TINEMU.COM - Ada nama yang selalu muncul ketika kita berbicara tentang gerakan perempuan di Indonesia, khususnya dalam bidang kewirausahaan, pendidikan, dan pemberdayaan sosial: Dewi Motik Pramono.
Namun, kisah hidupnya bukan sekadar catatan jabatan atau daftar penghargaan. Ia adalah cerita tentang kegigihan seorang perempuan yang lahir dan besar di tengah budaya patriarki, yang berjuang untuk membuktikan bahwa perempuan tidak ditakdirkan hanya untuk diam, patuh, dan menurut.
Dewi Motik lahir di Jakarta, 10 Mei 1949. Ia adalah anak keempat dari sembilan bersaudara, tumbuh di tengah keluarga besar dengan disiplin kerja keras yang kental. Ayahnya seorang pengusaha, dan dari sosok ayah inilah ia belajar arti kemandirian.
Sejak muda, Dewi terbiasa mencoba banyak hal: menjual kerajinan tangan, berjualan kue, bahkan makanan rumahan. Ia tak sekadar mencari uang saku, tapi melatih dirinya untuk tidak bergantung sepenuhnya pada orang lain. Ia tahu sejak awal: menjadi perempuan berarti harus bisa berdiri di atas kaki sendiri.
Perjalanan pendidikannya pun berliku. Ia sempat menempuh kuliah baik di dalam maupun luar negeri, dan di sela-sela itu, ia tidak malu menghidupi dirinya dengan berdagang. Dari sini kita melihat bahwa jiwa wirausaha bukan sesuatu yang datang tiba-tiba, melainkan hasil latihan panjang, keuletan, dan keberanian mengambil peluang.
Segudang prestasi pun ia raih sejak usia muda. Salah satunya, Dewi pernah terpilih sebagai Juara None Jakarta, sebuah pencapaian yang memperlihatkan kepribadian dan wibawanya di depan publik. Dari dunia pendidikan, organisasi, hingga diplomasi kebudayaan, namanya terus tercatat.
Prestasi-prestasi ini bukan sekadar simbol, tetapi pijakan awal untuk membuktikan bahwa perempuan bisa tampil percaya diri, cerdas, sekaligus menginspirasi.
Bagi Dewi, prestasi hanyalah jalan, bukan tujuan. Ia sering menekankan bahwa perempuan harus tangguh, mandiri, tetapi tetap rendah hati. Tangguh dalam menghadapi tekanan, mandiri dalam menentukan pilihan hidup, namun rendah hati agar bisa diterima dan bermanfaat bagi banyak orang. Prinsip inilah yang menjadi benang merah dalam seluruh kiprahnya.
Di dekade 1980-an, kiprah profesionalnya mulai menonjol. Ia dipercaya menjadi Ketua Sub Konsorsium Usaha Jasa Boga dan Memasak Depdikbud (1984–1990), lalu terpilih sebagai Ketua Umum Ikatan Ahli Boga Indonesia Pusat (1987–1999).
Di dunia boga, Dewi bukan hanya bicara soal dapur, tapi tentang bagaimana sebuah keterampilan bisa diangkat menjadi profesi yang dihargai, dan bahkan menggerakkan ekonomi keluarga.
Namun, kiprah sejatinya tidak berhenti di dunia boga. Dewi Motik adalah sosok yang selalu resah melihat ketimpangan yang dialami perempuan Indonesia. Ia menyaksikan sendiri bagaimana budaya patriarki membuat perempuan diposisikan sebagai "kelas dua": dalam pendidikan, akses kesehatan, hingga kesempatan kerja.
Padahal, jumlah perempuan di negeri ini begitu besar, dan bila diberdayakan, akan menjadi motor penggerak pembangunan yang luar biasa.