TINEMU.COM - Ozzy Osbourne telah lama dikenang sebagai Prince of Darkness—sosok eksentrik, misterius, dan legendaris dalam sejarah musik rock.
Tapi saat kabar kepergiannya tiba, justru sebuah lagu balada sederhana yang terasa paling membekas: “Ordinary Man”, dirilis tahun 2020 dalam album berjudul sama.
Berbeda dari citra panggungnya yang keras dan liar, “Ordinary Man” hadir dengan nuansa yang hangat, tenang, dan reflektif.
Lagu ini adalah pengakuan terbuka dari Ozzy, tentang hidup yang telah ia jalani dengan segala suka dan dukanya.
Di usia senjanya, ia tidak lagi berusaha tampil menantang dunia, melainkan memilih untuk bersuara jujur: bahwa di balik semua mitos dan kegilaan, ia pun hanya seorang manusia biasa yang ingin dikenang dengan baik.
Baca Juga: Kenapa Sekali-Kali Perlu Mendengarkan “My Life” dari Saigon Kick
Secara musikal, “Ordinary Man” adalah balada rock klasik yang dipandu oleh permainan piano Elton John yang melodius dan mengalun pelan.
Struktur lagunya sederhana tapi kuat secara emosional: dibuka dengan piano lembut, diikuti oleh vokal Ozzy yang terdengar lebih rapuh tapi penuh perasaan, lalu masuknya gitar dari Slash yang memberi sentuhan rock khas—melankolis tapi tetap tajam.
Ketukan drum yang dimainkan Duff McKagan menambah keseimbangan antara keagungan dan keheningan, membuat lagu ini terasa megah sekaligus intim.
Lirik seperti “Yes, I've been a bad guy, been higher than the blue sky / And the truth is I don’t wanna die an ordinary man” memperlihatkan sisi kontemplatif Ozzy.
Baca Juga: Hysteria-nya Muse: Kegilaan Manusiawi, Bukan Sekadar Aksi Musikal yang Gagah
Ini bukan sekadar penyesalan, melainkan cermin dari perjalanan hidup yang penuh kekacauan dan keindahan sekaligus.
Lagu ini terdengar seperti pesan terakhir, bukan dengan dramatisasi, tapi dengan ketulusan.
Kini, dengan Ozzy telah tiada, “Ordinary Man” menjadi warisan paling personal yang ia tinggalkan.
Lagu ini mengajak kita untuk mengenangnya bukan hanya sebagai ikon rock yang liar dan tak kenal takut, tapi juga sebagai seorang pria yang pernah rindu, takut, dan berharap.
Artikel Terkait
Hysteria-nya Muse: Kegilaan Manusiawi, Bukan Sekadar Aksi Musikal yang Gagah
Kenapa Sekali-Kali Perlu Mendengarkan “My Life” dari Saigon Kick