TINEMU.COM - Kita boleh iri dengan keluarga Toer. Keluarga itu besar dengan tulisan-tulisan. Sejak dulu sampai sekarang, para pembaca mengetahui beragam tulisan disuguhkan penulis-penulis bernama Toer.
Nama terpenting dan terbesar tentu Pramoedya Ananta Toer (1925-2006). Kita pun mengerti Indonesia ikut bergerak dengan tulisan-tulisan keluarga Toer.
Toer itu nama milik bapak. Pram pun sadar dampak nama Toer menilik sikap-sikap bapak dalam masalah sosial-kultural. Kemunculan penulis-penulis Toer tak mutlak gara-gara bapak.
Baca Juga: Pengisah(an) Anak
Pram dalam buku berjudul Nyanyi Sunyi Seorang Bisu justru mengenang: “Ibuku seorang yang suka membaca majalah dan buku Jawa (selama tidak berhuruf Jawa), Melayu, dan Belanda. Ia setiap hari mengikuti koran, baik dari Surabaya maupun Semarang, yang dikirimkan cuma-cuma pada alamat kami. Buku dan majalah juga dikirimkan pada ayahku dengan cuma-cuma. Dari bacaan itu ia suka bercerita. Ia seorang pencerita yang baik dan selalu memikat. Kadang ia bercerita di malam hari sambil duduk dalam kerumunan anak-anaknya.”
Ibu menjadi penentu gairah bacaan. Pada masa dan situasi berbeda, anak-anak bernama Toer itu menghasilkan bacaan-bacaan. Kita mengandaikan semua itu “beribu” saat masa kecil dalam asuhan (bacaan-bacaan) ibu.
Anak-anak dalam keluarga Toer bertumbuh di “taman” cerita bersemi sepanjang masa.
Baca Juga: Kolaborasi Maulana Ardiansyah dan Alyssa Dezek Hasilkan Single 'Lebih dari Rindu'
Ibu bercerita mengingatkan buku-buku. Anak-anak sanggup berimajinasi atau berfantasi meski belum bergaul dengan buku-buku atau menjadi pembaca rakus. Pram tak henti memuji: “Ceritanya selalu membangkitkan fantasi yang indah-indah. Pada waktu itu belum ada buku-buku komik yang membunuh fantasi kanak-kanak. Maka, fantasi ini memimpin jiwa kanak-kanak itu memasuki dunia gambarannya sendiri yang lebih baik, lebih sempurna, lebih berpenghargaan, juga lebih berkemanusiaan.”
Pram membawa nama Toer tapi selalu mengambil referensi ibu dalam jagat bacaan atau cerita.
Masa anak dan cerita itu mengingatkan dengan pengarang besar asal India: Rabindranath Tagore.
Baca Juga: Kolaborasi Ade Govinda Ernie Zakri Pecahkan Rekor Peringkat Pertama di Chart Malaysia
Pada masa 1950-an, Pram pernah berpendapat: “Kenjataan bahwa Pram dapat mendjadi raksasa di alam pendjadjahan adalah suatu akibat dari kesadarannja sebagai manusia dan bukan makhluk politik untuk mencipta dari dan untuk manusia…” Pram saat itu menginginkan kaum muda berkekuatan dalam arus sastra dan paham revolusi. Ia berharap muncul “angkatan baru” agar Indonesia tak lesu.
Dua pengarang besar (India dan Indonesia) bertumbuh dengan cerita-cerita. Dua sosok menjadi pencerita digemari jutaan orang. Pada masa bocah, Tagore mendapat pengasuhan ibu saat ia menemukan dunia menggirangkan dalam permainan dan hal-hal di luar rumah.
“Ibu tidak suka melihatku pulang setiap pagi berlumur debu – dia cemas warna kulit putranya akan hitam dan rusak,” pengakuan Tagore dalam buku berjudul Masa Kecilku. Tagore tak cuma bermain. Ia ketagihan cerita-cerita menakjubkan.