TINEMU.COM - Siapa yang belum kenal angkutan yang ditarik dua ekor sapi?. Angkutan itu lazim disebut gerobak sapi. Perjalanan panjang gerobak sapi telah dilampaui dari era kolonial hingga era digital 4.0, meski kiprahnya terus berganti dalam melintasi pergerakan zaman.
Gerobak Sapi di Masa Kolonial
Pada awalnya di masa kolonial, gerobak sapi merupakan kendaraan eksklusif. Sebab tak kebanyakan masyarakat bisa memilikinya, sehingga pemilik gerobak sapi adalah mereka para orang-orang kaya di masa lalu yang memiliki lahan sawah dan pertanian yang luas.
Nah, mereka para juragan itu memerlukan gerobak sapi untuk mengangkut dan menjual hasil bumi mereka melintasi daerah ke daerah. Seperti truk, pickup yang digunakan pada saat ini.
Baca Juga: Obat Kangen Jogja, Bisa Kulineran Asyik di Resto Mewah alias Resto Mepet Sawah
Menariknya lagi, para kusir gerobak sapi biasa dipanggil dengan para Bajingan. Di mana di masa perjuangan kemerdekaan Indonesia, para Bajingan itu mengambil peran membantu para gerilyawan, dengan menyelundupkan senjata dan perbekalan.
Baca Juga: Peringati Ulang Tahun Ke-76, Yuk Simak Sejarah Berdirinya Kementerian Agama
Tak hanya senjata dan perbekalan, kadang para gerilyawan juga diangkut gerobak sapi. Mereka aman bersembunyi didalam bentuknya yang tertutup dibantu sukarelawan yaitu para Bajingan yang mempertaruhkan nyawa, utamanya saat melintasi perbatasan yang dijaga tentara penjajah.
Gerobak Sapi di Masa Kemerdekaan
Kemudian dalam perkembangannya, sekitar era tahun delapan puluhan di Jogja, gerobak sapi menjadi angkutan massal masyarakat dari pedesaan di daerah Bantul dan sekitarnya, yang bergerak beriringan menuju ke alun-alun kraton kota Jogja untuk melihat Sekatenan.
Baca Juga: Return To Hogwarts, Mengembalikan Kenangan Kita dari Setiap Film Harry Potter
Melihat peran sejarahnya, Sri Sultan Hamengkubuwono ke X menjadikan gerobak sapi sebagai warisan budaya bangsa. Untuk itulah digelar Festival Gerobak Sapi yang dilakukan setiap tahun sejak 2013, yang biasa diikuti oleh ratusan peserta, memperebutkan piala bergilir Sri Sultan hamengkubuwono ke X.