TINEMU.COM - Seorang pedagang Persia mendapat hadiah seekor burung beo betina dari salah satu koleganya, seorang pedagang asal India. Oleh pedagang Persia, beo ditaruh di sangkar yang indah dan kokoh. Pedagang Persia biasa menikmati kicauan merdu si beo dan keindahan bulu-bulunya setiap hari sembari melepas lelah.
Ketika musim berdagang tiba. Pedagang Persia bersiap melakukan perjalanan ke India untuk keperluan membeli barang-barang. Sebelum berangkat, pedagang Persia bertanya pada orang rumah terutama para asisten rumah tangga (ART), apakah ada sesuatu yang mereka inginkan sebagai oleh-oleh sepulangnya ia dari India.
Masing-masing ART, kompak meminta sesuatu sesuai keinginan hati masing-masing. Lalu, bagaimana dengan burung beo?
"Tuanku, saya tidak menginginkan apapun dari kampung halaman saya." Ucap beo murung. "Tapi," lanjut beo, "apabila dalam perjalanan tuan menemukan sekawanan beo seperti saya, bersediakah tuan menyampaikan salam saya pada mereka dan kabarkan juga pada mereka bahwa saya terjebak di sebuah sangkar di Persia," beo menghela nafas panjang lalu menghembuskannya perlahan, "sampaikan juga saya sangat merindukan mereka." Ucap beo.
"Tanyakan juga ke mereka apakah adil, saat mereka terbang bebas melintasi angkasa, sementara saudari mereka pelan-pelan akan menemui ajal di kurungan. Saya mohon tuan sudi memintakan kepada mereka nasihat untuk saya, bagaimana caranya agar saya bisa mengatasi keadaan ini," pungkas beo.
Pedagang Persia tak terlalu memusingkan permintaan burung beo. Kendati demikian, ia berjanji akan mencari kawanan burung yang dimaksud si beo dan menyampaikan pesan seperti yang diutarakan burung beo kesayangannya itu.
Singkat cerita, pedagang Persia memasuki wilayah India, mulai mengurus berbagai keperluan bisnisnya dan tak lupa memenuhi janji pada para asisten rumah tangga yang ingin dibelikan oleh-oleh, termasuk pesan dari burung beo.
Dalam perjalanan dari satu kota ke kota berikutnya, pedagang Persia melintasi sebuah hutan dan mendapati keriuhan dari kicauan sekawanan burung beo. Pedagang Persia menghentikan kudanya lalu mulai menyampaikan pesan-pesan secara terperinci dari burung beo di dalam sangkar yang ada di rumahnya.
Akan tetapi, sebelum pedagang menuntaskan kata-kata pesan si beo, tubuh seekor beo tiba menggigil hebat tak lama kemudian terkulai jatuh dari dahan lalu mati seketika. Pedagang Persia lari tergopoh-gopoh bermaksud menyelamatkan burung beo yang terjatuh, namun sayang nyawa burung beo tak tertolong. Ia tewas mengenaskan
Pedagang cemas luar biasa. Ia merasa sangat bersalah karena telah menyebabkan matinya seekor burung beo. Ia mulai bertanya-tanya dalam hati, apakah burung yang terjatuh ada hubungannya dengan burung beo miliknya, apakah burung beo ini mati karena mendengar cerita sedih tentang saudarinya yang terkurung?.
Jangan-jangan benar adanya bahwa lidah manusia seperti tumpukan bongkahan batu dan besi yang apabila digesek-gesekkan satu sama lain akan memercikkan api?"
Pedagang larut dalam penyesalan karena telah menyampaikan pesan-pesan dari beonya. Tapi, apa mau dikata, semuanya telah terjadi dan pedagang melanjutkan kewajiban-kewajiban bisnisnya sampai tuntas untuk kemudian kembali pulang.
Sesampainya di rumah, pedagang mulai membag-bagikan buah tangan yang dinantikan para ART tapi pada burung beo, pedagang tak berkata sepatah kata pun. Burung beo menanti dengan tak sabar, seperti apa tanggapan teman-temannya sesama burung beo, terhadap pesan yang ia titipkan pada si pedagang tuannya itu.
Tak tahan terlalu lama menunggu, burung beo akhirnya memberanikan diri bertanya langsung pada sang pedagang: