TINEMU.COM - Masa lalu memiliki tokoh-tokoh berani dan “keras kepala”. Nama teringat berlatar pers, demokrasi, dan sastra: Mochtar Lubis.
Pada masa kekuasaan Soekarno, ia berani ajukan tulisan dan omongan untuk suguhkan kritik. Keberanian diganjar pemenjaraan. Kerja pers di Indonesia Raya pun jadi pertaruhan.
Ia tetap melawan dan memberi kritik. Indonesia ditulis melalui novel-novel mendapat pujian: Jalan Tak Ada Ujung, Senja di Jakarta, Tak Ada Esok, Tanah Gersang, dan lain-lain.
Ia sadar novel bukan “bedil” atau “bom”. Ia mengerti tulisan-tulisan jurnalistik mungkin menggelitik, bukan lekas menjadi palu.
Mochtar Lubis tetap menulis Indonesia, tak gentar menghadapi elite-elite politik dianggap menodai Indonesia.
Baca Juga: Setiap Orang Ingin Bahagia. Apa Sih Definisi Kebahagiaan Itu?
Mochtar Lubis memiliki musuh-musuh. Ia pun dimusuhi penguasa dan pihak-pihak merasa dipermalukan dalam kancah politik dan bisnis.
Mochtar Lubis lumrah diberi “hadiah” dengan menghuni penjara atau berpredikat tahanan rumah. Mochtar Lubis tetap menulis dan menggerakkan ide-ide.
Kita membuka buku Mochtar Lubis berjudul Catatan Subversif (1980). Buku mendokumentasi pengalaman mendapat hukuman.
Ia menulis sejenis jurnal harian berharap masih turut dalam gejolak-gejolak sejarah Indonesia.
Pada 3 Januari 1957, ia membuat tulisan berkaitan penahanan dan sikap kawan-kawan. Ia membuat salinan berita dan menaruh diri sebagai tokoh.
Baca Juga: Jaga Ruang Digital, Kominfo Tangani 203 Isu Hoaks Pemilu 2024
Catatan bersumber sikap dan tuntutan dari Delegasii Peristiwa Mochtar Lubis: “Penahanan Mochtar Lubis hanya berdasar sentimen dan merupakan penggunaan kekuasaan yang sewenang-wenang; Pemerintah secara tidak langsung menghendaki adanya pers di Indonesia yang merupakan suara sepihak (suara yang berkuasa); Pemerintah sekarang secara tidak langsung membekukan UUDS RI Pasal 19 dengan tidak mengindahkan keuntungan dan kerugian atas tindakan terhadap Mochtar Lubis bagi keadilan dan peradaban UUD Negara RI.”
Para pembela Mochtar Lubis terus bergerak dan bersuara. Di penjara, Mochtar Lubis enggan kapok, Ia pantang putus asa bersuara demokrasi, hak asasi manusia, keadilan, dan lain-lain. Penjara bukan akhir.
Baca Juga: Sekilas Elvis Presley, Anak Mississippi yang Dulu Penyendiri
Artikel Terkait
Konon Jazz Berasal dari Jazm Berarti Energi, Semangat, Gairah!
Awalnya Cincin Dibuat dari Batu, Tulang, Tanduk, Kulit Juga Kayu
Racer X: Rekam Jejak Gilbert di Kancah Speed Metal
Sekilas Elvis Presley, Anak Mississippi yang Dulu Penyendiri