TINEMU.COM - Pada masa awal diproduksinya dan pemasaran, Bakpia Patuk dikemas menggunakan besek tanpa label. Pada tahun 1948, ada keluarga keturunan Tionghoa lainnya yang tinggal di kawasan Pathuk, bernama Goei Gee Oe, mencoba membuat bakpia sebagai industri rumahan.
Saat itu Bakpia buatannya tidak dijual di toko melainkan dijajakan secara eceran, dari rumah ke rumah. Bakpia buatan Goei Gee Oe itu juga belum dikemas dan diberi label seperti saat ini, melainkan hanya dimasukkan dalam besek (wadah makanan berbentuk kotak yang terbuat dari anyaman bambu).
Era tahun 1970-an, Niti Gurnito yang rumahnya dulu pernah disewa oleh Kwik Sun Kwok, tinggal di kampung Suryowijayan, kawasan Tamansari. Bakpia buatan Niti Gurnito agak berbeda dengan buatan warga Pathuk.
Bakpia Niti Gurnito lapisan kulitnya lebih tebal, berwarna putih dengan bagian tengah menjadi kecoklatan karena dipanggang, sedangkan Bakpia Patuk berkulit tipis dan mudah rontok.
Dengan segera, Bakpia Niti Gurnito menginspirasi warga sekitar Tamansari untuk memproduksi dan membuka toko bakpia. Bahkan, bagi warga asli Yogyakarta, Bakpia Tamansari-lah yang dianggap sebagai bakpia khas Yogyakarta.
Baca Juga: Nothing Ear (Stick), Earphone Modis Berdesain Unik
Namun tampaknya etos dagang sebagian orang Jawa tidak seulet orang Tionghoa pada umumnya yang berada di perantauan. Toko-toko bakpia di daerah Tamansari tidak bertahan lama, banyak toko yang tutup, sehingga industri bakpia di wilayah itu terpuruk dan tak meninggalkan sisa.
Selain itu, salah satu kemungkinan penyebab surut dan kurang berkembangnya sentra bakpia di Tamansari ialah tingkat promosi daerah yang kurang dan jauh dari jangkauan kawasan pariwisata.
Saat ini, bakpia dengan merek "Niti Gurnito" masih dapat dijumpai di Suryowijayan, kawasan Tamansari, dan oleh karenanya lebih dikenal sebagai Bakpia Tamansari.
Kemudian pada dekade tahun 1980-an, pembuatan bakpia di kawasan Pathuk mulai berkembang. Seiring berjalannya waktu, kemasan berubah menjadi menggunakan kertas karton dan diberi label.
Di saat yang sama, ide tersebut diikuti dengan munculnya bakpia-bakpia lain dengan merk dagang yang sama dengan nomor berbeda.
Baca Juga: Karya Unik Sri Hardana Pada Pameran Kalatanda ”Game For You
Pada periode tahun 1990-an, Bakpia Patuk mulai dikenal oleh orang dari luar daerah dan oleh karenanya peminatnya pun semakin meningkat. Hal ini seiring diangkatnya icon Yogyakarta sebagai daerah tujuan wisata. Sejak kunjungan wisata meningkat, warga Pathuk pun mulai belajar untuk membuat bakpia.
Tahun 1992 ialah periode "booming" Bakpia Patuk dan itu berlangsung hingga saat ini.
Artikel Terkait
Sejarah Bakpia Patuk 75, Oleh-Oleh Legendaris dari Jogja (1)