Tagore itu mahir mengisahkan religiositas, pendidikan, politik, alam, keluarga, dan lain-lain. Pada saat menghadirkan tokoh anak-anak, pembaca kepikiran biografi. Tagore fasih membuka kisah-kisah diri.
Kita memasuki biografi melalui buku Tagore berjudul Masa Kecilku (2003).
Tagore menghidupkan ingatan: “Ketika aku masih anak-anak, Kota Calcutta tidak seribut sekarang di waktu malam. Sekarang ini, begitu siang matahari berakhir, mulailah ‘siang’ lampu listrik. Tidak banyak yang dikerjakan waktu itu, tetapi tidak ada istrirahat. Sebab, arang terus menyala setelah nyala kayunya mati sendiri….”
Malam tetap memiliki hidup. Anak-anak tak mau rampung meski sudah malam tanpa kesibukan atau peristiwa berlebihan.
Malam dalam pengalaman anak-anak masa silam itu mirip puisi pendek: tak ada tanggung jawab memberi penjelasan panjang. Malam sebagai puisi terbaca dan “meringkus” waktu.
Baca Juga: Kumpul ASIK Blackmores: Awal yang Baik untuk Buah Hati
Tagore dalam cerita dan biografi bikin iri kita mengalami abad XXI. Anak-anak dalam abad terlalu berlistrik. Abad tak memberikan waktu senggang dengan tulus dan indah.
Anak-anak menjadi “sibuk” dan “lelah” tanpa kenikmatan pembentukan biografi bakal terbawa sampai tua. Konon, warisan cerita-cerita dari Tagore itu berlaku menjadi tanda seru saat kita berlagak prihatin, jengkel, kasihan, dan ribut mengetahui lakon anak-anak abad XXI. Begitu.**
Artikel Terkait
Pelajaran (Membaca) Ayam
Masjid: Puisi dan Arsitektur
Pengisah Duka