TINEMU.COM - Ada sesuatu yang selalu hangat ketika orang menyebut nama Hendra Hadiprana. Mereka jarang mengingatnya sekadar sebagai arsitek atau kolektor. Sebutan itu terlalu sempit. Yang lebih sering muncul adalah panggilan akrab: Om Henk. Panggilan yang sederhana, tapi di baliknya tersimpan kisah tentang seorang lelaki yang menjadikan seni sebagai denyut hidupnya.
Bagi banyak seniman, Om Henk bukanlah kolektor yang duduk di balik meja, memilih karya mana yang berpotensi naik harga. Ia lebih mirip sahabat yang dengan setia mendengarkan, yang bersemangat membicarakan goresan kuas, warna, atau kegelisahan hidup yang melatarinya.
Mengoleksi, bagi Om Henk, berarti mengoleksi pertemuan-pertemuan manusia. Dan itu mungkin sebabnya banyak seniman yang merasa ia lebih seperti teman daripada pembeli.
Keputusan untuk Pulang
Tahun 1957, setelah menamatkan studi arsitektur dan desain interior di Groningen, Belanda, Om Henk membuat keputusan yang tak biasa. Banyak rekannya memilih bertahan di Eropa, mencari stabilitas yang lebih pasti. Indonesia saat itu tengah bergolak, dengan isu Irian Barat dan nasionalisasi perusahaan Belanda yang membuat masa depan tak menentu.
Tapi Om Henk pulang.
Bagi dia, pulang adalah bagian dari cinta. Pulang adalah cara untuk berkata bahwa tanah air ini, dengan segala kekacauannya, tetap lebih pantas diperjuangkan daripada kenyamanan asing. Dari keputusan itulah, jejak panjang seorang arsitek dan sahabat seniman bermula.
Lukisan Pertama
Orang sering lupa bahwa perjalanan besar selalu dimulai dengan satu momen kecil. Untuk Om Henk, itu terjadi di Hotel Des Indes, Jakarta. Di sana ia melihat lukisan Penyaliban Yesus karya Gregorius Sidharta.
Bukan hanya terpikat, ia terguncang. Lukisan itu bukan sekadar gambar, melainkan pintu ke dunia yang lain. Ia mengejarnya, berusaha memilikinya, hingga akhirnya lukisan itu benar-benar menjadi koleksi pertamanya. Dari sanalah lahir sebuah cinta yang tak pernah padam: seni modern Indonesia.
Galeri sebagai Ruang Hidup
Lalu berdirilah Galeri Hadiprana, yang pertama di Indonesia. Bukan galeri yang kaku, melainkan ruang yang hidup. Di sana, seni tak lagi terasing di museum, tapi hadir di ruang keluarga, di lobi hotel, di restoran—menyatu dengan kehidupan sehari-hari.
Om Henk percaya, arsitektur dan seni tidak bisa dipisahkan. Sebuah bangunan tanpa seni hanyalah wadah kosong. Tapi ketika seni hadir, ruang itu bernapas. Ada jiwa yang menyalakan suasana. Ia sering berkata: “Arsitektur adalah cara hidup, sebuah sikap untuk menghargai seni dan budaya.”
Persahabatan yang Bertahan
Apa yang tersisa dari semua koleksi dan pameran itu? Lebih dari sekadar kanvas atau patung, yang tertinggal adalah persahabatan. Johanda, manajer Galeri Hadiprana selama lebih dari dua dekade, menyebut Om Henk selalu mengikuti perjalanan tiap seniman yang ia dukung—bukan hanya karyanya, tetapi juga hidupnya. Ia hadir ketika mereka berjuang, dan ikut bahagia ketika mereka berhasil.
Itulah sebabnya, bahkan setelah ia tiada, para seniman masih menyebutnya dengan penuh hangat. Sebagai kawan, bukan sekadar patron.
Napak Tilas yang Menyentuh
Kini, pameran “Napak Tilas Seni” yang digelar 23 Agustus – 15 September 2025 bukan hanya upaya mengenang kelahiran Om Henk atau ulang tahun kemerdekaan ke-80. Ia lebih dari itu: sebuah undangan untuk melihat kembali jejak cinta yang pernah ditorehkan.
Putrinya, Puri Hadiprana, mengatakan: “Napak tilas adalah saat semua orang tak meninggalkan sejarah. Koleksi ini meneguhkan bahwa seni itu jujur dan dicintai dengan hati di tiap era.”
Dan benar adanya. Melihat koleksi-koleksi itu, seakan kita melihat kembali langkah seorang lelaki yang pernah memutuskan untuk pulang, yang percaya bahwa seni Indonesia punya tempat setara dengan dunia, yang memilih bersahabat daripada berjarak.