TINEMU.COM - Kemarin saya banyak ditanya via WA perihal kisah berlendir yang dilekatkan kepada Pangeran Pabelan, Tumenggung Mayang, dan para wali-ngulama Mataram Islam lainnya.
Saya tidak tahu dan tidak kenal penulisnya. Setiap yang bertanya kepada saya perihal Pangeran Pabelan, maka akan saya jawab berdasarkan sanad riwayat para wali dan tokoh sejarah pada masa zaman kewalian Mataram Islam yang sampai kepada saya melalui lisan para sesepuh pelaku tasawuf Jawa.
Saya tidak akan mengulangi cerita hoax itu di sini. Silahkan cari sendiri. Pembacaan ilmiah terhadap tokoh masa lalu dari zaman Mataram Islam atau zaman kewalian biasanya mengerucut pada corak politik pendiskreditan.
Seorang tokoh dibaca dalam percampur-gaulannya dengan peristiwa politik yang dipahami oleh "si penemu" kisah. Cerita dari babad dan belakangan racauan panggung ketoprak kerap menjadi materi utama. Lalu cerita-cerita itu digumuli oleh riwayat intrik dan terutama hikayat lendir selangkangan.
Baca Juga: Kiprah Wong Kalang di Kotagede, Kawasan Tertua Cikal Bakal Kerajaan Mataram
Corak ini menjadi tema utama pengajaran sejarah lewat cerita populer di tengah-tengah masyarakat. Tidak jarang, kisah darah berguyur darah akan menjadi daya pikat untuk terus “menemukan dan membangun sejarah” sang tokoh.
Setiap kali datang masa perguliran kekuasaan, kisah-kisah politik para tokoh itu akan dipercuapkan kembali untuk menafsir peristiwa perebutan kekuasaan, seksualitas masyarakat modern, dan intrik keduniawian.
Dalam penelusuran saya, ada beberapa sumber sastra babad yang menceritakan para wali dan tokoh penting pada masa Mataram Islam yang kerap dirujuk untuk membicarakan politik.
Satu di antara yang paling problematis dan kacau adalah Babad Tanah Jawi (BTJ). Balai Pustaka pernah menerbitkan naskah ini pada 1939 dalam 31 jilid puisi tembang macapat, berhuruf Jawa, dan berbahasa Jawa. Naskah ini mengambil Babad Mayor Kartasura (BMK) sebagai sumber.
Baca Juga: Chicxulub, Asteroid Penabrak Bumi 65,5 Juta Thn Lalu, 75 Persen Kehidupan Punah
Ricklefs, dalam Maharsi (2017, 35), melacak bahwa naskah ini ditulis pada 1788-1820 atau pada masa pemerintahan Paku Buwana IV di Surakarta. Tebal awalnya mencapai 2500 halaman, berhuruf Jawa, dan berbahasa Jawa.
Ada satu versi BTJ yang paling popular dan kerap dirujuk oleh para sarjana tentang Jawa, yaitu BTJ edisi Meinsma. BTJ Meinsma ini diterbitkan atas restu (catat: restu!) pemerintahan kolonial Belanda di bawah pengawasan JJ Meinsma, guru bahasa Jawa di Akademi Delft.
Edisi ini memiliki tebal 362 halaman, berbentuk prosa, berbahasa Jawa dan berhuruf Jawa.
Siapa yang menulis BTJ versi ini? Taco Roorda memberikan keterangan lisan kepada JJ Meinsma bahwa karya ini adalah karangan Ngabehi Kertapraja, seorang guru di Institut Jawa di Surakarta.