Soedjatmoko tampak serius dalam memikirkan dan membuat tulisan-tulisan bertema pembangunan ketimbang Ajip Rosidi.
Kita mengerti ikhtiar Ajip Rosidi condong memasalahkan penbangunan berpijak bahasa, sastra, pendidikan, dan sosial-kultural.
Surat dari Osaka mungkin dibaca Arifin C Noer dengan mengangguk saat merenung.
Di perkembangan teater Indonesia, Arifin C Noer peka dengan persoalan-persoalan modernisasi.
Baca Juga: Jangan Sembarangan Memilih Sepatu Jogging, Intip Dulu Tipsnya!
Ia menulis lakon-lakon dan mementaskan sebagai bentuk protes sosial. Arifin C Noer memang tak perlu menulis makalah atau buku tebal dalam menanggapi modernisasi dan pembangunan di Indonesia.
Surat dari Ajip Rosidi itu mengesankan ia berpikir serius dan lama, sebelum mengolah tema dalam sekian pentas teater.
Surat mengingatkan dua hal penting: Sunda dan Indonesia. Ajip Rosidi memikirkan Sunda dari tempat jauh.
Ia memberi pemikiran tentang Indonesia saat terbiasa menulis surat-surat.
Di Jepang, Ajip Rosidi mendapat suasana mendukung dalam menggarap buku-buku.
Baca Juga: Cerbung : Pahlawan Padang Gurun (309)
Ia tak lupa menulis tentang Jepang. Begitu.**