TINEMU.COM - Program Muhibah Budaya Jalur Rempah memasuki hari ketiga pelayaran pada 3 Juni 2022. Sejak berlayar dari Surabaya pada 1 Juni 2022, peserta Laskar Rempah mendapat pembekalan tentang cara bertahan di laut.
Pembekalan kepada Laskar Rempah berupa peran penyelamatan kapal, peninggalan kapal, pengenalan peta, navigasi, alat kesehatan, serta pengenalan jaga di laut.
Direktur Pengembangan dan Pemanfaatan Kebudayaan, Direktorat Jenderal Kebudayaan, Kemendikbudristek, Restu Gunawan, yang turut mendampingi Laskar Rempah di atas kapal menjelaskan, sebelum mengenal teknologi navigasi, tanda-tanda alam adalah pedoman berlayar bagi pelaut pelaut di Nusantara. Salah satunya yang digunakan oleh pelaut Bugis.
Baca Juga: Desa Wisata Klipoh, Saksi Sejarah Perkembangan Gerabah di Jawa Tengah
“Orang Bugis-Makassar telah mengekspresikan budaya dan kearifan lokal dalam naskah-naskah kuno yang ditulis dengan aksara yang disebut Lontaraq,” ujar Restu saat berlayar mendampingi Laskar Rempah di Kapal Republik Indonesia/KRI Dewaruci, pada Jumat, 3 Juni 2022.
Restu mengatakan, naskah kuno ini menjadi sebuah sumber informasi sosial budaya. Di dalam naskah tersebut termuat beraneka ragam peristiwa dan tokoh sejarah, di samping adanya peristiwa kemajuan masyarakat.
“Naskah ini menyediakan bahan penggambaran untuk melihat situasi dan kondisi yang terjadi pada era sekarang, dengan memahami kronologi yang terjadi pada masa lampau,” ujar Restu.
Baca Juga: Review Film Father Stu: Tidak Ada Keajaiban, Yang Ada Kesadaran
Salah satu naskah kuno tentang pengetahuan tradisional masyarakat Bugis yang berhubungan dengan pelayaran adalah naskah 'Lontaraq Atoreng Toriolo'. Salah satu isi dari naskah tersebut, adalah Hukum Laut Amanna Gappa, catatan tentang navigasi, dan pengetahuan tentang meteorologi dan tanda-tanda alam.
Terkait materi navigasi, Komandan KRI Dewaruci, Mayor Laut (P) Sugeng Hariyanto, M. Tr. Ospla menjelaskan sebagai personel yang on board, para Laskar Rempah harus tahu paling tidak posisi saat ini ada di mana.
“Kemudian sekarang arahnya menuju ke mana, intinya, mereka harus tahu bagaimana menentukan posisi kita saat ini,” tutur Mayor Sugeng.
Baca Juga: Sinopsis Film Father Stu (2022): Bagaimanapun Kondisi Hidup Kita, Tuhan Selalu Ada
Pada masa lampau, lanjut Mayor Sugeng, para pelaut bernavigasi menggunakan alat-alat yang konvensional, misalnya tanda-tanda di darat untuk menentukan posisi.
Para pelaut mengandalkan gunung, daratan, tanjung, serta suar sehingga muncul koordinat posisi. “Dari situlah kita input ke dalam peta,” ujar Sugeng.
Artikel Terkait
Surabaya Jadi Titik Awal Muhibah Budaya Jalur Rempah 2022
Muhibah Budaya Jalur Rempah 2022 Resmi Berlayar
KRI Dewaruci Akan Berlayar Selama 32 Hari Menyusuri Jalur Rempah Nusantara