Marga T dalam Dua Foto Lama

photo author
Bandung Mawardi, Tinemu
- Minggu, 20 Agustus 2023 | 16:19 WIB
Sampul Belakang Novel Impian Semusim karya Marga T (Koleksi Pribadi Bandung Mawardi)
Sampul Belakang Novel Impian Semusim karya Marga T (Koleksi Pribadi Bandung Mawardi)

TINEMU.COM - Pada suatu masa, buku-buku itu diterbitkan Gramedia Pustaka Utama. Ukuran buku sering kecil. Penampilan sampul tebar godaan agar orang-orang terpanggil: membeli dan membaca. Jajaran buku-buku di rak toko buku memastikan laris dan mengesahkan pengarang itu terkenal.

Buku-buku cetak ulang biasa berganti sampul. Kita masih ingat perubahan jenis kertas pun terjadi. Pada misi penghormatan, buku-buku dicetak dalam ukuran besar dan sampul tebal. Buku-buku masih terus bersama kita meski abad telah berganti.

Kita mengenang Marga T (27 Januari 1943-17 Agustus 2023) dan buku-buku. Di Indonesia, pengarang terkenal itu telah memberi warisan buku-buku. Ia mengerti jutaan orang di Indonesia memerlukan bacaan. Ia persembahan cerita-cerita. Orang-orang kadang cuma ingin mengingat KarmilaBadai Pasti BerlaluBukan Impian Semusim, dan Gema Sebuah Hati. Ia tak cukup dikenali cuma dengan empat buku.

Baca Juga: Mengharukan, Kaesang Pangarep Berniat Berikan Sepeda Hadiah dari Presiden Jokowi untuk Ayahnya

Sejak masa 1970-an, orang-orang terpikat cerita-cerita gubahan Marga T. Mereka menjadi penggemar dan kolektor. Pada saat industri buku makin marak, para pembaca lama ingat perpindahan buku-buku Marga T melalui dua penerbit besar: Gaya Favorit Press ke Gramedia (Pustaka Utama). Pembaca terlalu memberi perhatian pasti mengingat buku Marga T pernah diterbitkan Balai Pustaka.

Perbincangan seru tak sekadar cerita-cerita biasa diangkat menjadi film. Para pembaca dan penggemar mulai penasaran dengan pengarang. Mereka ingin mengetahui foto-foto Marga T. Pengharapan itu makin membesar saat buku-buku Marga T terbitan Gramedia (Pustaka Utama) mulai tak “mementingkan” foto Marga T. Di koran dan majalah, orang-orang ingin mengetahui foto-foto Marga T. Di internet, mereka pun melacak mengikuti penasaran.

Di Indonesia, kemunculan dan ketenaran pengarang biasa dibarengi dengan produksi foto-foto. Pada masa lalu, pengarang-pengarang biasa memiliki koleksi puluhan atau ratusan foto untuk turut dicetak di buku-buku. Foto juga digunakan dalam berita, profil, atau wawancara di koran, tabloid, dan majalah.

Baca Juga: Ragam Busana Adat Nusantara Warnai Istana Merdeka

Pada abad XXI, produksi foto pengarang-pengarang (tenar) makin berlimpahan. Mereka biasa menaruh di media sosial, tak cukup di media-media cetak. Di buku-buku, foto mereka biasa berganti atau mementingkan foto agar para pembaca mengagumi. Buku itu cerita dan foto pengarang.

Kini, kita ingin mengenang dengan dua foto masih bisa ditemukan sambil menunggu tambahan foto-foto dari pelbagai sumber. Di media sosial, kita melihat foto Marga T saat tua. Foto digunakan dalam mengabarkan duka dan pamitan. Sekian orang ingin mengetahui foto-foto saat masih muda. Foto-foto saat ia mulai tenar sebagai penulis cerita terbit di koran dan majalah, berlanjut menghasilkan buku-buku.

Sampul Belakang Novel Secercah Senyum Seabad Lalu karya Marga T
Sampul Belakang Novel Secercah Senyum Seabad Lalu karya Marga T (Koleksi Pribadi Bandung Mawardi)

Di depan kita, buku berjudul Bukan Impian Semusim (1976) terbitan Gaya Favorit Press. Sampul dengan nuansa hijau. Di sampul belakang, kita melihat foto Marga T. Sosok masih muda dengan rambut tak panjang. Wajah itu belum menampilkan kacamata. Foto menjadikan pembaca bisa akrab dengan pengarang. Foto memberi imbuhan untuk mengimajinasikan kehidupan keseharian, profesi, dan ketekunan dalam menggubah cerita. 

Baca Juga: Inilah Kesan Para Paskibraka Usai Bertugas di Istana Merdeka

Tampilan itu berubah saat kita berhadapan buku berjudul Secercah Senyum Seabad Lalu (1986), terbitan Gaya Favorit Press. Sampul bernuansa warna putih. Kita melihat cerah. Foto di sampul belakang: Marga T berwajah semringah. Ia sudah bertambah umur. Rambu tetap tidak dibiarkan memanjang. Kita melihat Marga T berkacamata. Pengarang itu tampak anggun tapi tak mengurangi pemahaman kita bahwa Marga T termasuk sosok mahir suguhkan humor dalam cerita-cerita. Wajah itu mengesankan tertawa.

Di hadapan dua buku lama, kita kembali melihat dua foto Marga T. Kita mengingat ia sebagai pengarang memang tak terlalu suka berbagi foto saat buku-buku sering diterbitkan Gramedia (Pustaka Utama). Sikap pengarang dan kebijakan pengarang sempat memicu penasaran ribuan atau jutaan pembaca buku-buku Marga T, dari masa ke masa. Begitu.**

Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel
di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.

Editor: Dedy Tri Riyadi

Tags

Artikel Terkait

Rekomendasi

Terkini

Aldi Taher dan Konser Dadakan Kembang Tahu

Selasa, 7 April 2026 | 00:02 WIB

Air Keras atau Asam Sulfat

Kamis, 19 Maret 2026 | 18:30 WIB

Berpuasa Ramadan Tanpa Buka Puasa Bersama

Selasa, 17 Maret 2026 | 12:00 WIB

Tanda Bahaya Itu Sudah Sejak Lama Berdentang...

Senin, 9 Februari 2026 | 05:45 WIB

Mengapa Kita Tidak Pernah Berinvestasi di Bidang Seni?

Selasa, 27 Januari 2026 | 06:40 WIB

Kisah Pramugari Gadungan

Minggu, 11 Januari 2026 | 20:43 WIB
X