TINEMU.COM – Siapa sangka dibalik kelezatan rasanya, tengkleng yang kini banyak digemari semua kalangan, makanan itu lahir dari kondisi masyarakat yang serba terbatas dan kekurangan.
Kala itu di masa penjajahan Jepang di mana pasukan Jepang banyak mengambil dan merampas harta benda dan peliharaan rakyat, baik berupa hasil bumi dan binatang ternak.
Sementara hanya para bangsawan dan orang-orang kaya yang mampu makan daging kambing atau sapi olahan. Rakyat yang kekurangan pun mendambakan ingin bisa menikmati makanan daging olahan.
Maka sisa bahan makanan olahan orang kaya berupa tulang belulang yang masih sedikit ditempeli daging, juga jerohan yang tak disentuh oleh para bangsawan itu oleh rakyat kecil dijadikan bahan untuk diolah.
Baca Juga: Sejarah Bakpia Patuk 75. Awalnya Dikemas dalam Besek dan Tanpa Merek (2)
Mengandalkan kreativitas karena keinginan untuk bisa mencicipi daging olahan, mereka mengolah jerohan dan tulang belulang itu dengan aneka bumbu seperti kelapa, jahe, kunyit, serai, daun jeruk segar, lengkuas, kayu manis, daun salam, cengkeh kering, bawang merah, bawang putih, garam, kemiri, pala dan kecap.
Kehidupan yang serba sulit itu membuat masyarakat mau mengolah apa saja agar bisa dijadikan lauk pauk agar perut bisa tetap kenyang dan tidak kelaparan.
Konon menurut kisah tulang belulang berkuah aneka bumbu yang telah masak dan siap santap itu ketika jadi ditaruh di atas piring seng maka menimbulkan bunyi kleng…kleng. Maka sejak itulah masyarakat menamakannya tengkleng!.
Baca Juga: Nothing Ear (Stick), Earphone Modis Berdesain Unik
Awalnya kebiasaan masyarakat memakan lauk olahan dari sisa jerohan dan sisa daging yang menempel pada tulang itu dianggap aneh oleh para bangsawan di kala itu. Mereka menganggap makanan tidak sehat dan identik dengan orang susah.
Seiring waktu dan zaman yang terus berubah, anggapan minor itu pelahan mulai pudar dan hilang. Hari-hari ini kita bisa saksikan di Solo maupun Jogja, juga di tempat-tempat lain telah menjadikan tengkleng sebagai kuliner lezat yang dibanjiri peminat, para wisatawan lokal maupun mancanegara.
Hikmah dari kegigihan menghadapi kegetiran hidup karena penjajahan Jepang, lahirlah kretivitas mengolah bahan-bahan yang seolah tak berharga menjadi menu lezat tiada terkira. Tengkleng!. ***