TINEMU.COM - Pada tiap abad, anak-anak membentuk biografi dengan benda-benda baru. Mereka mungkin tak sempat mengetahui sekian benda dianggap berlalu atau kedaluwarsa.
Benda-benda itu bisa mainan. Benda-benda dapat (terlalu) menentukan keseharian anak-anak melampau permainan. Anak-anak itu bersama benda-benda saat makan, belajar, tidur, atau ritual.
Pada masa bertumbuh, anak-anak berada dalam peristiwa-peristiwa diinginkan atau terpaksa. Konon, pertambahan atau pengurangan peristiwa memberi bobot pemaknaan sebagai anak.
Perjumpaan dan pergaulan bareng sosok-sosok akrab atau asing memberi pengertian-pengertian dalam usaha menjadi manusia. Pada pembuatan biografi, anak-anak itu berhak mengingat benda, peristiwa, dan sosok meski tak terlarang untuk membuang, merusak, atau mematahkan.
Baca Juga: Kolaborasi Maulana Ardiansyah dan Alyssa Dezek Hasilkan Single 'Lebih dari Rindu'
Di kesusastraan dunia, kita kangen menjadi anak atau sekadar mengingat pernah sebagai anak bisa membuka cerita-cerita gubahan Rabindranath Tagore (1861-1941). Sosok asal India menebar cerita ke pelbagai negara.
Ia bukan pendongeng bersaing dengan Andersen, Grimm, atau Dickens. Cerita-cerita ditulis dengan tokoh anak-anak memicu pembaca mengikuti segala memori dan imajinasi disuguhkan Tagore.
Di cerita berjudul “Orang Suci di Atas Pohon” termuat dalam buku berjudul Tagore dan Masa Kanak (2011), kita gemas dengan gairah anak-anak mendapatkan atau melihat keajaiban-keajaiban. Dunia tidak mutlak bertuan akal.
Mereka memihak pencipta dan edaran cerita memicu percakapan tanpa ujung. Konsekuensi terpenting ingin merasakan menjadi tokoh menerima keajaiban. Peran berbeda bisa melegakan jika menjadi saksi atas peristiwa menakjubkan dan pengisah awal sebelum menghebohkan negeri.
Baca Juga: Kolaborasi Ade Govinda Ernie Zakri Pecahkan Rekor Peringkat Pertama di Chart Malaysia
Tagore tak sekadar mencipta tokoh anak dalam cerita-cerita. Pembaca merasakan bila pengarang memang selalu terhubung dengan masa kecil. Ia tak mau kehilangan diri sebagai bocah saat makin menua.
Anak tak dititipi pesan-pesan kaum tua. Penokohan anak dibuat Tagore justru mengembalikan pembaca dalam kedirian anak, bukan pengamat atau penilai. Pembaca pun tak dituntut sebagai pemuja memori.
Masalah sulit dalam bercerita dan penokohan anak: bahasa. Tagore mampu menampilkan bahasa (milik) anak. Bahasa untuk keluguan, kenakalah, ketulusan, kemarahan, kebingunan, dan ketakutan luwes terbaca dalam cerita-cerita gubahan anak.
Pembaca bukan selesai sebagai “pengikut” pengalaman anak-anak. Ia berhak menjadi anak dalam cerita.
Baca Juga: Humaniora Digital, Langkah Modernisasi Manuskrip Naskah Kuno ke Seni Pertunjukan
Artikel Terkait
Pelajaran (Membaca) Ayam
Masjid: Puisi dan Arsitektur
Pengisah Duka