TINEMU.COM - Pada masa lalu, kereta api itu kemewahan. Di majalah Intisari edisi Desember 1974, kita masih bisa berimajinasi kereta api idaman kaum elite di Eropa. Kereta api menghubungkan Paris dan Istanbul dinamakan Orient-Express.
Kutipan mengembalikan ke masa lalu: “Biarpun adakalanya dirampok atau tidak bisa terus karena terhalang salju, kaum elite zaman itu tetap naik Orient-Express dikelilingi oleh kursi empuk, meja indah dan sendok garpu perak.” Pengisahan berlatar akhir abad XIX dan awal abad XX. Kereta itu teringat melalui novel dan film, tak sekadar berita atau artikel.
Pada masa berbeda, orang Indonesia mengisahkan pengalaman naik kereta api, bukan jenis mewah. Ia menulis di Tempo, 16 Januari 2022: “Berpuluh tahun lamanya generasi saya dibesarkan dengan kereta api. ‘Tut, tut, tut’ yang dinyanyikan anak-anak dengan irama ‘naik delman di hari minggu’.
Baca Juga: Tim Yacaranda UGM Juara Umum Kompetisi Mobil Listrik Indonesia
Lanjutnya, "Berpuluh tahun lamanya kami kenal kereta api sebagai wadah yang penuh sesak penumpang, para penjual rokok dan telur asin. Sekitar 45% pembeli karcis tak dapat kursi-gerah, panas, pengap. Dalam perjalanan jauh, tidur di kereta api adalah berbaring di lantai wagon yang tak pernah dipel.
Masih, dalam tulisannya, "Tak jarang penumpang yang gigih atau putus asa menerobos naik melalui jendela toilet dan bau kencing.” Pemilik pengalaman dengan segala hal jauh dari mewah itu bernama Goenawan Mohamad.
Ia mungkin tak pernah mengetahui penggubah lagu mengenai kereta api. Lagu itu berjudul “Kereta Apiku” digubah Ibu Sud pada 1934. Lagu lama, lagu merekam zaman. Kita berharap saja suatu saat institusi pemerintah memberi penghargaan kepada Ibu Sud.
Baca Juga: Tak Bisa Dibayangkan Kelezatan Masakan Jawa Kuno
Lagu itu turut dalam pengasuhan dan pembentukan imajinasi jutaan anak di seantero Indonesia. Mereka bersenandung meski tak dipastikan bakal memiliki pengalaman naik kereta api.
Pengalaman disampaikan Goenawan Mohamad disajikan untuk mengawali tanggapan zaman: “Kereta api bukan disiapkan untuk kekacauan seperti itu. Tapi ia berubah, karena dunia di luar berubah: demokrasi, ekonomi, politik, dan ketidakpastian di sepanjang jalan.”
Ia agak menggugat kereta api abad XXI di Indonesia, belum memastikan memberi keselamatan dan kebahagiaan. Ia justru mengingat kereta api dari abad XIX melalui teks sastra gubahan peranakan Tionghoa: Tan Ten Kie.
Baca Juga: Rajamangsa, Makanan Kaum Elit Jawa Zaman Dulu
Kita mengajukan acuan berbeda: novel berbahasa Jawa. Novel itu berjudul Kirti Njunjung Drajat (1924) gubahan Jasawidagda. Pembuka cerita: kaum priyayi naik kereta api tapi belum mengerti aturan-aturan dibuat oleh perusahaan dan instruksi pemerintah kolonial. Para priyayi angkuh duduk di kereta api, merendahkan kaum jelata.
Masih di pembuka Novel Kirti Njunjung Drajat, lanjutannya: Mereka tak sadar bakal dijinakkan oleh peraturan-peraturan berpijak diskriminasi kolonial. Bumiputera bukan penumpang terpenting atau pilihan. Kereta api menerapkan perbedaan derajat penumpang, mengistimewakan penumpang berkebangsaan Eropa.
Artikel Terkait
1926: Tokoh dan Bahasa
Beras di Indonesia Zaman Dulu, Beda dengan Sekarang
Rajamangsa, Makanan Kaum Elit Jawa Zaman Dulu
Tak Bisa Dibayangkan Kelezatan Masakan Jawa Kuno