TINEMU.COM - Royyan Julian, sastrawan yang baru-baru ini memenangkan lomba manuskrip puisi Dewan Kesenian Jakarta, dalam status facebooknya menyoal kata "bhiru" yang dalam khazanah keseharian penduduk Madura berarti hijau.
Royyan Julian, yang juga buku karyanya yang berjudul "Ludah Nabi di Lidah Syekh Raba" beroleh penghargaan hadiah sastra situs nongkrong.co, tergelitik dengan kata "bhiru" tersebut dari pembicaraan di kedai kopi bahwa orang Madura tidak punya kosakata yang bermakna biru mengingat kata "bhiru" itu justru bermakna hijau, sedangkan untuk biru sendiri kata "bhiru" perlu ditambahkan dengan kata "langnge" (langit).
Dengan membayangkan protobudaya Madura yang berada di kawasan pesisir, menurut Royyan Julian yang baru saja menerbitkan buku Madura Niskala ini, kata "bhiru" sememangnya bermakna "biru."
Baca Juga: Kiprah Roda Gerobak Sapi dari Era Kolonial Hingga Era Digital
Dalam statusnya, ia menulis; kultur primordial Madura adalah budaya maritim, bukan kontinental. Sebagai masyarakat bahari, kosakata yang berkaitan dengan laut lebih dibutuhkan ketimbang lema tetumbuhan. Akibatnya, kekayaan bahasa kemaritiman berkembang lebih cepat ketimbang perbendaharaan bahasa kekontinentalan.
Untuk mendekatkan dugaannya bahwa Orang Madura lebih karib dengan budaya nelayan ketimbang agraria, Royyan juga menuliskan bahwa kosmogoni masyarakat Pulau Garam ini menghadirkan prototipe figur manusia laut yaitu, Raden Segara.
Raden Segara sebagai sosok manusia Madura dalam legendanya secara simbolis ditakdirkan lahir di tengah-tengah laut, bukan di Negeri Gilingwesi, asal ibunya. Sementara itu, Pangeran Katandur yang merupakan 'santo' pelindung dunia agraris masyarakat Madura muncul jauh setelah legenda Pangeran Segara.
Baca Juga: Presiden Jokowi Menghimbau Tiga Jenis Usaha Agar Fokus Pada Kebutuhan Dalam Negeri
Bahkan, Syekh Ahmad Baidawi - nama daging Pangeran Katandur ini - merupakan misionaris Sunan Kudus yang berasal dari Jawa.
Selain itu, peribahasa 'berbantal ombal berselimut angin' dalam lagu "Tandhuk Majâng" (tiba berlayar) memperlihatkan representasi atas ketangguhan manusia Madura lebih populer ketimbang watak orang Madura yang digambarkan dalam tradisi-tradisi lisan yang berkaitan dengan pertanian.
Artikel Terkait
Ersta Andantino Mengunjungi Kembali Tanah Baduy
Perkenalkan: Very Peri, Warna Tahun 2022 dari Pantone Color Institute
Aktris Penyanyi Nindy Ellese Meninggal Dunia