Teringat “Orang Politik”

photo author
Bandung Mawardi, Tinemu
- Jumat, 9 Februari 2024 | 14:14 WIB
Buku Ilmu Politik kar. Soedjono (Koleksi Pribadi Bandung Mawardi)
Buku Ilmu Politik kar. Soedjono (Koleksi Pribadi Bandung Mawardi)

TINEMU.COM - Hari-hari menjelang coblosan (14 Februari 2024), orang-orang “melek politik”. Mereka tak ingin “mata-terpejam” atau “tidur” dari politik.

Masalah-masalah politik berhak diributkan setiap detik. Omelan dan makian gampang dipicu politik. Pengultusan dan ketololan pun bersumber politik.

Pada masa kekuasaan Soekarno dan Soeharto, “melek politik” itu penting. Kesadaran atas nasib Indonesia diwujudkan melalui “partisipasi” dianggap mendukung revolusi, modernisasi, pembangunan, dan demokrasi.

Dulu, “melek politik” tak boleh sembrono. Penguasa menghendaki orang-orang “melek politik” tapi tertib, patuh, tenang, dan kalem.

Anjuran dan perintah itu tetap tak memusnahkan keinginan orang-orang melawan dan menggugat.

Baca Juga: Merayakan Imlek Di Jabodetabek, Di Mana Saja Tempatnya?

Dulu, “melek politik” mengisahkan kaum terpelajar awal abad XX. Mereka terpicu situasi kemodernan dan kolonial.

Tanggapan atau sikap diwujudkan dengan membentuk perkumpulan, menggerakkan ideologi, atau menulis di surat kabar.

Masa lalu dengan pembahasaan politik dipengaruhi agama, identitas, etnisitas, dan lain-lain.

Pada kejadian berbeda, politik diajarkan dalam kursus-kursus. Dulu, para tokoh pergerakan politik biasa mengadakan kursus: membimbing kaum muda dalam mengusahakan kemuliaan Indonesia.

Di pelbagai partai politik atau perkumpulan, penerbitan surat kabar atau risalah ikut membesarkan kesadaran “melek politik”.

Baca Juga: Inilah Makna Tujuh Hidangan Utama di Meja Imlek

Kita mengingat masa 1950-an saat “melek politik” dipentingkan dalam arus revolusi dan peningkatan nalar demokrasi. Pada 1951, terbit buku berjudul Ilmu Politik susunan Soedjono. Buku kecil tapi berkhasiat terbitan Djambatan.

Soedjono mengabarkan: “…. dalam zaman sesudah proklamasi kemerdekaan Republik Indonesia pada tanggal 17 Agustus 1945, terlalu besar minat orang mempeladjari ilmu politik.” Kita tak lagi memikirkan sekadar “melek politik” tapi sudah dalam taraf ilmu politik.

Ia pun mengingatkan tentang sebutan “orang politik” pada masa kolonial. Sebutan menandakan orang berani menanggung risiko saat berani berpolitik.

Halaman:

Artikel Selanjutnya

1971

Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel
di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.

Editor: Dedy Tri Riyadi

Tags

Artikel Terkait

Rekomendasi

Terkini

Malioboro, Tempat Rindu Berjalan Pelan

Senin, 13 April 2026 | 16:22 WIB

Kolom Buku Belum Berlalu: Tak Ada Keraguan

Jumat, 27 Maret 2026 | 07:05 WIB

Ermy Kullit, All That Jazz!

Jumat, 27 Maret 2026 | 02:33 WIB

Kolom Buku Belum Berlalu: Gudang Garam dan Buku

Kamis, 26 Maret 2026 | 17:39 WIB

Kolom Buku Belum Berlalu: Kota dan Pembaca

Kamis, 26 Maret 2026 | 16:17 WIB

Kolom Buku Belum Berlalu: Menjual Lima Buku

Sabtu, 21 Maret 2026 | 19:10 WIB

Kolom Buku Belum Berlalu: Bacaan Bertambah

Sabtu, 21 Maret 2026 | 17:27 WIB

Kolom Buku Belum Berlalu: Mewariskan Tulisan

Jumat, 20 Maret 2026 | 12:16 WIB

Kolom Buku Belum Berlalu: Jari dan Anak

Jumat, 20 Maret 2026 | 09:51 WIB

Kolom Buku Belum Berlalu: Jawa Dibukukan

Kamis, 19 Maret 2026 | 17:48 WIB

Perang Dagang di Nusantara pada Masa Lalu

Kamis, 12 Maret 2026 | 10:52 WIB

Kolom Buku Belum Berlalu: Radikal di Masa Kolonial

Selasa, 10 Maret 2026 | 16:18 WIB

Kolom Buku Belum Berlalu: Lima Halaman

Jumat, 6 Maret 2026 | 13:03 WIB

Kolom Buku Belum Berlalu: Tulisan dan Tua

Rabu, 25 Februari 2026 | 14:07 WIB

Kolom Buku Belum Berlalu: Buku Sesuai Kurikulum

Rabu, 25 Februari 2026 | 12:53 WIB

Kolom Buku Belum Berlalu: Puisi dan Penerbit

Rabu, 25 Februari 2026 | 11:29 WIB

Kolom Buku Belum Berlalu: Pertama dan Lengkap

Rabu, 25 Februari 2026 | 10:15 WIB
X