TINEMU.COM - Sekitar 100 orang mengenakan kain putih sepanjang dua meter yang dililitkan di badan berkumpul di halaman Balai Kota Surakarta, Jawa Tengah pada Rabu 19 Juli 2023. Mereka mengikuti Ruwatan Sukerto untuk membersihkan jiwa dengan memohon kepada Tuhan Yang Maha Esa.
Ruwatan Sukerto merupakan bagian dari Festival Budaya Spiritual bertema “Rembuk Sedulur Sepuh” yang mengangkat tradisi perayaan Bulan Suro. Peserta yang diruwat mendapatkan perlindungan dari segala macam bencana dan penyakit.
Upacara Ruwatan Sukerto dianggap sebagai wahana pembebasan para sukerta, yaitu orang yang sejak lahir dianggap membawa kesialan tidak suci, penuh dosa serta orang-orang yang berbuat ceroboh. Orang Sukerta dan/atau orang yang ceroboh itu dipercaya akan menjadi mangsa Batara Kala, oleh sebab itu perlu diruwat.
Baca Juga: Kota Surakarta Jadi Tuan Rumah Festival Budaya Spiritual 2023 Bertema ‘Rembug Sedulur Sepuh’
“Semoga para peserta yang mengikuti acara ruwatan mendapatkan kesehatan dan keselamatan,” ujar Direktur KMA Sjamsul Hadi seraya menyerahkan Wayang Betara Kala (raksasa besar) secara simbolis kepada dalang sebagai tanda dimulainya prosesi ruwatan yang dipimpin oleh Dalang Ki Purbo Asmoro.
Sebelumnya, para peserta ruwatan meminta maaf kepada orang tua, kemudian mereka duduk di belakang dalang untuk menyaksikan pertunjukan wayang kulit dengan cerita “Murwakala”.
Setelah itu, para peserta secara bergiliran melakukan prosesi potong rambut. Nantinya rambut tersebut akan dibuang ke sungai atau laut. Lalu dilakukan siraman oleh dalang/orang tua.
Baca Juga: Galaxy A14 dan A34 5G Enterprise Edition dengan Fitur Keamanan Setingat Militer
Tahap berikutnya adalah pelepasan merpati yang menandai hilangnya segala keburukan dan berganti menjadi semangat dan harapan terbaik untuk masa depan.
Selanjutnya, prosesi pemecahan kendi berisi air bunga sebagai tanda selesainya seluruh rangkaian prosesi ruwatan. Acara kemudian dilanjutkan dengan pagelaran wayang kulit semalam suntuk yang berjudul ‘Bima Rahayu’.
Acara Ruwatan Sukerto mendapat apresiasi dari masyarakat. Hal ini terlihat dari antusiasme mereka memadati halaman Balai Kota Surakarta. Salah satu peserta ruwatan yakni Kinanthi Rahayu, mahasiswa semester 3, prodi Pendidikan Seni Musik, Universitas Negeri Semarang (Unnes) ini mengetahui adanya Ruwatan Sukerto dari sang ayah.
Baca Juga: Kreativitas Pelaku Parekraf Danau Toba, Luar Biasa!
“Perasaan saya senang, deg-degan, dan lega. Harapannya, di masa depan segala urusan dan cita-cita saya menjadi dosen diberi kelancaran,” kata Kinanthi yang merupakan anak tunggal.
Peserta lain yaitu Slamet yang berprofesi sebagai abdi dalam Keraton Surakarta mengaku ikut ruwatan bersama istri dan anak tunggalnya yang bernama Niken.
Artikel Terkait
Kemenparekraf Dukung Pariwisata Berbasis Budaya di Bali
Puluhan Siswa SD di Jerman Antusias Belajar Bermain Gamelan dan Membuat Wayang di Rumah Budaya Indonesia
BNPB Suguhkan Pentas Budaya Lokal dengan Pesan Kebencanaan
Pendaftaran Dana Indonesiana 2023 untuk Pelaku Budaya Telah Dibuka
Kota Surakarta Jadi Tuan Rumah Festival Budaya Spiritual 2023 Bertema ‘Rembug Sedulur Sepuh’