Mungkin yang paling menyentuh dari sosok Dewi adalah keberaniannya untuk selalu lantang berkata: "Budaya patuh itu menyusahkan." Ia menolak narasi lama bahwa perempuan harus lebih banyak diam. Sebaliknya, ia membuka jalan bagi perempuan untuk bersuara, memilih, dan mengambil peran penting dalam masyarakat.
Kini, ketika kita melihat jejaknya, kita bisa belajar satu hal penting: perempuan yang berdaya bukan hanya mengubah hidupnya sendiri, tapi juga mengubah wajah bangsa. Warisan perjuangan itu ia padukan pula dengan kepedulian pada kebudayaan.
Dewi Motik Pramono adalah pemilik Galeri Demono, ruang seni yang menyimpan ratusan koleksi batik, songket, dan tenun dari seluruh penjuru Nusantara—sebuah bukti cintanya pada tradisi dan identitas bangsa, yang ia rawat sejajar dengan kiprah panjangnya dalam pemberdayaan perempuan.***