Penerangan dan Ketimpangan

photo author
Bandung Mawardi, Tinemu
- Jumat, 15 Maret 2024 | 16:22 WIB
Buku Pembangunan Manusia dan Pembangunan Masyarakat (Koleksi Pribadi Bandung Mawardi)
Buku Pembangunan Manusia dan Pembangunan Masyarakat (Koleksi Pribadi Bandung Mawardi)

TINEMU.COM - Bocah-bocah tak lagi memiliki kewajiban mengingat nama-nama kementerian dan departemen.

Mereka tidak diharuskan bisa mengucap nama-nama menteri. Siksa ingatan itu milik bocah-bocah masa Orde Baru.

Konon, pengetahuan kabinet menentukan derajat PMP atau pembuktian setia dengan Indonesia.

Kesulitan dialami jika sering terjadi pergantian menteri. Dulu, ingatan terkuat tentu nama presiden: Soeharto.

Ada sekian nama menteri bertahan lama. Nama wakil presiden pun berganti.

Kejatuhan rezim Orde Baru mengubah cara mengingat nama-nama. Presiden pun menghilangkan kementerian atau mengadakan kementerian baru.

Baca Juga: Stasiun Halim Hadirkan Bazar Hikmah Ramadan, Dapatkan Diskon Hingga 50%

Pada 2024, orang-orang mungkin tak lagi berharapan dimunculkan lagi departemen atau kementerian penerangan.

Pada masa kekuasaan Soekarno dan Soeharto, departemen atau kementerian penerangan memiliki pengaruh besar.

Ingatan terkuat: departemen atau kementerian itu menentukan pers. Ingatan tak luntur, menteri-menteri di situ menentukan selera politik sesuai kemauan penguasa.

Satu nama dikenang berlatar masa Orde Baru: Harmoko.

Kita ingin mengingat nama berbeda: Mashuri. Dulu, ia pernah menjadi menteri penerangan dalam kabinet bermajikan Soeharto.

Baca Juga: Kemenparekraf Gandeng Dus Duk Duk Hadirkan Paviliun Indonesia Berbahan Ramah Lingkungan

Ingatan melalui buku tipis berjudul Pembangunan Manusia dan Pembangunan Masyarakat. Buku diterbitkan Departemen Penerangan RI, 1976.

Buku berasal dari ceramah menteri penerangan dalam Musyawarah Besar Nasional Angkatan 45.

Halaman:

Artikel Selanjutnya

Pembaca Tanah Sunda

Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel
di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizinĀ redaksi.

Editor: Dedy Tri Riyadi

Tags

Artikel Terkait

Rekomendasi

Terkini

Malioboro, Tempat Rindu Berjalan Pelan

Senin, 13 April 2026 | 16:22 WIB

Kolom Buku Belum Berlalu: Tak Ada Keraguan

Jumat, 27 Maret 2026 | 07:05 WIB

Ermy Kullit, All That Jazz!

Jumat, 27 Maret 2026 | 02:33 WIB

Kolom Buku Belum Berlalu: Gudang Garam dan Buku

Kamis, 26 Maret 2026 | 17:39 WIB

Kolom Buku Belum Berlalu: Kota dan Pembaca

Kamis, 26 Maret 2026 | 16:17 WIB

Kolom Buku Belum Berlalu: Menjual Lima Buku

Sabtu, 21 Maret 2026 | 19:10 WIB

Kolom Buku Belum Berlalu: Bacaan Bertambah

Sabtu, 21 Maret 2026 | 17:27 WIB

Kolom Buku Belum Berlalu: Mewariskan Tulisan

Jumat, 20 Maret 2026 | 12:16 WIB

Kolom Buku Belum Berlalu: Jari dan Anak

Jumat, 20 Maret 2026 | 09:51 WIB

Kolom Buku Belum Berlalu: Jawa Dibukukan

Kamis, 19 Maret 2026 | 17:48 WIB

Perang Dagang di Nusantara pada Masa Lalu

Kamis, 12 Maret 2026 | 10:52 WIB

Kolom Buku Belum Berlalu: Radikal di Masa Kolonial

Selasa, 10 Maret 2026 | 16:18 WIB

Kolom Buku Belum Berlalu: Lima Halaman

Jumat, 6 Maret 2026 | 13:03 WIB

Kolom Buku Belum Berlalu: Tulisan dan Tua

Rabu, 25 Februari 2026 | 14:07 WIB

Kolom Buku Belum Berlalu: Buku Sesuai Kurikulum

Rabu, 25 Februari 2026 | 12:53 WIB

Kolom Buku Belum Berlalu: Puisi dan Penerbit

Rabu, 25 Februari 2026 | 11:29 WIB

Kolom Buku Belum Berlalu: Pertama dan Lengkap

Rabu, 25 Februari 2026 | 10:15 WIB
X