ia adalah aliran panjang yang menyeberangi zaman, bergerak dari fungsi sehari-hari hingga menjadi medium ekspresi artistik.

Sejak masa prasejarah, nenek moyang kita telah mengolah tanah liat menjadi wadah sederhana untuk menyimpan air, memasak, atau menyimpan hasil bumi. Kesederhanaan itu justru menandai sebuah titik penting: manusia mulai membentuk relasinya dengan tanah bukan sekadar sebagai pijakan, tetapi juga sebagai sumber daya kreatif.

Perjalanan itu mencapai puncak penting pada masa Majapahit, sekitar abad ke-13 hingga ke-15. Dari pusat kerajaan di Trowulan, kita menemukan jejak terakota yang begitu kaya: genteng berhias, kemuncak atap berbentuk burung, kendi, patung manusia dan hewan, miniatur rumah, hingga saluran air yang rumit.

Benda-benda ini bukan hanya artefak teknis, tetapi juga menyimpan makna kosmologis, spiritual, dan sosial. Ia adalah “bahasa tanah” yang berbicara tentang bagaimana sebuah peradaban melihat dirinya sendiri.

Majapahit, sebagai kerajaan besar yang berjejaring luas lewat perdagangan dan diplomasi, memperlakukan keramik bukan sekadar barang rumah tangga. Ia juga menjadi simbol prestise, sekaligus tanda bahwa masyarakatnya memiliki teknologi, estetika, dan kosmologi yang terjalin rapat. Dengan kata lain, keramik adalah cermin zaman.

Karya-karya yang terpajang dalam Pameran Terra Motion di Museum Seni Rupa dan Keramik
Karya-karya yang terpajang dalam Pameran Terra Motion di Museum Seni Rupa dan Keramik

Keramik: Dari Fungsi ke Ekspresi

Jika pada awalnya keramik dibuat untuk fungsi praktis, seiring waktu ia berkembang menjadi wadah ekspresi estetika. Tanah liat yang lunak, ketika dibentuk lalu dibakar, menjadi medium yang abadi. Dari situ lahirlah gagasan bahwa benda sederhana pun bisa membawa makna yang melampaui kegunaannya.

Sejak abad ke-20, terutama setelah seni rupa modern Indonesia berkembang, keramik semakin diperlakukan sebagai media seni. Seniman tidak hanya membuat wadah, tetapi juga memanfaatkan tanah liat untuk bereksperimen dengan bentuk, tekstur, hingga narasi visual. Keramik menjadi bagian dari diskursus seni kontemporer, sejajar dengan lukisan, patung, dan instalasi.

Di titik inilah, pameran Terra Motion: Routes, Rites, Roots menemukan relevansinya. Ia mempertemukan dua garis waktu: Majapahit sebagai warisan, dan seni keramik kontemporer sebagai penciptaan baru. Pertemuan ini menghasilkan ruang dialog yang kaya: bagaimana benda masa lalu bisa dihidupkan kembali dalam konteks masa kini, tanpa kehilangan akar tradisinya.

Arsip Hidup dari Tanah

Koleksi Majapahit yang ditampilkan dalam pameran ini—dari kemuncak atap berbentuk burung hingga saluran air—bisa dilihat sebagai “arsip hidup”. Mereka tidak diam, meski sudah berusia ratusan tahun. Setiap kali benda itu dipandang, ditafsirkan ulang, atau dijadikan inspirasi, ia memperoleh kehidupan baru.

Tanah liat, atau terra, adalah medium yang unik. Ia berasal dari bumi, dibentuk oleh tangan, lalu diperkeras oleh api. Proses ini membuatnya seakan menyimpan memori: tentang siapa yang membuat, untuk apa, dan bagaimana ia diperlakukan.

Ketika benda-benda Majapahit itu dipajang berdampingan dengan karya seniman masa kini, terlihatlah sebuah garis gerak: dari akar (roots), melalui jalur sosial dan budaya (routes), lalu mengalami ritus kreatif (rites) yang melahirkan tafsir baru.

Seniman dan Tafsir Kontemporer

Sebelas seniman yang terlibat dalam pameran ini tidak sekadar menyalin bentuk Majapahit. Mereka merespons, menafsir, bahkan menguji ulang makna simbolik dari benda-benda itu.

Halaman:
Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel
di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizinĀ redaksi.

Editor: Zabidi Sayidi

Tags

Rekomendasi

Terkini

Memahami Filosofi Warna dalam Budaya Bali

Jumat, 17 April 2026 | 07:58 WIB

Puisi Hafiz Shirazi Lebih Berbahaya dari Filsafat?

Sabtu, 11 April 2026 | 18:29 WIB

'Warung Pocong', Ketika Komika Main Film Horor

Senin, 6 April 2026 | 14:18 WIB

'Pelangi di Mars', Kecantikan Visual yang Kosong

Senin, 16 Maret 2026 | 13:11 WIB

Cerpen: Kain Putih untuk Malam Terakhir

Jumat, 27 Februari 2026 | 22:58 WIB

'Titip Bunda di Surga-Mu' Tak Sekedar Mengharu Biru

Sabtu, 14 Februari 2026 | 12:49 WIB
X