TINEMU.COM -- Selain mengandung hikmah, kisah-kisah para sufi juga banyak disajikan dalam bentuk humor. Salah satunya adalah kisah Nasrudin Hoja. Ia disebut Hoja yang berarti guru. Lahir pada tahun 1208 di sebuah desa bernama Horto dekat Sivrihisar. Pada tahun 1237 pindah ke kota Aksehir, sampai pada wafatnya di tahun 683 Hijriah atau sekitar 1284 masehi.
Ada sekitar 350 kisah yang disandangkan pada namanya. Salah satunya adalah kisah tentang bagaimana Nasrudin menyadarkan kesengsaraan rakyat kepada Sultan, seperti yang ada pada kisah ini;
Oleh karena pertempuran-pertempuran yang terjadi, banyak sekali penderitaan yang diderita oleh rakyat di negeri tempat Nasrudin tinggal. Namun karena Sultan tetap bersikukuh untuk memperluas wilayahnya, ia tetap meminta pemasukan pajak dari rakyatnya.
Baca Juga: Petualangan Bocah-Bocah Sorotan (4)
Para pemungut pajak disebar ke seluruh negeri untuk bisa mendapatkan uang dari rakyat. Namun karena kondisi yang sulit bagi rakyat, maka mereka pun hanya bisa mendapatkan uang yang sedikit.
Sultan marah dan memaksa para pemungut pajak itu memakan kertas-kertas laporan pemungutan pajak mereka, mereka juga dipecat, dan mengusir ke luar istana. Karena istana kekurangan pemungut pajak, Nasrudin pun diminta oleh pihak istana menjalankan tugas sebagai pemungut pajak.
Nasrudin mulanya menolak tapi ketika diancam oleh Sultan untuk diusir dari negaranya, mau tidak mau ia pun menuruti. Dan meski telah membujuk-bujuk masyarakat agar bisa memahami kondisi negara yang sedang memerlukan banyak biaya untuk peperangan, tetap saja, Narudin pun hanya mendapat sedikit uang dari yang ditargetkan kepadanya.
Baca Juga: Inilah Pemenang Kompetisi 500 Juta Kwikku 2021
Saat hendak menghadap Sultan untuk memberi laporan pungutan pajak yang dijalankannya, Nasrudin, alih-alih membawa buku catatannya, ia malah membawa selembar roti kering.
Sultan pun heran, "Apa itu Nasrudin?"
Jawab Nasrudin, "Ini laporan pungutan pajak yang saya lakukan, Tuanku."
"Aku tahu, kau pura-pura gila hanya untuk menghindari hukuman memakan buku catatan pungutan pajak milikmu, bukan?"
"Tenang saja, Tuanku, itu pasti aku lakukan jika terbukti tidak becus bekerja memungut pajak."
"Lalu, mengapa kau membawa roti kering itu?"
Artikel Terkait
Pria yang Berlari di Atas Air
Kisah Sufi : Keajaiban Lampu Minyak
Inilah Cinta, Inilah Jalan Sufi
Bisikan Pasir Pada Sungai
Roti dan Darwis