TINEMU.COM - Rara Oyi, adalah nama dari seorang perempuan asal Kali Mas, Surabaya yang terkenal karena kecantikannya.
Rara Oyi yang cantik 'ditemukan' oleh Nayatruna dan Yudhakarti, dua orang utusan Amangkurat I dari Mataram.
Kecantikan Rara Oyi, yang saat itu berumur 11 tahun, membuat Nayatruna dan Yudhakarti merasa bahwa dialah kandidat yang paling tepat untuk dijadikan ratu Mataram.
Amangkurat I, raja Mataram saat itu, tengah berduka setelah mangkatnya sang permaisuri, Kanjeng Ratu Malang. Karena itulah ia memerintahkan orang-orangnya untuk mencari permaisuri baru.
Baca Juga: “Kecerdasan Artifisial” Jadi Kata Tahun Ini Versi Badan Bahasa
Kepada Demang Mangunjaya, ayah Rara Oyi, para utusan Amangkurat I meminta agar gadis cantik itu bisa dibawa ke Mataram.
Merasa seperti mendapatkan durian runtuh bahwa anaknya akan dipersunting seorang raja, maka Rara Oyi pun direlakan pergi.
Amangkurat I terpesona dengan kecantikan Rara Oyi. Namun karena usianya masih 11 tahun, Rara Oyi dititipkan kepada salah seorang mantri yang bernama Ngabei Wirareja untuk diasuh.
Dalam masa pengasuhan tersebut, Rara Oyi tak sengaja bertemu dengan Adipati Anom yang merupakan putra dari Amangkurat I.
Baca Juga: Ternyata Ada Beberapa Pangeran Puger dalam Sejarah Keraton Jawa
Sejak pandangan pertama, Adipati Anom jatuh cinta pada Rara Oyi.
Meski pada akhirnya mengetahui bahwa Rara Oyi adalah calon permaisuri ayahnya, Adipati Anom tetap tidak bisa memungkiri perasaannya.
Adipati Anom bahkan sempat jatuh sakit karena menanggung cinta yang begitu besar pada Rara Oyi.
Pewaris takhta Mataram itu meminta bantuan dari pamannya, Pangeran Purbaya, agar bisa menikahi Rara Oyi.
Karena kasihan kepada keponakannya, Pangeran Purbaya lalu meminta Rara Oyi kepada Ngabei Wirareja dengan imbalan sejumlah uang yang cukup besar.
Artikel Terkait
Celupkan Jari Ke Tinta Ungu Saat Pemilu, Berawal di India Pada 1962
Lagu Deep Purple “Smoke On the Water” Terinspirasi dari Peristiwa Kebakaran Sungguhan
Phil Collins di luar Genesis dan Solo Karir
Ternyata Ada Beberapa Pangeran Puger dalam Sejarah Keraton Jawa