TINEMU. COM - Sebagai penggemar Liverpool, jelas saya punya alasan untuk bersedih atas hasil laga Final Liga Champion 2021-2022 yang diadakan di Stade de France di mana Real Madrid yang menjadi pemenangnya.
Namun, saya juga punya alasan untuk tidak terlalu larut dalam kesedihan. Ada beberapa alasan, bahkan, untuk tidak meneruskan kesedihan atas kekalahan Liverpool itu, yaitu;
- Besok hari Senin. Harinya orang harus kembali bekerja setelah libur di akhir pekan,
- Masih ada pekerjaan yang harus segera diselesaikan seperti rencana kampanye iklan di akhir Juni dan di bulan Juli 2022 mendatang, rekapitulasi hasil rapat dengan berbagai vendor yang menawarkan beberapa kekhasan sendiri-sendiri yang bisa dimanfaatkan sebagai kendaraan iklan dari para pengiklan,
- Ada satu karyawan baru yang masih di tahap probation yang harus segera beradaptasi dengan pekerjaan sehingga beberapa hari ke depan benar-benar harus mendapatkan semacam pelatihan singkat atas gambaran pekerjaan dan perangkat atau peralatan kerjanya, serta
- Alasan-alasan lain, yang misalnya bisa dikemukakan tanpa harus disangkutpautkan dengan pekerjaan, bahkan lebih jauh lagi tentang hidup kita sendiri, atau malah yang remeh tapi perlu waktu khusus semisal mempelajari Clarice Lispector dalam menulis setiap cerita pendeknya, dalam buku "The Complete Stories."
Baca Juga: Bio One dan Kerja Keras Pemeran Film Srimulat: Hil yang Mustahal Babak Pertama
Anda bisa juga membuat alasan-alasan yang benar-benar berbeda dengan daftar saya ini, baik untuk melupakan gol Vinicius Jr. ke gawang Alisson, atau ditahannya bola dari Mohamed Salah oleh Thibaut Courtois dalam laga yang membuat 50 ribu pendukung Liverpool datang ke Paris itu.
Namun yang pasti, ucapan Jurgen Klopp yang berisikan keyakinan bahwa Liverpool akan masuk ke final Liga Champion musim 2022 - 2023 bisa menjadi harapan yang segera memupus kesedihan pagi tadi. Hal ini berarti, Klopp sudah mengerti betul kesulitan yang dialami oleh anak-anak asuhannya saat menghadapi berkumpulnya para pemain belakang lawan di kotak 16 besar.
Sebelum melawan Real Madrid di final Liga Champion dini hari tadi, Liverpool sebenarnya sudah beberapa kali menghadapi tim yang menjalankan strategi yang mirip dengan pasukan Carlo Ancelotti itu. Baik di liga Premier maupun di liga Champion. Sebutlah betapa sulitnya Liverpool membongkar pertahanan Villareal di leg kedua, atau Benfica di leg pertama.
Kesulitan menghadapi counter attack yang cepat juga bisa dilihat pada pertandingan melawan mereka, di samping melawan Tottenham Hotspur atau Chelsea di liga Inggris, atau di Piala FA.
Baca Juga: Hadits Arba'in Nawawi: Calon Penghuni Surga
Ucapan Klopp tersebut seolah anti tesis dari apa yang ia katakan dalam jumpa wartawan menjelang pertandingan final Liga Champion, di mana saat ditanya mengenai perubahan taktik atau susunan pemain untuk menghadapi Real Madrid, pelatih yang sudah tidak lagi berkacamata itu mengatakan dirinya akan tetap menjalankan taktik yang sudah biasa dijalankan.
Menurutnya, membuat perubahan mendadak saat akan menghadapi pertandingan bisa menyulitkan para pemain. Dengan keyakinan yang dilontarkan setelah kalah, ada isyarat bahwa Klopp akan menerapkan sebuah strategi baru bagi Si Merah di musim mendatang.
Dengan begitu, Liverpool yang saat ini tampil mendominasi pertandingan namun gagal mendapatkan gelar Liga Inggris dan juara Liga Champion ini bisa jadi akan berubah cara bermain mereka di musim 2022-2023 nanti.
Keunggulan Liverpool di sayap kanan dan kiri sudah tidak perlu diragukan. Masuknya Luis Diaz yang masih muda dan punya kecepatan tinggi membuat Sadio Mane bisa menggeser peran Firmino sebagai penyerang lubang atau false 9 yang penampilannya agak menurun. Kecepatan dan ketepatan umpan Trent Alexander-Arnold pun sudah jadi jaminan akan penguasaan bola dari Liverpool.
Baca Juga: Menjadi Bapak Rumah Tangga, Modifikasi Nasi Sisa, dan Salah Ambil Daging Giling
Yang masih dianggap kurang justru terobosan-terobosan dari tengah. Bisa jadi peran yang diharapkan muncul dari seorang Naby Keita, setelah cedera panjangnya Oxlade Chamberlain, belum bisa dijawab. Begitu pula dengan hadirnya Thiago Alcantara yang muncul masih sebagai pengumpan dan belum terlihat agresif hingga ke kotak 16.
Barangkali, itulah mengapa Klopp menaruh kepercayaan lebih kepada Curtis Jones dan Harvey Elliot, sehingga, terutama Curtis Jones, lebih sering dimainkan. Namun, masuknya Fabio Carvalho dari Fulham di musim depan, bisa membuat lini tengah Liverpool lebih agresif.
Artikel Terkait
Menjadi Bapak Rumah Tangga, Modifikasi Nasi Sisa, dan Salah Ambil Daging Giling