Neo Gallery Hadirkan Deretan Maestro Seni di Art Jakarta 2025

photo author
Zabidi Sayidi, Tinemu
- Jumat, 3 Oktober 2025 | 23:37 WIB
Bapak Benny  Raharjo berpose dengan Queen Cat (2025)  karya Syakieb Sungkar
Bapak Benny Raharjo berpose dengan Queen Cat (2025) karya Syakieb Sungkar

Seniman Swiss Paul Husner, yang sejak 1997 banyak berkarya di Bali, menampilkan karya bertema kehidupan ritual masyarakat Bali, seperti Nature and Religion at Blanjong Tempel II (2009) dan Temple Festival in Sidemen (2007). Kehadirannya memperkaya perspektif lintas budaya dalam pameran Neo Gallery.

Suasan pengunjung pameran di Art jakarta 2025
Suasan pengunjung pameran di Art jakarta 2025

Syakieb Sungkar: Seni, Filsafat, dan Refleksi Kontemporer

Nama lain yang menarik perhatian adalah Syakieb Sungkar, seniman sekaligus pemikir budaya. Karyanya Queen Cat (2025) berupa patung resin setinggi satu meter menampilkan eksperimen medium dan simbolisme yang kental.

Ruang Dialog Seni

Menurut Stefanus Randy Oenardi Raharjo, keikutsertaan Neo Gallery di Art Jakarta 2025 bukan sekadar menghadirkan karya-karya bernilai tinggi, tetapi juga membuka ruang dialog antara generasi seniman Indonesia dengan wacana seni global.

“Neo Gallery ingin menghadirkan perjalanan panjang seni rupa Indonesia, dari para maestro klasik hingga seniman kontemporer. Ini adalah momen untuk merayakan keberagaman ekspresi dan memperlihatkan bahwa seni kita punya posisi penting di peta dunia,” ujarnya.

Pusat Perhatian di Panggung Global

Kehadiran Neo Gallery di Art Jakarta 2025 memperkuat posisi Indonesia sebagai pusat seni rupa penting di Asia Tenggara. Dengan kombinasi karya klasik dan kontemporer, galeri ini tidak hanya menjadi destinasi kolektor, tetapi juga menghadirkan refleksi atas sejarah dan masa depan seni rupa Indonesia.

Art Jakarta 2025 sendiri diproyeksikan akan dikunjungi lebih dari 40 ribu orang, mulai dari kolektor internasional, kurator, hingga penikmat seni umum. Kehadiran Neo Gallery dengan lineup seniman kelas dunia diyakini akan menjadi salah satu magnet utama dalam penyelenggaraan kali ini. ***

Halaman:
Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel
di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizinĀ redaksi.

Editor: Zabidi Sayidi

Tags

Rekomendasi

Terkini

Memahami Filosofi Warna dalam Budaya Bali

Jumat, 17 April 2026 | 07:58 WIB

Puisi Hafiz Shirazi Lebih Berbahaya dari Filsafat?

Sabtu, 11 April 2026 | 18:29 WIB

'Warung Pocong', Ketika Komika Main Film Horor

Senin, 6 April 2026 | 14:18 WIB

'Pelangi di Mars', Kecantikan Visual yang Kosong

Senin, 16 Maret 2026 | 13:11 WIB

Cerpen: Kain Putih untuk Malam Terakhir

Jumat, 27 Februari 2026 | 22:58 WIB

'Titip Bunda di Surga-Mu' Tak Sekedar Mengharu Biru

Sabtu, 14 Februari 2026 | 12:49 WIB
X