Kiprah Para Bajingan dari Era Kolonial Hingga Era Digital

photo author
Zabidi Sayidi, Tinemu
- Senin, 3 Januari 2022 | 21:31 WIB
ffoto tangkap layer dari festivalgerobaksapi
ffoto tangkap layer dari festivalgerobaksapi

TINEMU.COM - Siapa yang belum kenal angkutan yang ditarik dua ekor sapi?. Angkutan itu lazim disebut gerobak sapi. Perjalanan panjang gerobak sapi telah dilampaui dari era kolonial hingga era digital 4.0, meski kiprahnya terus berganti dalam melintasi pergerakan zaman.

ffoto tangkap layer dari festivalgerobaksapi
ffoto tangkap layer dari festivalgerobaksapi

Gerobak Sapi di Masa Kolonial

Pada awalnya di masa kolonial, gerobak sapi merupakan kendaraan eksklusif. Sebab tak kebanyakan masyarakat bisa memilikinya, sehingga pemilik gerobak sapi adalah mereka para orang-orang kaya di masa lalu yang memiliki lahan sawah dan pertanian yang luas.

Nah, mereka para juragan itu memerlukan gerobak sapi untuk mengangkut dan menjual hasil bumi mereka melintasi daerah ke daerah. Seperti truk, pickup yang digunakan pada saat ini.

Baca Juga: Obat Kangen Jogja, Bisa Kulineran Asyik di Resto Mewah alias Resto Mepet Sawah

Menariknya lagi, para kusir gerobak sapi biasa dipanggil dengan para Bajingan. Di mana di masa perjuangan kemerdekaan Indonesia, para Bajingan itu mengambil peran membantu para gerilyawan, dengan menyelundupkan senjata dan perbekalan.

Baca Juga: Peringati Ulang Tahun Ke-76, Yuk Simak Sejarah Berdirinya Kementerian Agama

Tak hanya senjata dan perbekalan, kadang para gerilyawan juga diangkut gerobak sapi. Mereka aman bersembunyi didalam bentuknya yang tertutup dibantu sukarelawan yaitu para Bajingan yang mempertaruhkan nyawa, utamanya saat melintasi perbatasan yang dijaga tentara penjajah.

ffoto tangkap layer dari festivalgerobaksapi
ffoto tangkap layer dari festivalgerobaksapi

Gerobak Sapi di Masa Kemerdekaan

Kemudian dalam perkembangannya, sekitar era tahun delapan puluhan di Jogja, gerobak sapi menjadi angkutan massal masyarakat dari pedesaan di daerah Bantul dan sekitarnya, yang bergerak beriringan menuju ke alun-alun kraton kota Jogja untuk melihat Sekatenan.

Baca Juga: Return To Hogwarts, Mengembalikan Kenangan Kita dari Setiap Film Harry Potter

Melihat peran sejarahnya, Sri Sultan Hamengkubuwono ke X menjadikan gerobak sapi sebagai warisan budaya bangsa. Untuk itulah digelar Festival Gerobak Sapi yang dilakukan setiap tahun sejak 2013, yang biasa diikuti oleh ratusan peserta, memperebutkan piala bergilir Sri Sultan hamengkubuwono ke X.

Halaman:
Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel
di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizinĀ redaksi.

Editor: Zabidi Sayidi

Tags

Rekomendasi

Terkini

Malioboro, Tempat Rindu Berjalan Pelan

Senin, 13 April 2026 | 16:22 WIB

Kolom Buku Belum Berlalu: Tak Ada Keraguan

Jumat, 27 Maret 2026 | 07:05 WIB

Ermy Kullit, All That Jazz!

Jumat, 27 Maret 2026 | 02:33 WIB

Kolom Buku Belum Berlalu: Gudang Garam dan Buku

Kamis, 26 Maret 2026 | 17:39 WIB

Kolom Buku Belum Berlalu: Kota dan Pembaca

Kamis, 26 Maret 2026 | 16:17 WIB

Kolom Buku Belum Berlalu: Menjual Lima Buku

Sabtu, 21 Maret 2026 | 19:10 WIB

Kolom Buku Belum Berlalu: Bacaan Bertambah

Sabtu, 21 Maret 2026 | 17:27 WIB

Kolom Buku Belum Berlalu: Mewariskan Tulisan

Jumat, 20 Maret 2026 | 12:16 WIB

Kolom Buku Belum Berlalu: Jari dan Anak

Jumat, 20 Maret 2026 | 09:51 WIB

Kolom Buku Belum Berlalu: Jawa Dibukukan

Kamis, 19 Maret 2026 | 17:48 WIB

Perang Dagang di Nusantara pada Masa Lalu

Kamis, 12 Maret 2026 | 10:52 WIB

Kolom Buku Belum Berlalu: Radikal di Masa Kolonial

Selasa, 10 Maret 2026 | 16:18 WIB

Kolom Buku Belum Berlalu: Lima Halaman

Jumat, 6 Maret 2026 | 13:03 WIB

Kolom Buku Belum Berlalu: Tulisan dan Tua

Rabu, 25 Februari 2026 | 14:07 WIB

Kolom Buku Belum Berlalu: Buku Sesuai Kurikulum

Rabu, 25 Februari 2026 | 12:53 WIB

Kolom Buku Belum Berlalu: Puisi dan Penerbit

Rabu, 25 Februari 2026 | 11:29 WIB

Kolom Buku Belum Berlalu: Pertama dan Lengkap

Rabu, 25 Februari 2026 | 10:15 WIB
X