'Tale of the Land' Raih Penghargaan FIPRESCI di Busan International Film Festival 2024

photo author
Donny Anggoro, Tinemu
- Minggu, 13 Oktober 2024 | 10:04 WIB
Salah satu adegan film Tale of the Land (foto KawanKawan Media)
Salah satu adegan film Tale of the Land (foto KawanKawan Media)

 

TINEMU.COM- Film persembahan KawanKawan Media yang diproduseri Amerta Kusuma dan Yulia Evina Bhara, serta
menjadi debut penyutradaraan Loeloe Hendra, Tale of the Land memenangkan penghargaan FIPRESCI Prize di Busan International Film Festival (BIFF) 2024. Penghargaan tersebut diumumkan dan diberikan pada 10 Oktober 2024 di Signiel, Busan, Korea Selatan.

FIPRESCI Prize adalah penghargaan yang diberikan oleh Federasi Internasional Kritikus Film kepada film yang dibuat dengan baik dalam merefleksikan semangat eksperimental dan progresif. Tale of the Land berkompetisi dalam program New Currents, yang juga menjadi world premiere (penayangan perdana) film tersebut.
Tale of the Land tayang pertama kali di BIFF 2024 pada 4 Oktober 2024.

Piagam FIPRESCI
Piagam FIPRESCI (foto istimewa)

BIFF 2024 dibuka pada 2 Oktober dan berakhir pada 11 Oktober 2024. Para anggota juri yang terdiri dari Hsin Wang (Taiwan), Rhee Souewon (Korea Selatan), Teréz Vincze (Hungaria), mengatakan alasan memilih film ini sebagai pemenang film kritik terbaik karena menggunakan bahasa visual memukau dalam membahas isu-isu penting tentang rusaknya harmoni antara manusia dan alam dengan memasukkan referensi budaya tradisional. Selain itu film ini dinilai cukup membawa pesan global yang relevan tentang masa depan.

Baca Juga: 'Tale of The Land' Tayang Perdana di Busan International Film Festival 2024

Dibintangi Shenina Cinnamon, Arswendy Bening Swara, Angga Yunanda, dan Yusuf Mahardika, Tale of the Land berpusat pada seorang gadis Dayak bernama May, yang diperankan oleh Shenina Cinnamon. May dihantui oleh trauma kematian orangtuanya dalam sebuah konflik tanah, yang membuatnya tidak dapat menginjakkan kaki di tanah. May tinggal bersama kakeknya, Tuha (diperankan oleh Arswendy Bening Swara), di sebuah rumah terapung yang terombang-ambing di atas danau yang jauh dari daratan.

Bagi sutradara Loeloe Hendra, karakter May merupakan alegori tantangan yang dihadapi masyarakat adat di seluruh dunia karena tanah airnya terus berubah akibat tekanan dunia modern.

Baca Juga: Film 'Sorop' Siap Tayang di Film Market, Busan, Korea

“Sebuah surat cinta untuk sinema Indonesia, senang rasanya bisa mewakili sinema Indonesia di Busan dan menerima penghargaan ini. Semoga nanti ketika tayang di tanah air dapat diterima oleh penonton Indonesia,” kata Produser Tale of the Land Amerta Kusuma dan Yulia Evina Bhara dalam pidato kemenangan
di Busan.

Cast and Crew Tale of The Land di BIFF 2024
Cast and Crew Tale of The Land di BIFF 2024 (foto Arman Febryan)

“Terhormat sekali menerima penghargaan ini, khususnya karena ini adalah film panjang pertama saya. Saya dedikasikan penghargaan ini untuk orang-orang Kalimantan dan juga kerja keras seluruh kru dan cast,” tambah Loeloe Hendra.

Baca Juga: Delegasi Sinema Indonesia di Red Carpet Busan International Film Festival 2024

Syuting film Tale of the Land mengambil lokasi di Kota Bangun, Kalimantan Timur, dan memanfaatkan fenomena alam untuk mendapatkan 90% lanskap perairan di filmnya. Di film ini, Shenina Cinnamon juga menggunakan bahasa Kutai, yang jarang muncul dalam film Indonesia. Film Tale of the Land merupakan ko-produksi Indonesia, Filipina, dan Taiwan.**

Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel
di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizinĀ redaksi.

Editor: Donny Anggoro

Tags

Artikel Terkait

Rekomendasi

Terkini

Astrid Rilis Album Terbarunya Lewat Jalur Indie

Rabu, 15 April 2026 | 20:44 WIB

Reli IHSG Dinilai Rentan dan Bersifat Sementara

Senin, 13 April 2026 | 10:43 WIB
X