Maka, ketika dipercaya menjadi Ketua Umum Kongres Wanita Indonesia (Kowani), Dewi membawa visi yang tegas: perempuan tidak lagi boleh dibatasi hanya di ranah domestik. Perempuan harus cerdas, kritis, mandiri, dan berani menentukan pilihan hidupnya.
Kowani di bawah kepemimpinannya digerakkan bukan hanya sebagai forum seremonial, tetapi sebagai wadah nyata yang menghubungkan perempuan lintas profesi, agama, dan generasi.
Kowani, sebagai federasi organisasi perempuan terbesar di Indonesia, memiliki jaringan hingga ke daerah. Dewi memanfaatkan potensi ini untuk melahirkan program-program nyata: mendorong perempuan masuk ke sektor ekonomi, memajukan pendidikan, meningkatkan kesehatan, hingga menjaga lingkungan hidup.
Ia percaya, jika perempuan diberi ruang, maka mereka bukan hanya menopang ekonomi keluarga, tetapi juga bisa mengurangi angka pengangguran dan kemiskinan.
Salah satu gagasan penting Dewi adalah penguatan Usaha Kecil Menengah (UKM) yang dikelola perempuan. Ia paham betul bahwa 70 persen perempuan Indonesia berada di sektor informal.
Dengan pembinaan, pendidikan manajemen, dan dukungan akses modal, usaha kecil bisa berkembang, menyerap tenaga kerja lokal, dan mengangkat kesejahteraan keluarga. Menurut Dewi, memberdayakan perempuan berarti memberdayakan sebuah bangsa, sebab kesejahteraan keluarga berawal dari tangan seorang ibu.
Visi itu ia wujudkan dalam berbagai kerja sama strategis. Misalnya, Kowani bermitra dengan Kementerian Pemberdayaan Perempuan dan Perlindungan Anak serta Direktorat Jenderal UKM Kementerian Perindustrian untuk memberikan informasi, pelatihan, dan pembinaan kepada pengusaha perempuan.
Lewat dialog interaktif, seminar, dan pelatihan, ia membuka ruang belajar dan komunikasi lintas daerah, sehingga perempuan bisa saling menguatkan.
Tak hanya itu, Dewi juga memahami bahwa di era digital, perempuan tak boleh gagap teknologi. Pada tahun 2010, ia bahkan menggandeng Kementerian Komunikasi dan Informatika (Kemenkominfo) dalam kampanye Internet Sehat, agar perempuan dapat memanfaatkan teknologi secara bijak untuk pendidikan, usaha, dan pemberdayaan sosial.
Langkah lainnya adalah Kowani Fair, sebuah ajang untuk menumbuhkan semangat kewirausahaan perempuan Indonesia. Lewat acara ini, perempuan dari berbagai daerah dapat menampilkan produk, berbagi inspirasi, sekaligus membangun jejaring bisnis.
Jika ditarik benang merahnya, seluruh kiprah Dewi Motik selalu berpulang pada satu hal: keberpihakan kepada perempuan. Ia tahu, jalan perempuan sering kali lebih berat.
Sebagai istri dari Pramono Soekasno, dan ibu dari dua anak—Moza Pramita Pramono dan Adimaz Prarezeki Pramono—ia juga mengalami dilema klasik: bagaimana menyeimbangkan peran domestik dan publik. Namun, ia membuktikan bahwa keduanya bisa dijalani, selama ada tekad dan kesadaran bahwa perempuan bukan hanya "pelengkap", tetapi "penentu".
Perjalanan panjang Dewi Motik adalah bukti nyata bahwa perjuangan perempuan bukanlah wacana kosong. Ia mengingatkan kita bahwa kesetaraan gender bukan sekadar soal hak, tapi juga soal logika pembangunan.
Jika perempuan diberi ruang yang sama, dampaknya langsung terasa: turunnya angka kemiskinan, meningkatnya kesehatan ibu-anak, serta bertumbuhnya generasi yang lebih berpendidikan.
Artikel Terkait
Adaptasi Filosofi Jiu Jitsu, MarkPlus Institute Kenalkan Buku ‘Jurus Jitu Jualan’
Dinda Putri Maharani Resmi Anggota Baru K Pop Secret Number! Kok Bisa?
Ini Dia Kolaborasi Bilal Indrajaya dan Eva Celia Pengisi OST 'Rangga dan Cinta'!
Didukung Derby Romero, Tissa Biani Rilis EP Debutnya 'Apakah Kita?'