BPA Institute Hadirkan “Open Architecture”: Dialog Baru antara Arsitektur, Alam, dan Kehidupan Kontemporer

photo author
Zabidi Sayidi, Tinemu
- Jumat, 18 Juli 2025 | 06:11 WIB
Foto2: FX Bambang Sn
Foto2: FX Bambang Sn

TINEMU.COM - Bekasi, 17 Juli 2025. Di tengah arus urbanisasi yang deras dan krisis iklim yang kian mendesak, BPA Institute platform edukasi arsitektur dan urbanisme besutan Budi Pradono Architect, menginisiasi sebuah ruang pertemuan unik bertajuk Open Architecture.

Program edukasi berbasis kolaborasi ini akan berlangsung pada Sabtu dan Minggu, 19–20 Juli 2025, bertempat di Omah Tanah, sebuah hunian eksperimental yang menyatu dengan lanskap perbukitan dan laut di pesisir Pantai Loji, Sukabumi, Jawa Barat.

Lebih dari sekadar acara arsitektur, Open Architecture adalah ajakan untuk kembali ke akar: kepada material lokal, kepada lanskap yang memberi nafas, dan kepada filosofi pernaungan yang diwariskan para leluhur.

“Sensitivitas pada tempat, lokalitas material serta bersinergi dengan alam tanpa mengabaikan progresifitas kehidupan kontemporer adalah mantra tersahih arsitektural saat ini,” tegas Budi Pradono, arsitek sekaligus pendiri BPA Institute.

Arsitektur sebagai Dialog dengan Alam

Dalam arsitektur Barat, Budi menyebut istilah Architecture of Protection: arsitektur yang lahir dari kebutuhan manusia untuk bertahan dari iklim ekstrem. Namun di Nusantara, yang tropis dan lembap, nenek moyang kita merumuskan Architecture of Shelter; arsitektur pernaungan yang ringan, adaptif, dan menyatu dengan iklim yang lebih bersahabat. Atap yang lebar, ventilasi silang, hingga material alami menjadi ciri khas yang kini terancam oleh betonisasi tanpa refleksi.

“Omah Tanah adalah laboratorium hidup. Ia bukan sekadar bangunan, tapi sebuah refleksi tentang bagaimana manusia kembali bersahabat dengan tanah yang dipijak,” ujar Budi. Rumah ini dirancang untuk merespons kondisi iklim Sukabumi yang kerap berubah cepat—angin Barat dan Timur yang beradu, hujan mendadak, dan gelombang laut yang ganas.

Dengan dinding tanah liat hasil teknik rammed earth, tanah tumbuk yang dipadukan dengan sedikit semen (hanya 10%) Omah Tanah mampu menghadirkan ruang yang sejuk dan stabil. Teknik ini sendiri adalah buah riset 15 tahun Budi, terinspirasi dari pengalaman di Shui Guan, China, sekaligus eksperimen panjang dengan tanah lokal Sukabumi.

Foto2: FX Bambang Sn
Foto2: FX Bambang Sn

Filosofi di Balik Hunian

Tidak kalah penting, Omah Tanah juga memikul beban filosofi kultural Jawa. Dalam sistem sosial Jawa, rumah memiliki strata: “griya” untuk kaum bangsawan, “dalem” untuk pejabat, hingga “omah” untuk masyarakat biasa.

Omah Tanah, sebagaimana namanya, menjadi simbol egalitarianisme; bahwa setiap manusia layak mendapatkan ruang tinggal yang sehat, indah, dan berkelanjutan.

“Dengan Omah Tanah, kami berharap bisa menghadirkan arsitektur yang membaur dengan rumah-rumah lainnya di Jawa, menciptakan lanskap hunian yang lebih egaliter,” kata Budi.

Hunian milik Douglas dan Rossa; pasangan asal Fremantle, Australia Barat ini juga menjawab kebutuhan mereka akan rumah yang mampu bertahan menghadapi perbedaan suhu ekstrem.

Halaman:
Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel
di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.

Editor: Zabidi Sayidi

Rekomendasi

Terkini

Aldi Taher dan Konser Dadakan Kembang Tahu

Selasa, 7 April 2026 | 00:02 WIB

Air Keras atau Asam Sulfat

Kamis, 19 Maret 2026 | 18:30 WIB

Berpuasa Ramadan Tanpa Buka Puasa Bersama

Selasa, 17 Maret 2026 | 12:00 WIB

Tanda Bahaya Itu Sudah Sejak Lama Berdentang...

Senin, 9 Februari 2026 | 05:45 WIB

Mengapa Kita Tidak Pernah Berinvestasi di Bidang Seni?

Selasa, 27 Januari 2026 | 06:40 WIB

Kisah Pramugari Gadungan

Minggu, 11 Januari 2026 | 20:43 WIB
X