TINEMU.COM - Deretan kata dan istilah menjadikan kita sering bingung mengalami hidup bersama di Indonesia: tata krama, sopan santun, budi pekerti, akhlak, dan etika.
Kita tak mudah mengartikan meski sudah membuka ratusan buku atau ikut puluhan seminar.
Keinginan mendapat pengertian-pengertian bisa berantakan saat kita mengetahui beragam lakon hidup.
Di keluarga, sekolah, kantor, dan pelbagai tempat beragam kata dan istilah itu membekali kita dalam membuat penilaian dan penentuan sikap.
Kita tetap saja meragu dengan beragam perbedaan dan selisih makna.
Baca Juga: Kiat Puasa Tetap Fit Sepanjang Hari
Pada 1963-1964, terbit buku berjudul Tata Krama Nasional Indonesia susunan Oetomo. Buku berukuran besar tapi tipis.
Buku itu menandai zaman, tak lupa mengabarkan situasi politik. Buku diterbitkan oleh CV Ganefo, Jogjakarta.
Ganefo itu mengingatkan peristiwa akbar di bawah kekuasaan Soekarno saat berseru bersama negara-negara bermufakat “sehaluan”.
Nama penerbit mencengangkan. Kita justru salah tingkah saat mengetahui perkara sedang diulas oleh penulis: tata krama.
Dulu, tata krama itu rumit. Tata krama memiliki kekhasan lokalitas. Buku itu menghendakti pengecapan nasional.
Baca Juga: Kata dan Politik
Kita mengutip masalah tata krama dalam berjalan: “Orang berdjalan membutuhkan sifat-sifat bersahadja. Artinja djanganlah dengan sikap jang dibuat-buat, djangan ditambah-tambah – dan djangan dikurang-kurangi – dengan wadjar sebagaimana keadaan jang sesungguhnja (aseli).”
Kita berimajinasi cara berjalan mengacu penjelasan dalam buku. Berjalan bukan peristiwa mudah.
Sekian ketentuan agar memenuhi tata krama: “melangkah dengan tetap dan pasti, langsung dan lurus, bidjaksana”.
Artikel Terkait
Lou Reed Pernah Meninju David Bowie
Ini Dia Dua Lagu Pink Floyd yang Bikin Personilnya Ribut
Yang Terlupakan dari Bee Gees
Kata dan Politik