Berjalan, Duduk, Berdiri

photo author
Bandung Mawardi, Tinemu
- Senin, 25 Maret 2024 | 14:00 WIB
Buku Tentang Tata Krama (Koleksi Pribadi Bandung Mawardi)
Buku Tentang Tata Krama (Koleksi Pribadi Bandung Mawardi)

TINEMU.COM - Deretan kata dan istilah menjadikan kita sering bingung mengalami hidup bersama di Indonesia: tata krama, sopan santun, budi pekerti, akhlak, dan etika.

Kita tak mudah mengartikan meski sudah membuka ratusan buku atau ikut puluhan seminar.

Keinginan mendapat pengertian-pengertian bisa berantakan saat kita mengetahui beragam lakon hidup.

Di keluarga, sekolah, kantor, dan pelbagai tempat beragam kata dan istilah itu membekali kita dalam membuat penilaian dan penentuan sikap.

Kita tetap saja meragu dengan beragam perbedaan dan selisih makna.

Baca Juga: Kiat Puasa Tetap Fit Sepanjang Hari

Pada 1963-1964, terbit buku berjudul Tata Krama Nasional Indonesia susunan Oetomo. Buku berukuran besar tapi tipis.

Buku itu menandai zaman, tak lupa mengabarkan situasi politik. Buku diterbitkan oleh CV Ganefo, Jogjakarta.

Ganefo itu mengingatkan peristiwa akbar di bawah kekuasaan Soekarno saat berseru bersama negara-negara bermufakat “sehaluan”.

Nama penerbit mencengangkan. Kita justru salah tingkah saat mengetahui perkara sedang diulas oleh penulis: tata krama.

Dulu, tata krama itu rumit. Tata krama memiliki kekhasan lokalitas. Buku itu menghendakti pengecapan nasional.

Baca Juga: Kata dan Politik

Kita mengutip masalah tata krama dalam berjalan: “Orang berdjalan membutuhkan sifat-sifat bersahadja. Artinja djanganlah dengan sikap jang dibuat-buat, djangan ditambah-tambah – dan djangan dikurang-kurangi – dengan wadjar sebagaimana keadaan jang sesungguhnja (aseli).”

Kita berimajinasi cara berjalan mengacu penjelasan dalam buku. Berjalan bukan peristiwa mudah.

Sekian ketentuan agar memenuhi tata krama: “melangkah dengan tetap dan pasti, langsung dan lurus, bidjaksana”.

Halaman:
Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel
di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizinĀ redaksi.

Editor: Dedy Tri Riyadi

Tags

Artikel Terkait

Rekomendasi

Terkini

Malioboro, Tempat Rindu Berjalan Pelan

Senin, 13 April 2026 | 16:22 WIB

Kolom Buku Belum Berlalu: Tak Ada Keraguan

Jumat, 27 Maret 2026 | 07:05 WIB

Ermy Kullit, All That Jazz!

Jumat, 27 Maret 2026 | 02:33 WIB

Kolom Buku Belum Berlalu: Gudang Garam dan Buku

Kamis, 26 Maret 2026 | 17:39 WIB

Kolom Buku Belum Berlalu: Kota dan Pembaca

Kamis, 26 Maret 2026 | 16:17 WIB

Kolom Buku Belum Berlalu: Menjual Lima Buku

Sabtu, 21 Maret 2026 | 19:10 WIB

Kolom Buku Belum Berlalu: Bacaan Bertambah

Sabtu, 21 Maret 2026 | 17:27 WIB

Kolom Buku Belum Berlalu: Mewariskan Tulisan

Jumat, 20 Maret 2026 | 12:16 WIB

Kolom Buku Belum Berlalu: Jari dan Anak

Jumat, 20 Maret 2026 | 09:51 WIB

Kolom Buku Belum Berlalu: Jawa Dibukukan

Kamis, 19 Maret 2026 | 17:48 WIB

Perang Dagang di Nusantara pada Masa Lalu

Kamis, 12 Maret 2026 | 10:52 WIB

Kolom Buku Belum Berlalu: Radikal di Masa Kolonial

Selasa, 10 Maret 2026 | 16:18 WIB

Kolom Buku Belum Berlalu: Lima Halaman

Jumat, 6 Maret 2026 | 13:03 WIB

Kolom Buku Belum Berlalu: Tulisan dan Tua

Rabu, 25 Februari 2026 | 14:07 WIB

Kolom Buku Belum Berlalu: Buku Sesuai Kurikulum

Rabu, 25 Februari 2026 | 12:53 WIB

Kolom Buku Belum Berlalu: Puisi dan Penerbit

Rabu, 25 Februari 2026 | 11:29 WIB

Kolom Buku Belum Berlalu: Pertama dan Lengkap

Rabu, 25 Februari 2026 | 10:15 WIB
X