TINEMU.COM - Pada suatu masa, buku-buku itu diterbitkan Gramedia Pustaka Utama. Ukuran buku sering kecil. Penampilan sampul tebar godaan agar orang-orang terpanggil: membeli dan membaca. Jajaran buku-buku di rak toko buku memastikan laris dan mengesahkan pengarang itu terkenal.
Buku-buku cetak ulang biasa berganti sampul. Kita masih ingat perubahan jenis kertas pun terjadi. Pada misi penghormatan, buku-buku dicetak dalam ukuran besar dan sampul tebal. Buku-buku masih terus bersama kita meski abad telah berganti.
Kita mengenang Marga T (27 Januari 1943-17 Agustus 2023) dan buku-buku. Di Indonesia, pengarang terkenal itu telah memberi warisan buku-buku. Ia mengerti jutaan orang di Indonesia memerlukan bacaan. Ia persembahan cerita-cerita. Orang-orang kadang cuma ingin mengingat Karmila, Badai Pasti Berlalu, Bukan Impian Semusim, dan Gema Sebuah Hati. Ia tak cukup dikenali cuma dengan empat buku.
Baca Juga: Mengharukan, Kaesang Pangarep Berniat Berikan Sepeda Hadiah dari Presiden Jokowi untuk Ayahnya
Sejak masa 1970-an, orang-orang terpikat cerita-cerita gubahan Marga T. Mereka menjadi penggemar dan kolektor. Pada saat industri buku makin marak, para pembaca lama ingat perpindahan buku-buku Marga T melalui dua penerbit besar: Gaya Favorit Press ke Gramedia (Pustaka Utama). Pembaca terlalu memberi perhatian pasti mengingat buku Marga T pernah diterbitkan Balai Pustaka.
Perbincangan seru tak sekadar cerita-cerita biasa diangkat menjadi film. Para pembaca dan penggemar mulai penasaran dengan pengarang. Mereka ingin mengetahui foto-foto Marga T. Pengharapan itu makin membesar saat buku-buku Marga T terbitan Gramedia (Pustaka Utama) mulai tak “mementingkan” foto Marga T. Di koran dan majalah, orang-orang ingin mengetahui foto-foto Marga T. Di internet, mereka pun melacak mengikuti penasaran.
Di Indonesia, kemunculan dan ketenaran pengarang biasa dibarengi dengan produksi foto-foto. Pada masa lalu, pengarang-pengarang biasa memiliki koleksi puluhan atau ratusan foto untuk turut dicetak di buku-buku. Foto juga digunakan dalam berita, profil, atau wawancara di koran, tabloid, dan majalah.
Baca Juga: Ragam Busana Adat Nusantara Warnai Istana Merdeka
Pada abad XXI, produksi foto pengarang-pengarang (tenar) makin berlimpahan. Mereka biasa menaruh di media sosial, tak cukup di media-media cetak. Di buku-buku, foto mereka biasa berganti atau mementingkan foto agar para pembaca mengagumi. Buku itu cerita dan foto pengarang.
Kini, kita ingin mengenang dengan dua foto masih bisa ditemukan sambil menunggu tambahan foto-foto dari pelbagai sumber. Di media sosial, kita melihat foto Marga T saat tua. Foto digunakan dalam mengabarkan duka dan pamitan. Sekian orang ingin mengetahui foto-foto saat masih muda. Foto-foto saat ia mulai tenar sebagai penulis cerita terbit di koran dan majalah, berlanjut menghasilkan buku-buku.
Di depan kita, buku berjudul Bukan Impian Semusim (1976) terbitan Gaya Favorit Press. Sampul dengan nuansa hijau. Di sampul belakang, kita melihat foto Marga T. Sosok masih muda dengan rambut tak panjang. Wajah itu belum menampilkan kacamata. Foto menjadikan pembaca bisa akrab dengan pengarang. Foto memberi imbuhan untuk mengimajinasikan kehidupan keseharian, profesi, dan ketekunan dalam menggubah cerita.
Baca Juga: Inilah Kesan Para Paskibraka Usai Bertugas di Istana Merdeka
Tampilan itu berubah saat kita berhadapan buku berjudul Secercah Senyum Seabad Lalu (1986), terbitan Gaya Favorit Press. Sampul bernuansa warna putih. Kita melihat cerah. Foto di sampul belakang: Marga T berwajah semringah. Ia sudah bertambah umur. Rambu tetap tidak dibiarkan memanjang. Kita melihat Marga T berkacamata. Pengarang itu tampak anggun tapi tak mengurangi pemahaman kita bahwa Marga T termasuk sosok mahir suguhkan humor dalam cerita-cerita. Wajah itu mengesankan tertawa.
Di hadapan dua buku lama, kita kembali melihat dua foto Marga T. Kita mengingat ia sebagai pengarang memang tak terlalu suka berbagi foto saat buku-buku sering diterbitkan Gramedia (Pustaka Utama). Sikap pengarang dan kebijakan pengarang sempat memicu penasaran ribuan atau jutaan pembaca buku-buku Marga T, dari masa ke masa. Begitu.**
Artikel Terkait
100 Orang Ikuti Ruwatan Sukerto untuk Bersihkan Jiwa
Mengenal Permainan Anak Patheng Dudu, Dam Daman, dan Egrang Batok
Anak: Sandiwara dan Negara
Ketika RW 12 Tityan Indah Jadi Duta Kampung Tangguh Jaya, Catatan yang Tercecer
Arkeolog Tolak Pemasangan Chatra Borobudur, Kemenag Jelaskan Perspektif Keagamaannya