TINEMU.COM - MarkPlus Institute memperkenalkan buku terbarunya, “Jurus Jitu Jualan” di panggung Bandung Marketing Week 2025. Menggabungkan taktik lapangan dan strategi penjualan modern, buku ini ditujukan bagi pelaku bisnis yang ingin mempercepat pertumbuhan di tengah dinamika pasar.
Mengadaptasi filosofi Jiu Jitsu, seni bela diri yang mengandalkan ketepatan teknik, bukan kekuatan, Jurus Jitu Jualan menegaskan bahwa penjualan modern bukan soal memaksa, namun menyelaraskan solusi dengan kebutuhan pelanggan secara efektif dan berkelanjutan.
CEO MarkPlus Institute, Yosanova Savitry menjelaskan bahwa Tenaga penjual masa kini harus mampu menjadi problem solver, bukan sekadar product seller.
Baca Juga: Igo Blado dan Reggae-nya yang Membumi, 'Sunset Dealer'
“Buku ‘Jurus Jitu Jualan’ dirancang untuk membekali mereka dengan mindset, keterampilan, dan alat yang relevan di era digital, termasuk pemanfaatan AI, agar tetap kompetitif sekaligus memberi nilai tambah nyata bagi pelanggan,” ujarnya.
Yosanova juga menegaskan bahwa keterlibatan langsung, terutama saat krisis, dapat memperkuat hubungan dan mengubah masalah menjadi peluang.
Ia juga menyoroti bahwa pelanggan membeli nilai bukan sekadar harga, sehingga berfokus pada keunikan nilai agar terhindar dari perang harga dan menjangkau pelanggan yang benar-benar menghargai nilai dari produk atau jasa yang ditawarkan.
Baca Juga: Grausig Kenalkan Personil Baru dan Karya Baru 'Litani Agoni' yang Enerjik!
Dalam paparannya, Yosanova memaparkan tiga prinsip dasar penjualan modern sebagai fondasi bagi tenaga pemasar berdaya saing untuk memahami pemasaran dengan kerangka 4C (Change, Competitor, Customer, Company), menguasai literasi finansial untuk mendukung profitabilitas, serta menjadi kolaborator lintas divisi melalui prinsip QCDS (Quality, Cost, Delivery, Service) untuk menyelaraskan aktivitas bisnis dengan kebutuhan pasar.
Tiga prinsip ini menjadi pijakan bagi lima jurus penjualan efektif dan adaptif yang dibahas dalam buku “Jurus Jitu Jualan”. Jurus pertama, menjual dengan fleksibilitas berarti membangun hubungan bertahap mulai dari berkenalan, menjadi dekat, hingga akrab.
Kedua, mengubah cara pandang dengan metode SPIN Selling yang diperkaya teknologi AI untuk memahami kebutuhan pelanggan secara lebih akurat.
Baca Juga: Om Henk dan Seni yang Tak Pernah Pergi
Ketiga, penawaran kecil menuju deal besar sebagai strategi membangun kepercayaan melalui uji coba atau penawaran awal. Keempat, mengarahkan percakapan layaknya teknik kuncian dan lemparan dalam Jiu Jitsu untuk menjaga kendali negosiasi.
Terakhir, memulai langkah kecil yang tepat sasaran dengan memanfaatkan siklus Get, Keep, Grow, Win-Back serta teknologi CRM untuk mengelola hubungan pelanggan secara berkelanjutan.
Artikel Terkait
Philip Kotler Museum of Marketing with Hermawan Kartajaya Hadir di Jakarta
Semarang Jadi Kota Pembuka Rangkaian Indonesia Marketing Festival 2025
Pekanbaru Marketing Festival 2025, Perkuat Daya Saing Riau Lewat Pemasaran Berdampak
Jogja Marketing Festival 2025 Dorong Aksi Nyata Generasi Muda di Era AI
Palembang Marketing Festival 2025 Soroti AI, SDGs, dan Kolaborasi Lintas Sektor