Laskar Rempah Mengenal Cengkih sebagai Tanaman Budidaya dan Budaya

photo author
Setiyo Bardono, Tinemu
- Jumat, 17 Juni 2022 | 08:26 WIB
Laskar Rempah mengenal cengkih sebagai tanaman budidaya dan budaya. (kemdikbud.go.id)
Laskar Rempah mengenal cengkih sebagai tanaman budidaya dan budaya. (kemdikbud.go.id)

TINEMU.COM - Ternate dan Tidore menjadi salah satu titik penting dalam Muhibah Budaya Jalur Rempah 2022. Salah satu rempah yang sampai hari ini menjadi primadona adalah cengkih yang merupakan tanaman endemik Maluku Utara.

Berbagai penelitian, studi dan catatan sejarah menjelaskan pengaruh rempah-rempah, salah satunya cengkih, dalam membentuk peradaban dunia.

Zainuddin Muhammad Arie, sejarawan dan budayawan Ternate, mengatakan bahwa pada masa lalu, cengkih digunakan sebagai obat.

Baca Juga: Kabar Gembira! Tunjangan Insentif Bagi Guru Madrasah Bukan PNS Cair Juni 2022

“Daun cengkih itu dulu obat herbal yang cukup ampuh bagi orang-orang Maluku yang saat ini sudah dilupakan. Jadi, daun cengkih diambil dan dijadikan obat sehingga ada kemungkinan besar orang-orang Maluku mempertahankan dan melestarikannya karena dia menjadi obat yang sangat baik bagi masyarakat setempat pada saat itu,” jelasnya di Ternate pada Kamis, 16 Juni 2022.

Zainuddin menjabarkan tentang cengkih yang menjadi filosofi hidup masyarakat Maluku Utara, khususnya Ternate. ‘Doka gosora se bualawa. Om doro fo mamote. Foma gogoru, foma dodara’ yang berarti kehidupan bermasyarakat layaknya cengkih dan pala yang masak (hidup) dan gugur (mati) bersama-sama.

Kedatangan Laskar Rempah ke Maluku Utara pun dilakukan untuk melihat berbagai jejak kejayaan yang dihasilkan dari perdagangan cengkih masa silam. Pemuda-pemudi terpilih yang berasal dari 34 provinsi berbeda ini diajak mengunjungi beberapa cagar budaya serta perkebunan cengkih dan pala di Desa Tubo, Kota Ternate pada 14 Juni 2022.

Baca Juga: Selesai Ditata, Inilah Wajah Baru Stasiun Pondok Ranji

Di desa ini, peserta berdialog dengan petani cengkih serta berkesempatan untuk memanennya dan mencicipi rempah istimewa tersebut. Di desa yang mayoritas penduduknya berprofesi sebagai petani cengkih, peserta bisa melihat rekatnya masyarakat dengan rempah dan turut melestarikannya dari dulu hingga saat ini.

Tokoh masyarakat Desa Tubo, yakni Haji Ade Safar, menjelaskan bahwa sampai sekarang masih ada sistem adat yang masyarakat jalankan terkait penanaman cengkih.

“Setelah cengkih dan pala panen, ada sistem bagi hasil yang kemudian disedekahkan ke masjid karena masyarakat Tubo percaya bahwa ada bagian dari orang lain dari setiap cengkih yang mereka hasilkan,” ujarnya.

Baca Juga: Hasil SDKI 2022 Jadi Indikator Kinerja BKKBN

Salah satu Laskar Rempah asal Jawa Barat, Amos mengungkapkan pengalamannya yang berharga ini.

“Perjalanan ke Tubo ini menurutku paling berkesan, karena seumur-umur baru kali ini main di kebun cengkih dan pala langsung. Apalagi pengalaman ngunyah cengkih yang segar langsung di kebunnya,” tutupnya.

Halaman:
Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel
di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.

Editor: Setiyo Bardono

Sumber: Kemenag.go.id

Tags

Artikel Terkait

Rekomendasi

Terkini

Aldi Taher dan Konser Dadakan Kembang Tahu

Selasa, 7 April 2026 | 00:02 WIB

Air Keras atau Asam Sulfat

Kamis, 19 Maret 2026 | 18:30 WIB

Berpuasa Ramadan Tanpa Buka Puasa Bersama

Selasa, 17 Maret 2026 | 12:00 WIB

Tanda Bahaya Itu Sudah Sejak Lama Berdentang...

Senin, 9 Februari 2026 | 05:45 WIB

Mengapa Kita Tidak Pernah Berinvestasi di Bidang Seni?

Selasa, 27 Januari 2026 | 06:40 WIB

Kisah Pramugari Gadungan

Minggu, 11 Januari 2026 | 20:43 WIB
X