temu-serasi

Pameran Terra Motion: Menyambung Jejak Majapahit di Museum Seni Rupa dan Keramik

Rabu, 27 Agustus 2025 | 12:22 WIB
Karya-karaya yang terpajang dalam Pameran Terra Motion di Museum Seni Rupa dan Keramik

Dua Asisten Kurator, Smita Parama dan Bisma Alifardhan Nastia, berperan sebagai penopang yang merawat detail: mulai dari pemilihan karya, penataan ruang, hingga merumuskan narasi yang utuh. Kerja mereka memastikan bahwa pameran ini tidak hanya indah dipandang, tetapi juga kaya makna untuk direnungkan.

Tim kurator ibarat penghubung antara warisan Majapahit, para seniman kontemporer, dan publik. Mereka menyiapkan panggung agar percakapan lintas zaman itu bisa terjadi, terdengar, dan dimaknai bersama.

Waktu dan Ruang Pertemuan

Pameran Terra Motion di Museum Seni Rupa dan Keramik akan berlangsung dari 21 Agustus hingga 21 September 2025, dengan jam kunjung Selasa–Jumat pukul 09.00–15.00 WIB, serta Sabtu–Minggu pukul 09.00–19.00 WIB.

Sebuah ruang di mana masa lalu dan masa kini berdialog melalui bentuk, tekstur, dan makna. Dan yang lebih menggembirakan, pameran ini bisa dinikmati gratis hanya dengan membeli tiket masuk museum.

karya miniatur keramik di ruang pamer

Relevansi di Zaman Kini

Apa arti semua ini bagi kita hari ini? Pertama, pameran ini menunjukkan bahwa warisan budaya bukanlah benda mati yang hanya dipajang di museum. Ia bisa menjadi sumber inspirasi, bahkan solusi, untuk persoalan modern: mulai dari pluralisme sosial hingga isu lingkungan.

Kedua, pameran ini mengingatkan bahwa seni tidak pernah lepas dari masyarakat. Tanah liat yang dulu dipakai Majapahit untuk membuat saluran air kini bisa dipakai seniman untuk berbicara tentang krisis iklim. Celengan babi yang dulu melambangkan kemakmuran kini bisa menjadi kritik terhadap ekonomi digital. Warisan dan kontemporer saling berkelindan, memberi kita cara baru untuk memahami dunia.

Ketiga, pameran ini adalah ajakan untuk berdialog. Ia bukan hanya ruang apresiasi visual, tetapi juga wadah diskusi tentang siapa kita sebagai bangsa: bagaimana kita melihat masa lalu, dan bagaimana kita ingin melangkah ke depan.

Terra Motion: Routes, Rites, Roots adalah bukti bahwa tanah liat tidak pernah diam. Ia menyimpan akar tradisi, tetapi juga bergerak bersama ide-ide baru. Dari Majapahit ke Jakarta modern, dari atap berbentuk burung hingga instalasi kontemporer, keramik terus berbicara tentang perjalanan manusia: tentang rumah, kosmos, air, harmoni, bahkan kegelisahan sosial.***

 

 

Halaman:

Tags

Terkini

Memahami Filosofi Warna dalam Budaya Bali

Jumat, 17 April 2026 | 07:58 WIB

Puisi Hafiz Shirazi Lebih Berbahaya dari Filsafat?

Sabtu, 11 April 2026 | 18:29 WIB

'Warung Pocong', Ketika Komika Main Film Horor

Senin, 6 April 2026 | 14:18 WIB

'Pelangi di Mars', Kecantikan Visual yang Kosong

Senin, 16 Maret 2026 | 13:11 WIB

Cerpen: Kain Putih untuk Malam Terakhir

Jumat, 27 Februari 2026 | 22:58 WIB

'Titip Bunda di Surga-Mu' Tak Sekedar Mengharu Biru

Sabtu, 14 Februari 2026 | 12:49 WIB