TINEMU.COM - Agustus mengingatkan kita dengan Soekarno. Ia berada di panggung sejarah. Di panggung terhormat, ia menjadi tokoh besar. Ketokohan dan sejarah bisa kita baca dalam buku berjudul Bung Karno: Penjambung Lidah Rakjat (1966) susunan Cindy Adams.
Ia ditampilkan sebagai “pemenang” dalam sejarah bertahun 1945. Ia pun pernah “kalah”, “kecewa”, “malu”, dan “sebal” tak selalu harus berkaitan sejarah-sejarah akbar. Soekarno masa kecil dan remaja menjadi sosok mengerti perbedaan nasib dan identitas di tanah jajahan. Ia mengalami dan mengartikan melalui lapangan, belum panggung sejarah.
Baca Juga: IT (Immersive Tech) Resmikan Gerai pertamanya di Surabaya
Soekarno dan sepak bola. Ia mendapat pengalaman buruk. Soekarno bercerita: “Bagaimanapun djuga, ada permainan dimana seorang anak bangsa Indonesia dari djamanku tidak dapat menundjukkan keahliannja. Misalnja perkumpulan sepakbola. Aku bukan hanja tidak bisa mendjadi ketuanja, bahkan aku tidak dapat lama mendjadi anggotanja. Anggota jang lain adalah anak-anak Belanda jang terus terang tidak senang padaku. Anak Belanda tidak pernah bermain dengan anak Bumiputera. Ini tidak bisa. Mereka orang Barat jang putih seperti saldju, jang asli, jang baik dan mereka memandang rendah kepadaku karena aku anak Bumiputera atau inlander.”
Sosok itu perlahan bermasalah dengan sepak bola. Ia merasa diledek oleh anak-anak Belanda tapi sadar sepak bola tetap memberi masalah-masalah. “Itu merupakan pengalaman pahit jang membikin hati luka didalam,” kenang Soekarno. Pengalaman susah dihapus.
Pada situasi berbeda, Soekarno mengerti sepak bola demi pemuliaan Indonesia. Pada masa 1930-an dan 1940-an, Soekarno mendapat bukti berbeda. Sepakbola itu berurusan nasionalisme melalui pendirian PSSI dan pelaksanaan PON I.
Biografi bukan acuan bagi Soekarno meramalkan nasib sepakbola Indonesia bakal sial, minder, dan kecewa di hadapan negara-negara lain. Soekarno sanggup berpikir serius tentang politik, bukan untuk sepakbola. Di surat kabar terbitan masa 1950-an, kita biasa melihat foto Soekarno bersama para pemain sepakbola atau pengurus PSSI. Kehadiran berkaitan politik dan keinginan memajukan sepak bola. Foto-foto lama itu kenangan saja. Soekarno memang memperhatikan sepak bola tapi tak memiliki “fatwa” agar Indonesia menang di Asia atau dunia. Sepak bola tetap saja bernasib “pahit” sampai sekarang meski Soekarno bukan pengisah atau pemberi penjelasan terbaik berlatar sejarah.
Baca Juga: KILA 2023 Sajikan Hiburan Lagu Anak Indonesia Berkualitas
Di majalah Tempo, 29 Desember 2014-4 Januari 2015, kita melihat sampul depan menampilkan gambar Cindy Adams berusia tua memegang buku mengenai Soekarno. Sampul berwarna merah. Tulisan dalam majalah mengulas dan sodorkan jawaban atas tuduhan Cindy Adams terlibat CIA. Kita lekas mengingat Amerika Serikat. Di situ, kita membaca masalah Soekarno dan sepakbola tapi ada masalah pelik mengenai sepakbola dan konflik-konflik di Indonesia.
Kita membaca pujian untuk film: “Penuturan makro hingga mikro inilah yang menjadikan Cahaya dari Timur begitu berharga. Angga dan kawan-kawan sukses mengurai perkembangan kehidupan bersama di Maluku pascareformasi–dan bagaimana sepak bola berperan di dalamnya, secara personal ataupun sosial.”
Sepakbola untuk merampungkan konflik. Sepak bola mencipta keselarasan dan kebersamaan meski terus mendapat godaan politik. Sepak bola itu film, berbeda kesan dari pembacaan kita untuk biografi Soekarno.
Baca Juga: KILA 2023 Sajikan Hiburan Lagu Anak Indonesia Berkualitas
Ingat Cindy Adam, ingat Soekarno. Kita pun menambahi ingatan kejengkelan. Pada suatu hari, Messi “dijanjikan” bisa hadir di Indonesia dalam pertandingan Indonesia-Argentina. Jutaan orang berharap melihat sosok terpenting dalam sepak bola dunia abad XXI. Mereka kecewa gara-gara Messi tak datang. Pada hari berbeda, Messi rajin bertanding di Amerika Serikat. Kita menduga saja bahwa Indonesia tak menarik dalam sepak bola.
Kita tinggalkan Soekarno, berganti mengenang Gus Dur. Pada masa sebelum menjadi presiden, ia biasa menonton pertandingan sepak bola di Indonesia, Irak, Mesir, dan pelbagai negara. Ia bukan bermaksud menjadi pemain sepak bola.