Nobar Debat Capres Bareng  Jacques Rancière

photo author
Khudori Husnan, Tinemu
- Senin, 8 Januari 2024 | 13:10 WIB
debat capres (Google)
debat capres (Google)

TINEMU.COM - Menyaksikan pertunjukan debat capres semalam, yang disiarkan secara langsung itu, kita, sayalah utamanya, seperti menonton sebuah film.

Setelah moderator memberikan panduan teknis dan pengantar termasuk pemberian materi, para capres langsung menyambar materi-materi yang disodorkan para penlis lalu langsung berlaga memberikan pemaparan sesuai sudut pandang masing-masing.

"Konflik" bermula saat tiba waktu antar capres saling menanggapi. Anda yang juga kebetulan ikut menonton mungkim masih ingat bagaimana Prabowo Subianto berulangkali menyebut adanya kekeliruan data baik yang disebutkan Anies Baswedan (yang kerap disapa pak Prabowo dengan professor), maupun Ganjar.

Baca Juga: Alfred Snider : Kejujuran, Pondasi Krusial dalam Debat

Prabowo juga sempat menyebut Anies dengan kalimat "Anda tuh tidak pantas berbicara tentang etik!."

Inilah puncak konflik yang cukup intens dan dramatik dari debat capres tadi malam. Sungguh menegangkan.

Mendekati akhir acara, konflik sepertinya akan mereda, setelah masing-masing capres menyampaikan pernyataan penutup, akan tetapi pada kenyataannya ternyata tidak saudara-saudara!

Pertunjukan belum sampai pada klimaks.

Kamera awak televisi masih menyoroti kerumunan di atas pentas. Mata kamera  menangkap momen Prabowo dan Ganjar bersalaman tapi kamera gagal mendapatkan peristiwa salaman  Prabowo dengan Anies.

Baca Juga: Mengulik Lirik Lagu People Are Strange karya The Doors

Tiba sesi wawancara di luar gedung, Anies ditanya pers tentang absennya momen ia bersalaman dengan  Prabowo. "Tadi saya cari-cari tidak ada," jawab  Anies.

Pertanyaan sama juga diajukan awak media pada Prabowo, jawabnya, kalau saya tidak keliru, "Dia tidak menghampiri saya, saya kan lebih senior."

Pada intinya, momen salaman antara pak Prabowo dan pak Anies setelah debat tampaknya memang tidak pernah ada.

Rentetan drama di panggung debat hingga setelahnya itu memperlihatkan apa yang diyakini filosof Prancis kekinian Jacques Rancière,  antara politik dan estetik pada dasarnya sama dan sebangun.

Baca Juga: Cerbung : Pahlawan Padang Gurun (302)

Halaman:
Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel
di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.

Editor: Dedy Tri Riyadi

Tags

Artikel Terkait

Rekomendasi

Terkini

Serigala yang Memilih Kembali ke Hutan

Jumat, 27 Maret 2026 | 07:41 WIB

Ketika Opini Publik Dianggap Lebih Esensial

Sabtu, 21 Maret 2026 | 13:44 WIB

Bilal: Suara Azan yang Bergetar oleh Cinta

Kamis, 12 Maret 2026 | 22:26 WIB

Puasa: Ibadah Rahasia yang Disimpan Langit

Kamis, 5 Maret 2026 | 21:19 WIB
X