Seniman Swiss Paul Husner, yang sejak 1997 banyak berkarya di Bali, menampilkan karya bertema kehidupan ritual masyarakat Bali, seperti Nature and Religion at Blanjong Tempel II (2009) dan Temple Festival in Sidemen (2007). Kehadirannya memperkaya perspektif lintas budaya dalam pameran Neo Gallery.
Syakieb Sungkar: Seni, Filsafat, dan Refleksi Kontemporer
Nama lain yang menarik perhatian adalah Syakieb Sungkar, seniman sekaligus pemikir budaya. Karyanya Queen Cat (2025) berupa patung resin setinggi satu meter menampilkan eksperimen medium dan simbolisme yang kental.
Ruang Dialog Seni
Menurut Stefanus Randy Oenardi Raharjo, keikutsertaan Neo Gallery di Art Jakarta 2025 bukan sekadar menghadirkan karya-karya bernilai tinggi, tetapi juga membuka ruang dialog antara generasi seniman Indonesia dengan wacana seni global.
“Neo Gallery ingin menghadirkan perjalanan panjang seni rupa Indonesia, dari para maestro klasik hingga seniman kontemporer. Ini adalah momen untuk merayakan keberagaman ekspresi dan memperlihatkan bahwa seni kita punya posisi penting di peta dunia,” ujarnya.
Pusat Perhatian di Panggung Global
Kehadiran Neo Gallery di Art Jakarta 2025 memperkuat posisi Indonesia sebagai pusat seni rupa penting di Asia Tenggara. Dengan kombinasi karya klasik dan kontemporer, galeri ini tidak hanya menjadi destinasi kolektor, tetapi juga menghadirkan refleksi atas sejarah dan masa depan seni rupa Indonesia.
Art Jakarta 2025 sendiri diproyeksikan akan dikunjungi lebih dari 40 ribu orang, mulai dari kolektor internasional, kurator, hingga penikmat seni umum. Kehadiran Neo Gallery dengan lineup seniman kelas dunia diyakini akan menjadi salah satu magnet utama dalam penyelenggaraan kali ini. ***