4 Januari 1966: Mochtar Lubis dan Indonesia

photo author
Bandung Mawardi, Tinemu
- Kamis, 4 Januari 2024 | 08:18 WIB
Mochtar Lubis (Tinemu)
Mochtar Lubis (Tinemu)

TINEMU.COM - Masa lalu memiliki tokoh-tokoh berani dan “keras kepala”. Nama teringat berlatar pers, demokrasi, dan sastra: Mochtar Lubis.

Pada masa kekuasaan Soekarno, ia berani ajukan tulisan dan omongan untuk suguhkan kritik. Keberanian diganjar pemenjaraan. Kerja pers di Indonesia Raya pun jadi pertaruhan.

Ia tetap melawan dan memberi kritik. Indonesia ditulis melalui novel-novel mendapat pujian: Jalan Tak Ada Ujung, Senja di Jakarta, Tak Ada Esok, Tanah Gersang, dan lain-lain.

Ia sadar novel bukan “bedil” atau “bom”. Ia mengerti tulisan-tulisan jurnalistik mungkin menggelitik, bukan lekas menjadi palu.

Mochtar Lubis tetap menulis Indonesia, tak gentar menghadapi elite-elite politik dianggap menodai Indonesia.

Baca Juga: Setiap Orang Ingin Bahagia. Apa Sih Definisi Kebahagiaan Itu?

Mochtar Lubis memiliki musuh-musuh. Ia pun dimusuhi penguasa dan pihak-pihak merasa dipermalukan dalam kancah politik dan bisnis.

Mochtar Lubis lumrah diberi “hadiah” dengan menghuni penjara atau berpredikat tahanan rumah. Mochtar Lubis tetap menulis dan menggerakkan ide-ide.

Kita membuka buku Mochtar Lubis berjudul Catatan Subversif (1980). Buku mendokumentasi pengalaman mendapat hukuman.

Ia menulis sejenis jurnal harian berharap masih turut dalam gejolak-gejolak sejarah Indonesia.

Pada 3 Januari 1957, ia membuat tulisan berkaitan penahanan dan sikap kawan-kawan. Ia membuat salinan berita dan menaruh diri sebagai tokoh.

Baca Juga: Jaga Ruang Digital, Kominfo Tangani 203 Isu Hoaks Pemilu 2024

Catatan bersumber sikap dan tuntutan dari Delegasii Peristiwa Mochtar Lubis: “Penahanan Mochtar Lubis hanya berdasar sentimen dan merupakan penggunaan kekuasaan yang sewenang-wenang; Pemerintah secara tidak langsung menghendaki adanya pers di Indonesia yang merupakan suara sepihak (suara yang berkuasa); Pemerintah sekarang secara tidak langsung membekukan UUDS RI Pasal 19 dengan tidak mengindahkan keuntungan dan kerugian atas tindakan terhadap Mochtar Lubis bagi keadilan dan peradaban UUD Negara RI.”

Para pembela Mochtar Lubis terus bergerak dan bersuara. Di penjara, Mochtar Lubis enggan kapok, Ia pantang putus asa bersuara demokrasi, hak asasi manusia, keadilan, dan lain-lain. Penjara bukan akhir.

Baca Juga: Sekilas Elvis Presley, Anak Mississippi yang Dulu Penyendiri

Halaman:
Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel
di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizinĀ redaksi.

Editor: Dedy Tri Riyadi

Tags

Artikel Terkait

Rekomendasi

Terkini

Malioboro, Tempat Rindu Berjalan Pelan

Senin, 13 April 2026 | 16:22 WIB

Kolom Buku Belum Berlalu: Tak Ada Keraguan

Jumat, 27 Maret 2026 | 07:05 WIB

Ermy Kullit, All That Jazz!

Jumat, 27 Maret 2026 | 02:33 WIB

Kolom Buku Belum Berlalu: Gudang Garam dan Buku

Kamis, 26 Maret 2026 | 17:39 WIB

Kolom Buku Belum Berlalu: Kota dan Pembaca

Kamis, 26 Maret 2026 | 16:17 WIB

Kolom Buku Belum Berlalu: Menjual Lima Buku

Sabtu, 21 Maret 2026 | 19:10 WIB

Kolom Buku Belum Berlalu: Bacaan Bertambah

Sabtu, 21 Maret 2026 | 17:27 WIB

Kolom Buku Belum Berlalu: Mewariskan Tulisan

Jumat, 20 Maret 2026 | 12:16 WIB

Kolom Buku Belum Berlalu: Jari dan Anak

Jumat, 20 Maret 2026 | 09:51 WIB

Kolom Buku Belum Berlalu: Jawa Dibukukan

Kamis, 19 Maret 2026 | 17:48 WIB

Perang Dagang di Nusantara pada Masa Lalu

Kamis, 12 Maret 2026 | 10:52 WIB

Kolom Buku Belum Berlalu: Radikal di Masa Kolonial

Selasa, 10 Maret 2026 | 16:18 WIB

Kolom Buku Belum Berlalu: Lima Halaman

Jumat, 6 Maret 2026 | 13:03 WIB

Kolom Buku Belum Berlalu: Tulisan dan Tua

Rabu, 25 Februari 2026 | 14:07 WIB

Kolom Buku Belum Berlalu: Buku Sesuai Kurikulum

Rabu, 25 Februari 2026 | 12:53 WIB

Kolom Buku Belum Berlalu: Puisi dan Penerbit

Rabu, 25 Februari 2026 | 11:29 WIB

Kolom Buku Belum Berlalu: Pertama dan Lengkap

Rabu, 25 Februari 2026 | 10:15 WIB
X