Royyan Julian, Kata "Bhiru" dalam Bahasa Madura Sememangnya Biru

photo author
Dedy Tri Riyadi, Tinemu
- Senin, 3 Januari 2022 | 21:34 WIB
Royyan Julian (Tengah) dalam Acara Diskusi Sastra
Royyan Julian (Tengah) dalam Acara Diskusi Sastra

TINEMU.COM - Royyan Julian, sastrawan yang baru-baru ini memenangkan lomba manuskrip puisi Dewan Kesenian Jakarta, dalam status facebooknya menyoal kata "bhiru" yang dalam khazanah keseharian penduduk Madura berarti hijau.

Royyan Julian, yang juga buku karyanya yang berjudul "Ludah Nabi di Lidah Syekh Raba" beroleh penghargaan hadiah sastra situs nongkrong.co, tergelitik dengan kata "bhiru" tersebut dari pembicaraan di kedai kopi bahwa orang Madura tidak punya kosakata yang bermakna biru mengingat kata "bhiru" itu justru bermakna hijau, sedangkan untuk biru sendiri kata "bhiru" perlu ditambahkan dengan kata "langnge" (langit).

Dengan membayangkan protobudaya Madura yang berada di kawasan pesisir, menurut Royyan Julian yang baru saja menerbitkan buku Madura Niskala ini, kata "bhiru" sememangnya bermakna "biru."

Baca Juga: Kiprah Roda Gerobak Sapi dari Era Kolonial Hingga Era Digital

Dalam statusnya, ia menulis; kultur primordial Madura adalah budaya maritim, bukan kontinental. Sebagai masyarakat bahari, kosakata yang berkaitan dengan laut lebih dibutuhkan ketimbang lema tetumbuhan. Akibatnya, kekayaan bahasa kemaritiman berkembang lebih cepat ketimbang perbendaharaan bahasa kekontinentalan.

Untuk mendekatkan dugaannya bahwa Orang Madura lebih karib dengan budaya nelayan ketimbang agraria, Royyan juga menuliskan bahwa kosmogoni masyarakat Pulau Garam ini menghadirkan prototipe figur manusia laut yaitu, Raden Segara.

Raden Segara sebagai sosok manusia Madura dalam legendanya secara simbolis ditakdirkan lahir di tengah-tengah laut, bukan di Negeri Gilingwesi, asal ibunya.  Sementara itu, Pangeran Katandur yang merupakan 'santo' pelindung dunia agraris masyarakat Madura muncul jauh setelah legenda Pangeran Segara.

Baca Juga: Presiden Jokowi Menghimbau Tiga Jenis Usaha Agar Fokus Pada Kebutuhan Dalam Negeri

Bahkan, Syekh Ahmad Baidawi - nama daging Pangeran Katandur ini - merupakan misionaris Sunan Kudus yang berasal dari Jawa.

Selain itu, peribahasa 'berbantal ombal berselimut angin' dalam lagu "Tandhuk Majâng" (tiba berlayar) memperlihatkan representasi atas ketangguhan manusia Madura lebih populer ketimbang watak orang Madura yang digambarkan dalam tradisi-tradisi lisan yang berkaitan dengan pertanian.

Lebih jauh lagi, Royyan menulis bahwa perkembangan budaya maritim di Madura lebih gegas ketimbang kultur kontinentalnya karena dipicu oleh akses pangan. Tinggal di wilayah pesisir agaknya lebih memungkinkan untuk sintas ketimbang tinggal di pedalaman.
 
 
Madura tidak memiliki banyak hutan. Daerah alas hanya menempati enam persen dari seluruh area pulau ini. Itu dulu. Dan peradaban pertanian Madura era baheula belum semaju saat ini.
 
Hutan dan vegetasi sebagai pemilik asali warna hijau tidak terlalu dibutuhkan sebagai bagian tindak tutur orang Madura sehingga 'bhiru' dalam arti biru lebih memungkinkan ketimbang 'bhiru' dalam arti hijau.
 
Tambahnya lagi, menurut Royyan Julian, bahasa Madura serumpun dengan bahasa deutero-Melayu seperti Jawa atau Sunda (teori proto-deutero sebagai genealogi gelombang hijrah insan Nusantara sudah tidak relevan) sehingga kata 'bhiru' yang merujuk pada arti biru lebih masuk akal ketimbang hijau.
 
 
Jika disoal mengapa orang Madura lebih suka menyebut 'bhiru langngè'' (biru langit) ketimbang 'bhiru tasè'' (biru laut) dan hanya cukup menyebut 'bhiru' untuk hijau, Royyan menduga persoalan tersebut disebabkan oleh hegemoni budaya pedalaman.
 
Ketika kultur maritim menipis, menurutnya, budaya kontinental yang menebal cukup menyebut 'bhiru' untuk "hijau" dan kata 'bhiru + langngè' untuk "biru". Langit menggantikan laut, sebab orang pedalaman jarang melihat laut.**

Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel
di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.

Editor: Dedy Tri Riyadi

Sumber: Facebook

Tags

Artikel Terkait

Rekomendasi

Terkini

Aldi Taher dan Konser Dadakan Kembang Tahu

Selasa, 7 April 2026 | 00:02 WIB

Air Keras atau Asam Sulfat

Kamis, 19 Maret 2026 | 18:30 WIB

Berpuasa Ramadan Tanpa Buka Puasa Bersama

Selasa, 17 Maret 2026 | 12:00 WIB

Tanda Bahaya Itu Sudah Sejak Lama Berdentang...

Senin, 9 Februari 2026 | 05:45 WIB

Mengapa Kita Tidak Pernah Berinvestasi di Bidang Seni?

Selasa, 27 Januari 2026 | 06:40 WIB

Kisah Pramugari Gadungan

Minggu, 11 Januari 2026 | 20:43 WIB
X