TINEMU.COM - Selain semangat yang tak hendak mati, Lanang Setiawan dan Muhammad Ayyub juga memperlihatkan sikap untuk tidak ingin menua. Maksud sebenarnya adalah ada semangat untuk bermain-main sebagai pemberontakan terhadap hegemoni sastra yang seolah terpusat di Jakarta dan menggunakan Bahasa Indonesia.
"Ada belasan bahasa daerah yang mati karena kehilangan penggunanya. Karena itulah bahasa Tegal wajib digunakan dalam sastra Tegalan," demikian Muhammad Ayyub beralasan mengapa sampai sekarang ia bertekun dalam puisi berbahasa Tegal.
Muhammad Ayub memiliki satu format puisi yang dibentuk dari namanya. Empat baris bertama berawalan huruf A, empat baris berawalan huruf Y, tiga baris berakhiran huruf U, dan 1 baris yang menjadi semacam "kalimat langsung" yang menanggapi isi dari baris-baris puisi sebelumnya, diawali dengan huruf B.
Sebagai contoh, bisa disimak puisi berjudul "Sate Tegal" ini:
Sate Tegal
Asalé daging embé dicucus
arané saté wedus
anggoné dibakar méh mateng
ana batir kécaptengis, tomat awang
Yén durung mangan saté Tegal
ya méluné durung mampir Tegal
yén panganan kiyé ciriné Tegal
ya kuwé gawé ati ngangeni Tegal
Wis pokoké aja nganti kléru
pancén akéh sing niru
mung baé kurang mutu
Bagrég! Teka baé sih nang Tegal
Meski mengembangkan puisi berbahasa Tegal dengan format seperti itu, Muhammad Ayyub menjalin hubungan yang erat dengan para penyair di Malaysia dan Singapura. Menurut pengakuannya, sudah beberapa kali dirinya hadir dalam perhelatan penyair Nusantara yang diadakan di Malaysia.
Rupanya, formulasi puisi yang terfokus pada aturan pada penulisan itu sebelumnya juga dilakukan oleh Lanang Setiawan dengan apa yang disebut puisi Tegalerin. Nama Tegalerin menurutnya diambil dari kisah pidato J.F. Kennedy yang menyebut dirinya sebagai Berliner, dengan maksud sebagai warga kota Berlin. Padahal "berliner" adalah sebutan orang Jerman untuk kue "donat." Kemudian, oleh Lanang, kata yang dianggap salah itu diubah dan digabungkan dengan kata "Tegal" sehingga menjadi Tegalerin.
Untuk formulasi dari puisi Tegalerin itu, dia mencomot 12 baris Soneta yang diubah sesuai suku kata nama dirinya sehingga dijadikan 2 baris, 4 baris, 2 baris, dan 4 baris. Contohnya seperti ini:
Tugas Senopati
Beda mangsa
Pengangen Pembayun nglayab
Deleg-deleg njongkot tengah wengi
Pengangen diamuk kisruh
Mbarang ledhek?
O, Pembayun ngrajug saporet-poret
Senopati rama junjungan
niba titah pantang dilawan
Kacrita...
ledhek kondange laku serong
Jamak dibopong maring kondong
duh, gupak bejuh sembarang wong
Tegal, 13 Maret 2023
Artikel Terkait
Tegal yang Menolak Mati juga Menua (Bagian 1)