Kisah Para Sahabat Nabi : At-Tufayl ibn Amr, Sang Penyair dan Kepala Suku

photo author
Zabidi Sayidi, Tinemu
- Selasa, 5 April 2022 | 02:00 WIB
Foto ilustrasi dari malangtimes.com
Foto ilustrasi dari malangtimes.com

TINEMU.COM - At-Tufayl ibn Amr adalah kepala suku Daws di zaman pra-Quran dan seorang Arab terkemuka yang dikenal karena kebajikan dan perbuatan baiknya. Dia memberi makan orang yang lapar, menghibur mereka yang kesusahan dan memberikan  tempat kepada para pengungsi.

Dia juga sangat tertarik pada sastra dan dirinya sendiri adalah seorang penyair yang tajam dan sensitif yang mampu mengekspresikan karya tulisnya dalam emosi yang paling halus. Tufayl meninggalkan perapian desanya di Tihama di selatan semenanjung Arab dan berangkat ke Mekah.

Perjuangan antara Nabi yang mulia menghadapi orang-orang Quraisy yang kafir sudah mencapai puncaknya.  

Masing-masing ingin mendapatkan dukungan untuk perjuangannya dan merekrut pembantu. Nabi, terus menebar damai dan berkah Allah besertanya, serta meminta bantuan dari Tuhannya. Senjatanya adalah iman dan kebenaran.  

Orang Quraisy yang tidak percaya menolak pesan kenabian itu dengan kekerasan dan senjata, serta berusaha menjauhkan orang darinya dengan segala cara yang mereka miliki. Tufayl mendapati dirinya memasuki pertempuran ini tanpa persiapan atau peringatan apa pun.

Dia tidak datang ke Mekah untuk terlibat di dalamnya. Memang dia tidak menyadari perjuangan dakwah Rasulullah yang sedang berlangsung. 

Tufayl menceritakan; Saya mendekati Mekkah. Segera setelah para pemimpin Quraisy melihat saya, mereka mendatangi saya dan memberi saya sambutan yang hangat dan menampung saya di sebuah rumah besar.

Para pemimpin dan tokoh-tokoh mereka kemudian berkumpul dan berkata: “Wahai Tufayl, Anda telah datang ke kota kami. Orang yang mengaku sebagai Nabi ini telah menghancurkan otoritas kami dan menghancurkan komunitas kami.

Kami khawatir dia akan berhasil merusak Anda dan otoritas Anda di antara orang-orang Anda, seperti yang telah dia lakukan dengan kami.  Jangan bicara dengan pria itu. Jangan dengarkan apa pun yang dia katakan.

Dia berbicara seperti penyihir, menyebabkan perpecahan antara ayah dan anak, antara saudara laki-laki dan saudara laki-laki, dan antara suami dan istri." 

Demikianlah orang-orang Quraisy itu memfitnah Rasulullah, menyebarkan berita bohong dan itu membuat Tufayl terpengaruh.Tufayl memutuskan untuk tidak mendekati pria itu, atau berbicara dengannya atau mendengarkan apa pun yang dia katakan. 

Keesokan paginya Tufayl pergi ke Masjidil Haram untuk melakukan tawaf di sekitar Ka'bah sebagai ibadah kepada berhala yang dia ziarahi dan agungkan.  

Tufayl bahkan memasukkan sepotong kapas di telinganya karena takut bahwa sesuatu dari pidato Muhammad akan mencapai pendengarannya. Begitu dia mendekati Ka’bah, Tufayl melihat Muhammad berdiri di dekat Ka'bah.  

Tufayl melihat Muhammad sedang berdoa dengan cara yang berbeda dari doanya. Seluruh cara ibadahnya berbeda. Semua itu memikatnya. Ibadahnya membuatnya gemetar dan Tufayl merasa tertarik padanya. 

Halaman:
Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel
di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizinĀ redaksi.

Editor: Zabidi Sayidi

Sumber: alim.org

Tags

Artikel Terkait

Rekomendasi

Terkini

Serigala yang Memilih Kembali ke Hutan

Jumat, 27 Maret 2026 | 07:41 WIB

Ketika Opini Publik Dianggap Lebih Esensial

Sabtu, 21 Maret 2026 | 13:44 WIB

Bilal: Suara Azan yang Bergetar oleh Cinta

Kamis, 12 Maret 2026 | 22:26 WIB

Puasa: Ibadah Rahasia yang Disimpan Langit

Kamis, 5 Maret 2026 | 21:19 WIB
X