Rara Oyi, Perempuan yang Harus Mati Karena Kecantikannya

photo author
Dedy Tri Riyadi, Tinemu
- Jumat, 8 Desember 2023 | 23:20 WIB
Ilustrasi Kecantikan Perempuan Jawa (Playground AI)
Ilustrasi Kecantikan Perempuan Jawa (Playground AI)

TINEMU.COM - Rara Oyi, adalah nama dari seorang perempuan asal Kali Mas, Surabaya yang terkenal karena kecantikannya.

Rara Oyi yang cantik 'ditemukan' oleh Nayatruna dan Yudhakarti, dua orang utusan Amangkurat I dari Mataram.

Kecantikan Rara Oyi, yang saat itu berumur 11 tahun, membuat Nayatruna dan Yudhakarti merasa bahwa dialah kandidat yang paling tepat untuk dijadikan ratu Mataram.

Amangkurat I, raja Mataram saat itu, tengah berduka setelah mangkatnya sang permaisuri, Kanjeng Ratu Malang. Karena itulah ia memerintahkan orang-orangnya untuk mencari permaisuri baru.

Baca Juga: “Kecerdasan Artifisial” Jadi Kata Tahun Ini Versi Badan Bahasa

Kepada Demang Mangunjaya, ayah Rara Oyi, para utusan Amangkurat I meminta agar gadis cantik itu bisa dibawa ke Mataram.

Merasa seperti mendapatkan durian runtuh bahwa anaknya akan dipersunting seorang raja, maka Rara Oyi pun direlakan pergi.

Amangkurat I terpesona dengan kecantikan Rara Oyi. Namun karena usianya masih 11 tahun, Rara Oyi dititipkan kepada salah seorang mantri yang bernama Ngabei Wirareja untuk diasuh.

Dalam masa pengasuhan tersebut, Rara Oyi tak sengaja bertemu dengan Adipati Anom yang merupakan putra dari Amangkurat I. 

Baca Juga: Ternyata Ada Beberapa Pangeran Puger dalam Sejarah Keraton Jawa

Sejak pandangan pertama, Adipati Anom jatuh cinta pada Rara Oyi.

Meski pada akhirnya mengetahui bahwa Rara Oyi adalah calon permaisuri ayahnya, Adipati Anom tetap tidak bisa memungkiri perasaannya.

Adipati Anom bahkan sempat jatuh sakit karena menanggung cinta yang begitu besar pada Rara Oyi.

Pewaris takhta Mataram itu meminta bantuan dari pamannya, Pangeran Purbaya, agar bisa menikahi Rara Oyi.

Karena kasihan kepada keponakannya, Pangeran Purbaya lalu meminta Rara Oyi kepada Ngabei Wirareja dengan imbalan sejumlah uang yang cukup besar.

Halaman:
Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel
di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.

Editor: Dedy Tri Riyadi

Tags

Artikel Terkait

Rekomendasi

Terkini

Malioboro, Tempat Rindu Berjalan Pelan

Senin, 13 April 2026 | 16:22 WIB

Kolom Buku Belum Berlalu: Tak Ada Keraguan

Jumat, 27 Maret 2026 | 07:05 WIB

Ermy Kullit, All That Jazz!

Jumat, 27 Maret 2026 | 02:33 WIB

Kolom Buku Belum Berlalu: Gudang Garam dan Buku

Kamis, 26 Maret 2026 | 17:39 WIB

Kolom Buku Belum Berlalu: Kota dan Pembaca

Kamis, 26 Maret 2026 | 16:17 WIB

Kolom Buku Belum Berlalu: Menjual Lima Buku

Sabtu, 21 Maret 2026 | 19:10 WIB

Kolom Buku Belum Berlalu: Bacaan Bertambah

Sabtu, 21 Maret 2026 | 17:27 WIB

Kolom Buku Belum Berlalu: Mewariskan Tulisan

Jumat, 20 Maret 2026 | 12:16 WIB

Kolom Buku Belum Berlalu: Jari dan Anak

Jumat, 20 Maret 2026 | 09:51 WIB

Kolom Buku Belum Berlalu: Jawa Dibukukan

Kamis, 19 Maret 2026 | 17:48 WIB

Perang Dagang di Nusantara pada Masa Lalu

Kamis, 12 Maret 2026 | 10:52 WIB

Kolom Buku Belum Berlalu: Radikal di Masa Kolonial

Selasa, 10 Maret 2026 | 16:18 WIB

Kolom Buku Belum Berlalu: Lima Halaman

Jumat, 6 Maret 2026 | 13:03 WIB

Kolom Buku Belum Berlalu: Tulisan dan Tua

Rabu, 25 Februari 2026 | 14:07 WIB

Kolom Buku Belum Berlalu: Buku Sesuai Kurikulum

Rabu, 25 Februari 2026 | 12:53 WIB

Kolom Buku Belum Berlalu: Puisi dan Penerbit

Rabu, 25 Februari 2026 | 11:29 WIB

Kolom Buku Belum Berlalu: Pertama dan Lengkap

Rabu, 25 Februari 2026 | 10:15 WIB
X