Falsafah Hamemayu Hayuning Bawana untuk Akselerasi Regenerative Tourism di Yogyakarta

photo author
Setiyo Bardono, Tinemu
- Selasa, 10 Oktober 2023 | 10:45 WIB
Mahasiswa UGM mengkaji falsafah hamemayu hayuning bawana untuk mengakselerasi regenerative tourism di Yogyakarta.  (Foto: Tim PKM)
Mahasiswa UGM mengkaji falsafah hamemayu hayuning bawana untuk mengakselerasi regenerative tourism di Yogyakarta. (Foto: Tim PKM)

TINEMU.COM - Tim Program Kreativitas Mahasiswa bidang Riset Sosial Humaniora (PKM RSH) UGM (Universitas Gadjah Mada) melakukan kajian terhadap falsafah hamemayu hayuning bawana dalam pengelolaan Keraton Ngayogyakarta Hadiningrat guna mengakselarasi terciptanya regenerative tourism di Yogyakarta.

Tim yang terdiri dari Mauren (Hukum 2020), Iswan (Pariwisata 2021), Danu (Filsafat 2020), Juwita (Pariwisata 2020), dan Shafira (Pariwisata 2020) meneliti hal tersebut berawal dari komitmen pemerintah Daerah Istimewa Yogyakarta (DIY) dalam mengagendakan regenerative tourism untuk menyelesaikan persoalan pariwisata DIY selama ini.

Komitmen itu tergambar dalam peringatan World Tourism Day 2022 di Desa Ekowisata Pancoh yang secara khusus mengusung tema "Regenerative Tourism".

Baca Juga: Segera Tayang Wakaf

Regenerative tourism merupakan konsep pariwisata yang berupaya untuk merubah paradigma pariwisata dijalankan bukan hanya untuk tujuan ekonomi semata. Namun, pariwisata juga mengupayakan kesejahteraan destinasi lokal, lingkungan, serta masyarakat didalamnya.

Mauren mengatakan Kota Yogyakarta tidak dapat lepas dari hadirnya falsafah hamemayu hayuning bawana yang jika ditilik secara diakronik memiliki hubungan erat dengan sejarah pembangunan dan perkembangan Yogyakarta sejak dulu.

Hamemayu hayuning bawana merupakan ekstensi dari konsep sustainable tourism yang seringkali digunakan dalam industri pariwisata dunia hingga saat ini.

Baca Juga: Ketahanan Pangan di Sumba Barat Daya Jadi Satu Sasaran Program TMMD ke-118

"Hal ini ini didasari atas falsafah hamemayu hayuning bawana yang menjadi bukti kearifan lokal dalam memaknai hubungan antara manusia dengan alam semesta akan sangat cocok apabila diaplikasikan kepada kultur Indonesia,” paparnya dalam rilis yang dikirim Senin, 9 Oktober 2023.

Kondisi ini mendasari keyakinan bahwa falsafah tersebut mampu diimplikasikan secara nyata sebagai solusi berbagai permasalahan yang terjadi dalam industri kepariwisataan di Yogyakarta," imbuhnya.

Mauren dan rekan-rekannya berupaya untuk mengkaji secara kritis nilai-nilai yang terkandung dalam falsafah hamemayu hayuning bawana dengan menggunakan indikator regenerative tourism.

Baca Juga: Mengenang MADF-Album Kompilasi Rock Terbaik 1990-an

Guna mendapatkan dan mengetahui nilai-nilai yang terkandung dalam falsafah hamemayu hayuning bawana, tim PKM UGM bekerjasama dengan berbagai stakeholder agar diperoleh data yang menyeluruh dan komprehensif.

Beberapa pemangku kepentingan diantaranya seperti Penghageng Kawedanan Nitya Budaya (Gusti Kanjeng Ratu Bendara); Pengageng Kawedanan Radya Kartiyasa (R.A Siti Amirul Nur Sundari); Penghageng Kawedanan Widya Budaya (KMT. Widyawinata); Penghageng Kawedanan Purayakara; dan Kawedanan Krida Mardawa.

Halaman:
Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel
di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.

Editor: Setiyo Bardono

Sumber: Humas UGM

Tags

Artikel Terkait

Rekomendasi

Terkini

Aldi Taher dan Konser Dadakan Kembang Tahu

Selasa, 7 April 2026 | 00:02 WIB

Air Keras atau Asam Sulfat

Kamis, 19 Maret 2026 | 18:30 WIB

Berpuasa Ramadan Tanpa Buka Puasa Bersama

Selasa, 17 Maret 2026 | 12:00 WIB

Tanda Bahaya Itu Sudah Sejak Lama Berdentang...

Senin, 9 Februari 2026 | 05:45 WIB

Mengapa Kita Tidak Pernah Berinvestasi di Bidang Seni?

Selasa, 27 Januari 2026 | 06:40 WIB

Kisah Pramugari Gadungan

Minggu, 11 Januari 2026 | 20:43 WIB
X