TINEMU.COM - Pengarang-pengarang Indonesia pernah ke Amerika Serikat. Di sana, sederetan nama itu dolan, studi, pentas, atau riset, atau sekadar menulis puisi.
Kenangan dicipta dengan potret atau surat. Sekian orang tak cukup dengan melihat diri di lembaran-lembaran potret. Surat panjang atau catatan harian sulit menjadi bacaan publik. Mereka pun menggubah cerita pendek, novel, atau puisi.
Kita mengingat nama-nama seperti; Umar Kayam menulis Manhattan, Rendra fasih menguak Boston, atu Budi Darma mengejutkan pembaca dengan Bloomington. Mereka menambahi dengan esai-esai atau catatan perjalanan.
Baca Juga: Indahkus Angkat Cerita Kehidupan Sosialnya Bersama Orang-Orang Menyebalkan
Pada suatu masa, Kuntowijoyo malah gamblang menjuduli buku Impian Amerika. Kita bakal kelelahan jika ingin membuat daftar pengarang dan gubahan sastra dihasilkan berkaitan Amerika Serikat.
Pada 1990, terbit buku berjudul On Foreign Shores” American Images in Indonesian Poetry. Editor dan penerjemah oleh John H Mcglynn. Buku berisi puisi-puisi dalam bahasa Indonesia dan Inggris.
Buku berpenampilan anggun terbitan The Lontar Foundation. Buku mungkin cetak terbatas, tak sempat menjadi pembicaraan seru mengenai Indonesia dan Amerika Serikat dalam jalinan sastra, dari masa ke masa.
Baca Juga: Cerbung : Pahlawan Padang Gurun (251)
Buku itu masih bisa ditemukan meski kita agak kesusahan menemukan penjelasan-penjelasan sezaman atau tafsir berlatar situasi sastra Orde Baru.
Kita membuka dulu majalah Tempo, 3 September 1988. “Agar Kita Tidak Minder”, judul berita mengenai Yayasan Lontar. Berita penting saat kita ingin mengetahui usaha-usaha mengajukan sastra Indonesia di hadapan sidang pembaca berbahasa Inggris.
Lontar dibentuk oleh Goenawan Mohamad, Subagio Sastrowardoyo, dan Sapardi Djoko Damono. John H Mcglynn bergabung di situ. Ia sebagai peneliti sastra Indonesia asal Universitas Michigan, Amerika Serikat.
Baca Juga: Galanggang Arang Pita Bunga, Perayaan Budaya di Jalur Kereta
Di Lontar, John H Mcglynn menjadi penerjemah ulung. Kita mengutip masalah (penerjemahan) sastra masa 1990-an: “Lembaga seperti Yayasan Lontar agaknya memang sangat dirasakan penting. Terutama karena pemerintah sendiri tidak mengusahakannya. Padahal, di negara-negara lain, seperti Jepang, Cina, dan Rusia, lembaga seperti itu diusahakan oleh pemerintah. Mereka punya Foreign Publishing House."
Keminderan lumrah melanda pengarang-pengarang Indonesia. Ia kondang di Indonesia tapi sulit mendapat pembaca dari negara-negara berbahasa Inggris.
Penerjemahan menentukan nasib sastra Indonesia di dunia. Penerjemahan tak cuma dalam bahasa Inggris.
Artikel Terkait
Mengenal Pahlawan Nasional: Ida Dewa Agung Jambe
Mengenal Pahlawan Nasional: Bataha Santiago
Mengenal Pahlawan Nasional: Ratu Kalinyamat
Paguyuban Perantauan Dlangu Wadah Menjalin Silaturahmi Warga Dlangu di Tanah Rantau