TINEMU.COM - Pembaca buku-buku sastra di Indonesia dipastikan ingat novel penting dari masa lalu: Pada Sebuah Kapal.
Dulu, ada sederet pengarang menghadirkan suara-suara perempuan: Selasih, Rukiah, Suwarsih Djojopuspito, dan lain-lain. Mereka muncul dan berpengaruh, sebelum ketenaran Leila S Chudori, Oka Rusmini, Ayu Utami, Laksmi Pamuntjak, dan lain-lain.
Novel lama berjudul Pada Sebuah Kapal mengingatkan kita dengan pengarang memberi warisan besar dalam sastra Indonesia: Nh Dini.
Para pembaca mungkin mengingat novel itu diterbitkan Gramedia bersama buku-buku lain.
Kita sedikit bermasalah saat mengaitkan novel dan penerbit. Penerbitan seri buku Nh Dini oleh Gramedia cukup mencipta ingatan “resmi” meski kita wajib mengetahui sebelum kemunculan edisi Gramedia.
Baca Juga: Ben Affleck dan Matt Damon Kembali Berkolaborasi
Masa lalu buku itu diceritakan HB Jassin dalam surat untuk Nh Dini: 26 Januari 1971. Kita mengutip episode sebelum terbit sebagai buku legendaris: “Sayang sekali ‘Pada Sebuah Kapal’ belum jadi dikirim ke Gunung Agung. Tapi memang mereka sedang kekurangan uang. Biar dikirim pun belum tentu segera terbit. Kalau Dini kirim ke Djambatan, saya kira mereka punya minat, tapi mereka juga tidak bisa beri uang muka.”
Pada masa 1970-an, novel itu kesusahan mendapatkan penerbit. Situasi sastra bergairah tapi nasib penerbit-penerbit sedang tak untung.
Kita masih bisa mengenang melalui kalimat-kalimat HB Jassin: “Penerbit-penerbit di Indonesia semua berada dalam keadaan lumpuh atau setengah lumpuh. Namun ada tendensi perbaikan dalam keadaan ekonomi belakangan ini. Laju inflansi sudah terkendali sehingga orang tidak berkejar-kejaran lagi dengan harga-harga yang membumbung.”
Baca Juga: Dilan Wo Ai Ni 1983 Segera Diproduksi
Di album sastra Indonesia, dua nama penerbit disebutkan HB Jassin terbukti ikut menentukan kemunculan pengarang dan buku-buku penting.
Pada suatu masa, Gunung Agung dan Djambatan menerbitkan buku-buku sastra tercatat berpengaruh.
Pada masa awal 1970-an, kesedihan milik sastra di Indonesia. Sedih itu novel. HB Jassin mengabarkan sedikit novel bisa terbit.
Nasib penerbit menjadi masalah besar. Kemampuan publik untuk membeli buku pun turun. HB Jassin terus mengamati sastra dan membuat dokumentasi.
Ia mengomentari tiga novel berhasil terbit pada masa sulit: Senja di Jakarta (Mochtar Lubis), Royan Revolusi (Ramadhan KH), dan Grotta Azzura (Sutan Takdir Alisjahbana).
Artikel Terkait
Cerbung : Pahlawan Padang Gurun (320)
Review Buku: You Are A Badass karya Jen Sincero, Bukan Sekadar Buku Motivasi
Sinchiavaganza: Estetika Peranakan Bernarasi Cerlang!
Harapan Menyingkirkan Halang Rintang