Triwibowo Budi Santoso : "Buya"

photo author
Zabidi Sayidi, Tinemu
- Sabtu, 28 Mei 2022 | 14:38 WIB
Foto Buya dan Gus Dur diambil dari wall Amrul Lahha Kim
Foto Buya dan Gus Dur diambil dari wall Amrul Lahha Kim

TINEMU.COM - Sebagian yang hatinya sedih karena wafatnya Buya Syafii Ma'arif boleh jadi tak mengenal dekat dengan beliau — atau bahkan mungkin belum pernah berjumpa.

Tetapi rasa sedih itu nyaris bisa dipastikan ada di hati orang-orang memiliki perasaan mendalam tentang kerendahan hati, kesederhanaan dan keajekan dalam bersikap welas-asih.

Mereka mungkin tak ingat apa saja yang beliau ucapkan, tak memahami sepenuhnya pemikiran-pemikirannya yang cerdas dan luas, namun mereka akan selalu ingat pada kesan yang ditimbulkan oleh beliau.

Kita umumnya akan lebih tersentuh oleh hal-hal dibalik sikap, perbuatan dan kata-kata. Apa yang ada di balik itu adalah apa yang distilahkan sebagai rasa-pangrasa dalam bahasa Jawa.

Melalui media sosial, orang bukan hanya melihat atau membaca pemikirannya, tetapi juga melihat sikap dan kesehariannya dalam menjalani hidup yang dikabarkan oleh sahabat, murid dan orang-orang yang dekat dengannya.

Pada tauladan hidup sehari-hari itulah kita yang punya nurani akan tersentuh perasaan kita, timbul kesan pada rasa tentang kebajikan, kesederhanaan dan kezuhudan.

Beruntunglah ada orang-orang yang mengabarkan pemikiran dan, terutama, fragmen-fragmen laku hidupnya sehingga banyak orang tersentuh lalu menjadikan beliau sebagai inspirasi.

Itu sebabnya membaca "manaqib" orang alim dan saleh itu penting. Saya termasuk cukup beruntung bisa membaca sebagian kecil manaqib Buya Syafii melalui fragmen² kecil hidupnya yang diceritakan oleh teman-teman di FB dan melalui beberapa buku termasuk buku yang pernah dibagikan Mazda Jumaldi Alfi

Kesan pada rasa ini, bagi saya, lebih penting karena pada sisi inilah orang bisa merasakan dan setidaknya sedikit memahami kualitas rohani dari seorang Buya Syafii dan memperoleh pelajaran bagi hati atau batin.

Bukankah hidup kita semua pada akhirnya akan berakhir sama? Yang membedakan barangkali bagaimana kita akan mengakhiri hidup ini.

Nabi pernah dawuh "innamal a'malu bi khawatimiha," amal itu kualitasnya akan tampak di akhir.

Bisa jadi niat awal kita baik, tapi tak jarang di tengah-tengah perjalanan, kelakuan kita menyimpang dari niat semula karena tak tahan godaan dunia dan hawa nafsu.

Atau boleh jadi niat kita baik namun cara menjalankan niat itu melanggar adab dan hak atas orang lain.

Buya, sependek pengetahuan saya, saya yakini termasuk orang yang bisa ajek (istiqomah) dalam niat dan laku amalnya hingga akhir hayat,

Halaman:
Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel
di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizinĀ redaksi.

Editor: Zabidi Sayidi

Sumber: Facebook

Tags

Artikel Terkait

Rekomendasi

Terkini

Serigala yang Memilih Kembali ke Hutan

Jumat, 27 Maret 2026 | 07:41 WIB

Ketika Opini Publik Dianggap Lebih Esensial

Sabtu, 21 Maret 2026 | 13:44 WIB

Bilal: Suara Azan yang Bergetar oleh Cinta

Kamis, 12 Maret 2026 | 22:26 WIB

Puasa: Ibadah Rahasia yang Disimpan Langit

Kamis, 5 Maret 2026 | 21:19 WIB
X